Komunitas Padhang Makhsyar #113: Politik Adi Luhung Muhammadiyah

0
154
Safari Politik: Partai Amanah Nasional Jawa Timur bersama Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya. (Foto: Ferry)

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Kepada yang menang semoga bisa mengemban amanah sebagai jalan menuju keberkahan dan kelapangan hidup untuk maslahat banyak. Jangan besar kepala dan merendahkan.

Kepada yang kalah semoga menjadi hikmah, jalan bersabar dan jangan berputus asa terhadap rahmat Allah. Masih banyak jalan mengabdi.

Kami Muhammadiyah siap menjadi perekat bagi mereka yang terpisah karena kalah dan menjadi penasehat bagi para penguasa yang memenangi. Tidak ada kalah dan menang. Mari kembali bersama, kepada satu bukhul Islamiyah dan wathaniyah.

*^^*
Memberikan pujian berlebihan kepada yang menang kemudian merendahkan kepada yang kalah bukankah sikap terpuji, para Ulama adalah pewaris para nabi adalah gembala bagi umat atau pengikut. Para ulama ditagih adil dalam bersikap baik kepada yang menang atau kepada yang kalah. Bukan malah larut dalam prilaku euphoria yang lebay. Menjaga lisan dan hati agar tak gampang berucap kata yang menyakikan, sebab ulama adalah pelindung bagi siapapun, tempat berhibur bagi yang kalah dan tempat bernasehat bagi yang kebetulan mendapat amanah kekuasaan.

Kepada Firaun penguasa paling zalim dan takabur pun Musa diperintah Allah berkata lemah dan lembut, bukan dengan kata-kata kasar yang merendahkan.
Bahkan Allah pun mendoakan agar Firaun insaf dan sadar.

Allah berfirman: “Maka pergilah kalian berdua kekada Firaun karena dia benar-benar melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepada Firaun dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar dan takut” (Qs-Thaha:41-42).

*^^*
Tak elok jika seorang ulama membuka lebar pintu rumah kepada Paslon yang di dukung kemudian menutup rapat kepada yang tak disuka. Bahwa kita punya pilihan dan kecederungan .. ya, tapi kita juga ditagih bersikap adil bahkan kepada yang tidak kita dukung. Umat berhak mendapat kan nasehat dan perlakuan yang adil meski tidak kita pilih pada bilik suara. Karena kita sesungguhnya waratsatul anbiya adalah gembala sebagai mana para nabi.

Kurang jelas apa, firman Allah diatas, tak ada hak bagi kita untuk menghakimi semua keputusan Allah, semua telah berikhitiar dan Allah azza wa jalalla sudah menetapkan, kewajiban kita sebagai hamba hanya bertawakkal menerima semua nya. Kewajiban kita berkata santun dan lembut kepada siapapun bahkan kepada musuh politik yang tidak kita sukai sekalipun …
Wallahu a’lam

 


*Penggagum Persyarikatan Muhammadiyah dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here