Komunitas Padhang Makshyar #206: Hukum Menaruh Bendera Muhammadiyah di Sembarang Tempat

0
98

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Sibuk menyoal bendera HTI yang dibakar, kita lupa bahwa simbol bendera MUHAMADIYAH juga tertulis dua kalimat tauhid. Kita juga kerap sembrono memperlakukan dan menaruh ditempat yang kurang patut. Sebagian ada yang lebih hirau dengan simbol bendera ormas lain tapi lupa pada bendera sendiri. Saatnya menjaga marwah dan kehormatan bendera sendiri.

*^^*
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang melakukan safar dengan membawa al-Quran ke negeri musuh. (HR. Bukhari 2990 & Muslim 4946) Karena saya tidak merasa aman ketika dipegang oleh musuh.” Hadis ini merupakan dalil bahwa kaum muslimin dilarang untuk memberikan hadiah mushaf al-Quran kepada orang kafir karena ditakutkan akan dihinakan.

Para Ulama salaf berbeda pendapat dalam hal ini:

Pertama. Larangan ini bersifat mutlak, sehingga kita dilarang memberikan mushaf al-Quran kepada orang kafir apapun alasannya. Ini merupakan pendapat Imam Malik dan beberapa ulama syafi’iyah.

Kedua. Larangan ini karena alasan keselamatan mushaf, dikhawatirkan dihinakan orang kafir. Sehingga jika bisa dipastikan tidak akan dihinakan orang kafir, dibolehkan. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, al-Bukhari dan an-Nawawi.

Ketiga. Larangan ini sifatnya makruh dan tidak haram. Ini merupakan pendapat Abu Hanifah menurut riwayat Ibnul Mundzir.

Keempat. Imam Nawawi berpendaoat, Larangan untuk melakukan safar ke negeri kafir dengan membawa mushaf, karena alasan seperti yang disebutkan dalam hadis, yaitu kekhawatiran akan dipegang orang kafir, lalu dihinakan kehormatannya. Jika dirasa aman dari keadaan ini, misalnya al-Quran dibawa bersama pasukan kaum muslimin yang mampu mengalahkan mereka, maka ketika itu tidak dilarang. Karena alasan dihinakan tidak ada. Iniah pendapat yang benar. Ini pendapat Abu Hanifah, al-Bukhari, dan beberapa ulama lainnya.

Kelima. Sementara Imam Malik dan sekelompok ulama madzhab kami (Syafi’iyah) mengatakan bahwa itu dilarang mutlak. Dan menurut nukilan Ibnul Mundzir dari Abu Hanifah, itu boleh secara mutlak. (Syarh Sahih Muslim, 13/13)

*^^*
Tulisan kalimat tauhid bisa penggalan atau keseluruhan dalam mushaf. Kalimat tauhid atau penggalan ayat Al Quran yang di tulis pada bendera, kaus, topi, atau marchandhise lainnya harus tetap di jaga kehormatan dan kesucian nya. Sangat disayangkan jika kaus atau topi yang bertulis kalimat tauhid dibawa ke toilet atau tempat tempat lain yang tidak patut. Inginnya menjaga ghirah dan syiar malah berbalik menghinakan dan merendahkan.

Termasuk memasang bendera simbol MUHAMADIYAH yang bertuliskan dua kalimat tauhid juga harus diperhatikan etika dan kepatutan. Tidak menaruh dan memasang di sembarang tempat. Yang bermakna menghinakan dan merendahkan. Mari kita muliakan bendera sendiri .. Wallahu a’lam

*Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Batu dan pegiat Komunitas Padhang Makhsyar

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here