Komunitas Padhang Makshyar #357: Muhammadiyah di Pusaran Ikhtilaf Manhaji dan Mazhabi

0
152
Foto diambil dari sentolo87yogya

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Jargon kembali kepada Al Quran dan as sunah hanya cocok untuk kalangan elite terdidik—yang bisa langsung baca Quran dan Hadits bukan untuk kalangan awam atau jamaah Muhammadiyah akar rumput–

^^^
Muhammadiyah dalam memahami Islam berdasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah. Tidak terikat dengan aliran teologis, madzhab fikih, dan tariqat sufiyah apapun. Walaupun secara de facto ahlus sunnah. Muhammadiyah, menganut fikih manhaji, mementingkan dalil dibanding pendapat para imam mazhab. Paham agama dalam Muhammadiyah bersifat independen, komprehensif, dan integratif. Muhammadiyah sama sekali tidak anti terhadap aliran theologi, mazhab, dan tasawuf.

Penjelasan teologis-deskriptif saya menyebutnya–setidaknya bahasan tentang manhaj Muhammadiyah harus semakin sering dibincangkan agar sampai di akar rumput dan menjadi pemahaman kolektif. Mungkin belum final karena masih baru tahapan pemahaman personal Prof Yun (Yunahar Ilyas) untuk membingkai pemahaman dari berbagai aspek agar lahir konsep yang baku dan holistik. Ini memang tidak mudah, sebab perlu waktu dan proses yang panjang.

Memilah dua konsep yang berseberangan bukan pekerjaan mudah. Membedakan sekaligus menegasi konsep manhaji dan mazhahabi adalah niscaya untuk menarik garis batas antara pemahaman agama Muhammadiyah dengan manhaj lainnya yang terlihat mirip tapi berbeda.

^^
Beranikah jujur–berapa persen karyawan aum yang punya buku HPT atau Al Quran, syukur kitab-kitab hadits yang lima atau Kitab Sembilan. Jika memang jargon kembali kepada Al Quran dan hadits menjadi manhaj dalam beragama warga Persyarikatan. Persyaratan memiliki nya (kitab Al Quran dan kitab Hadits) menjadi wajib. Bukan hanya punya tapi juga harus memahaminya.

Sayangnya saya tak yakin–bahkan di grup inipun–tak semua sudah punya HPT dan mempelajarinya. Ini baru HPT produk olahan Majlis Tarjih. Lalu dengan cara apa kembali kepada Al Quran dan Hadits di praktikan jamaah akar rumput ? Bila kitab Al
Quran dan Hadits-nya saja tak punya ?

Kalau benar demikian lantas siapa yang bisa praktikan manhaj kembali pada Al Quran dan as Sunah itu ? Para ulama—jawab saya pendek–bukan orang macam saya–jamaah akar rumput. Kami hanya mengikuti pendapat para ulama yang menyandarkan pendapatnya pada Al Quran dan as Sunah. Jadi apa bedanya dengan mazhab ? Bukankah para Imam mazhab juga menyandarkan pendapatnya pada Al Quran dan As Sunah?

^^^
Manhaji dan Mazhahabi hanyalah pilihan metodologis bukan sesuatu yang prinsip yang bisa mempengaruhi kadar iman. Bahkan bisa saja manhaji adalah mazhab itu sendiri yaitu suatu metode pengambilan hukum-hukum dengan merujuk kembali kepada Al Quran dan as Sunah. Tegasnya Tarjih itu berorientasi pada dalil dan istidlal bukan qoul minal aqwal, inilah metode yang dipilih oleh Tarjih sebagai ‘mazhab’.

Benarkah Muhamamdiyah menganut manhaj salafiyah yang digagas oleh Syaikh Rasyid Ridha, purifikasi dipengaruhi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, dan Tajididiyahnya dipengaruhi Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabaui.

Pertanyaan berikutnya adalah siapa yang paham dan mengenal pemikiran salafiyah Syaikh Rasyid Ridha–apa bedanya dengan paham salaf yang dikembangkan Syaikh Albani ? Bagaimana pula pemahaman purifikasi yang digagas Syaikh Abdul Wahab dan kalam Asy’ary atau Maturudy ? Bagaimana pula perbedaan pada bidang tasawuf yang dikembangkan imam Al Ghazali dengan konsep Ihsan yang diamalkan warga Persyarikatan ?

^^^
Sampai tahapan ini meruak banyak soal dan pekerjaan berat ulama-ulama Muhammadiyah untuk merumuskan manhaj dalam tataran teologis-deskriptif. Bagaimanapun kita sadar bahwa tak satupun buku-buku pelajaran ke-Muhammadiyah-an membahas manhaj ini dalam sebuah halaqah atau perkaderan–bahkan saya meragukan para pimpinan dan pengurus paham tentang manhaj ini … Wallahu taala a’lam

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here