Komunitas Padhang Makshsyar #180: Umat Berpecahan Karena Ulama Tidak Pandai Bertengkar

0
1234
Foto pertarungan tinju legedaris Muhammad Ali diambil dari Sports Illustrated

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Kira-kira apa yang bakal kita pikirkan jika kita melihat dua atau lima bahkan lebih, Pendeta atau Pastur atau Bantey atau Rahib atau Romo atau Resi atau Bhikku bertengkar di sebuah acara televisi disaksikan ribuan bahkan jutaan umat dan pengikutnya. Ada yang riuh bertepuk karena panutannya berhasil mematahkan argument lawannya dan ada yang menepuk jidat karena berkata tak rasional

Sederet kata-kata tak patut ditambah raut muka merah karena emosi yang tidak terkendali, saling pamer urat leher. Inikah uswah hasanah dari yang mengaku pewaris para nabi itu. Malu aku
.. .. Tapi jika sudah tak punya malu berbuatlah sesukamu kata baginda nabi saw suatu ketika.

Anehnya para pengikut nya senang dan terus bersorak memuji melihat orang-orang alim yang mengaku dekat dengan Tuhannya itu bertengkar dan berselisih di depan publik. Orang tua, remaja dan anak-anak senang menyaksikan. Para ulama justru makin kencang berselisih.

*^^*
Berbagai ayat-ayat dari Tuhan dipakai untuk saling menikam dan melemahkan. Tak mau kalah yang satunya pun juga ambil ayat dan hujjah dari kitab yang sama. Inikah demokrasi itu. Riuh suara selisih dan dukung mendukung, untuk apa .. ? Kebenaran ? Kebenaran nya siapa .. ? Syariat .. ? Syariat yang mana?

Bukankah keduanya sama-sama mengaku mendapat restu dari langit, mengklaim mambawa kebenaran, membaca kitab yang sama dan mengaku berjuang demi tegaknya syariat, lantas kenapa ada selisih yang ramai-ramai dipertontonkan di depan publik,

*^^*
Ulama adalah pewaris para nabi. Bukan pewaris Hamman, Firaun, Qarun atau Bal’am. Fungsi Para Nabi adalah memberi peringatan saat umatnya keluar haluan, atau memberi kabar gembira kepada yang beriman. Tetap di jalan Tuhan sebagai pengemban risalah menggembala umat. Menjadi pengadil dan penengah saat umatnya berselisih bukan malah menjadi bagian dari perselisihan.

Berharap ada ulama yang tetap istiqamah di jalan Tuhan, mengemban tri fungsi: tawwa-shoubi al ahaq, tawwa-shoubis shabrii dan tawwa-shoubi al marhamah. Tidak berpihak pada salah satu, mendukung yang satu sambil meninggalkan yang satunya. Tapi tegak ditengah sebagai pengadil, berpijak pada kebenaran bukan memihak kepada kebenaran yang didukung.

Jika demikian akan lahir kebenaran ganda, karena sama-sama mengaku membawa kebenaran untuk ditegakkan. Maka konflik dan selisih tak bisa dihindari. Dua kelompok ulama saling berebut kebenaran absurd .. teringat kata terakhir Al Hallaj saat ditiang salib menjelang di gantung: ” .. dan hamba-hamba-Mu itu berkumpul untuk membunuhku, dalam semangat membela agama-Mu dan ingin mencapai keridhaan-Mu ampunilah mereka Ya Allah dan kasihanilah mereka sebab jika telah Engkau tampakkan kepada mereka seperti yang telah Engkau tampak-kan kepada-ku mereka tak akan melakukan apa yang mereka lakukan .. “.

*^^*
Saya hanya bisa berdoa semoga segera ada jalan terbaik. Hati dan pikiran para ulama kembali bertaut. Semoga segera hilang syu’, fitnah, bully, ghiba sesama ulama yang di ikuti para umatnya di bawah. Semoga para ulama tidak mengaku paling ulama dan meragukan ke ulama an karibnya sesama ulama, semoga ulama tidak menjadikan gelar-an ulama yang bisa dengan mudah diberikan dan dipertukarkan berdasar kepentingan politik sesaat, agar ulama tidak hilang marwah dan kesucian … Aamin 🙏🙏🙏

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here