Komunitas Padhang Makshyar #479: Membincang Revitalisasi dan Ortodoksi Manhaj Muhammadiyah

0
185
Foto diambil dari Tirto

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Menjadi sangat penting mengingat berbagai manhaj bisa masuk ke dalam Persyarikatan tanpa filter karena banyak yang belum paham tentang manhaj Muhammadiyah secara utuh dan komprehensif—

*^^^*
Minhaj atau Manhaj, menurut bahasa arab artinya jalan yang jelas dan terang. Allah Ta’ala berfirman, “Untuk tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang…” Al Maidah 48.

Menurut istilah syar’i, Manhaj ialah kaidah-kaidah dan ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi setiap pelajaran-pelajaran ilmiyyah, seperi kaidah-kaidah bahasa arab, ushul ‘aqidah, ushul fiqih, dan ushul tafsir di mana dengan ilmu-ilmu ini pembelajaran dalam islam beserta pokok-pokoknya menjadi teratur dan benar. Dan manhaj yang benar adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman para sahabat Rasulullah saw.

*^^^*
Madzhab sendiri secara bahasa adalah jalan. Madzhab juga bisa bermakna pendapat, seperti kata, _“Maa dzhahaba ilayhi fulan”_, maksudnya, seperti Pendapat si Fulan. Jadi, Madzhab adalah istilah teknis yang bermakna pendapat. Madzhab Syafi’i, berarti pendapat Imam Syafi’i, Madzhab Hanafi, berarti pendapat Imam Abu Hanifah, Madzhab Hanbali, berarti pendapat Imam Ahmad Ibn Hanbal, dan demikian seterusnya.

Agar Madzhab dapat terbentuk, ada 4 syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
1. Ada Imam sebagai peletak Madzhab.
2. Ada Metodologi yang diletakkan oleh sang Imam.
3. Ada hasil dari Metodologi.
4. Ada pengikut.

*^^^*
Lantas bagaimana Manhaj Muhammadiyah dibangun dalam sebuah konstruksi yang rigid–untuk membedakan dengan manhaj lainnya yang semisal, maka revitalisasi dan ortodoxi menjadi sangat urgen untuk menjaga karakter Persyarikatan secara generik.

Pertama, Muhammadiyah dalam memahami Islam berdasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah. Tidak terikat dengan aliran teologis, madzhab fikih, dan tariqat sufiyah apapun. Walaupun secara de facto ahlus sunnah. Muhammadiyah, kata Prof KH Yunahar Ilyas menganut fikih manhaji, mementingkan dalil dibanding pendapat para imam mazhab.

Paham agama dalam Muhammadiyah bersifat independen, komprehensif, dan integratif. Namun Prof KH Yunahar Ilyas mengingatkan bahwa Muhammadiyah sama sekali tidak anti terhadap alirah theologi, madzhab, dan tasawuf.

Kedua, Muhammadiyah mencirikan diri sebagai gerakan tajdid. “Dalam Anggaran Dasar disebutkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar, dan tajdid,” tutur Prof Yun. Tajdid yang diusung oleh Muhammadiyah terbagi menjadi purifikasi dan dinamisasi. Keduanya harus berjalan seimbang. Purifikasi dalam hal akidah (pemurnian dari syirik), ibadah (pemurnian dari bid’ah), dan akhlak (pemurnian dari yang menyimpang).

Sementara dinaminasi atau modernisasi dilakukan dalam hal urusan keduniawian. Sehingga ajaran Islam dapat diaplikasikan secara aktual dan fungsional. Oleh karena itu, kata Yunahar, bid’ah hanya ada dalam ibadah mahdhah, dalam wilayah budaya tidak ada bid’ah.

Ketiga, Muhammadiyah memposisikan diri sebagai Islam moderat atau wasatiyah. Muhammadiyah tidak radikal dan tidak liberal. Muhammadiyah memegang teguh prinsip tawasut (tengah-tengah), tawazun, (seimbang) dan ta’adul (adil).

Muhammadiyah itu berkemajuan, dalam artian berorientasi kekinian dan masa depan. Muhammadiyah sedikit bicara banyak bekerja. Walaupun sedikit warganya tapi amal usahanya tumbuh di mana-mana, sehingga mandiri dan tidak bergantung pada kekuasaan. Menurut Yunahar, kemandirian ini menjadi pengokoh sikap independensi Muhammadiyah di hadapan penguasa.

Keempat, Muhammadiyah menjaga kedekatan yang sama dengan semua partai politik. Muhammadiyah bukan dan tidak berafiliasi kepada salah satu partai mana pun. Muhammadiyah menganut politik etis atau high politic atau politik adiluhung.

Kelima, Muhammadiyah bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah tidak bertujuan untuk mendirikan negara syariah atau khilafah islamiyah.

Dalam rangka mencapai tujuannya, Muhammadiyah lebih menggunakan pendekatan kultural dibandingkan dengan pendekatan struktural (kekuasaan). Dalam pendekatan kultural, Muhammadiyah mencerdaskan masyarakat dari bawah dengan dakwahnya yang berkemajuan, mencerahkan, dan membebaska
Revitalisasi manhaj

Muhamamdiyah adalah ikhtiar membangun pemahaman kolektif tentang manhaj pergerakan. Upaya ini penting mengingat telah terjadi pertarungan manhaj yang sangat simplifistik berpengaruh terhadap arah dan cita-cita Persyarikatan ke depan.

*^^*
Persoalan berikutnya adalah tentang bagaimana menanam Manhaj Muhammadiyah di jamaah akar rumput dan elite–apakah harus dengan indoktrinasi sebagaimana lazimnya kaum Ideolog atau ‘baiat’ seperti yang dilakukan FPI, HTI dan PKS agar militan atau dengan cara yang sudah kita lakukan selama ini–lewat pelajaran al Islam dan ke-Muhammadiyahan 2 SKS satu semester pada jam sisa .. ?

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here