Komunitas Padhang Makhyar #325: Remuk Karena Identitas

0
172
Ilustrasi diambil dari Klikberita

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Orang Wahabi begini–orang Salafi begitu–orang NU begini orang MUHAMADIYAH begitu–orang Jawa begitu, orang Aceh begini–dalam filsafat Adorno itu disebut pemikiran identitas.

^^^
Akhir-akhir ini orang berdebat dengan menyebut “orang Aceh begini”, “orang Jawa begitu”, “orang Sunda anu”… itu disebut “pemikiran identitas”. Dalam bahasa Melayu “merampat papan”, bahasa Jawa “nggebyah uyah”. Malas berfikir dengan akibat “meleset betfikir”

Puasa Ramadhan tak cukup mampu untuk meredam konflik sesama umat Islam. Bahkan ada jamaah masjid berebut menjadi Imam shalat dan kekuasaan di masjid. Masjid pun tak luput dari konflik politik dan teriak suara keras jamaah. Ironis memang.

Politik identitas bukan hanya soal berebut kekuasaan dan kursi di parlemen. Tapi juga telah masuk wilayah paling privasi: masjid. Politisasi masjid akan masuk babak baru. Berpolitik dengan teman satu shaf. Mungkin itu yang harus dibayar mahal. Sebagai implikasi politik identitas. Jamaah masjid pun ter kapling-kapling atas dasar identitas.

^^
Identitas telah meremukkan umat Islam. Sebab identitas tak hanya monopoli politik–tapi juga masuk dalam ranah ibadah. Fiqh identitas juga telah membelah umat Islam menjadi pecahan kecil-kecil tapi fanatik … di bulan ramadhan ini mungkin doa saya bakal panjang dan rumit ..

Termasuk memilih Prabowo tapi mendoakan kemenangan untuk Jokowi. Sebab saya melihat perpecahan umat Islam akan kian merusak ketika Prabowo disokong oleh politik identitas memenangi Pilpres. Konsep dan narasi politik yang diusung bagi saya cukup alasan untuk tidak menginginkan Prabowo menang meski saya memilihnya.

Bagi sebagian orang–Politik identitas yang diusung koalisi Prabowo sangat mencemaskan tak urung SBY harus balik kucing dan kembali ke habitatnya setelah beberapa saat tersandera. Pilihan koalisi yang salah dan harus dibayar mahal. Meski hal yang sama juga dialami Gerindra yang sebelumnya sempat diprediksi memenangi pileg malah stag di urut dua–kalah jauh dibanding PDIP dan bersaing dengan NASDEM.

^^
Syaikh Al Butthy berkata: orang berilmu tahu sejak pintu fitnah dibuka. Orang bodoh baru tahu setelah semua hancur menjadi debu. Saya hanya bisa mencegah dengan kekuatan lisan dan doa.
Kita panjatkan doa argumentatif kepada Allah Yang Maha Mengijabah. Allah akan mengabulkan doa yang dikehendaki-Nya bukan yang kita kehendaki. Kita adalah kumpulan ikhtiar–selebihnya adalah tawakal …

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here