Komunitas Padhang Makshyar #52: Dahriyun dan Kitab Suci Fiksi

0
258
Ilustrasi menghentikan waktu diambil dari SuaraIslam

KLIKMU.CO 1000 tahun yang lalu, Kaum Dahriyun awal pernah menyebut al Quran itu makhluk. Saat ini turunan kaum Dahriyun (rasionalis -ekstrim) menyebut semua kitab suci termasuk Al Quran adalah fiksi.

Saya bersaksi dengan iman yang saya imani bahwa: Al Quran adalah kalam Allah bukan fiksi dengan berbagai definisi seperti halnya kitab suci agama lain.

Siapa berani mengganti iman dengan menyebut kitab suci Al Quran Al Karim sebagai kitab fiksi sejajar sama dengan kitab suci lainnya ? Saya berlindung kepada Allah Yang Maha Suci dari menyebut Al Quran sebagai kitab fiksi … “.

Dahriyun adalah kaum pemuja akal atau pikiran.

Biasa pula disebut kaum rasionalis bisa pula disebut kaum pemuja zaman. Sebagaimana disebut dalam firman Allah tabaraka wataala dalam surat Jatsiyah 24: “Tidakkah kau lihat orang yang mengangkat pandangannya sendiri sebagai tuhan fiksi (palsu, rekaan, imajiner atau khayalan) dan Allah-pun menyesatkan-nya dengan sepengetahuan orang itu, serta menutup pendengaran serta hatinya …. (mereka-kaum dahriyun -berpendapat): “Ini tidak lain adalah kehidupan duniawi kita, di situ kita mati, disitu pula kita hidup dan tidak ada yang mampu menghacurkan kita kecuali zaman (al-dahri)”.

Bagi kaum Dahriyun, Kebenaran adalah yang sesuai dengan akal pikiran.

Kebenaran adalah Prosa naratif yang bersifat imajiner dan mengandung kebenaran, yang bisa dicandra secara faktual. Dan yang sudah terjadi. Maka kitab suci adalah karya fiksi para nabi.

Karena belum terjadi dan tidak bisa dibuktikan. Kenapa kitab suci mereka sebut fiksi, karena kitab suci disusun tidak berdasar hasil riset dan realitas faktual. Tapi merupakan hasil intuisi wahyu yang diterimakan. Naudzubillah

Kaum Dahriyun menafikkan semua agama berikut perangkatnya baik berupa kitab suci, nabi juga Tuhan. Sebab mereka sesungguhnya adalah kaum atheis yang tidak percaya Tuhan.

Oleh sebab itu mereka sebut kitab suci adalah fiksi dengan tidak menyebut secara spesifik, tapi semua kitab suci pada semua agama baik samawi atau ardhi. Kitab suci (veda, tripitaka, zen avesta, taurat, zabur, injil, Al Quran, dan semua suhuf) tak ubahnya sebuah novel atau roman picisan yang belum selesai karena secara faktual belum terjadi.

Kaum Dahriyun memusuhi semua agama dan kitab suci.

Kebahagiaan adalah apapun yang menyenangkan. Kebaikan adalah apapun yang tidak menganggu orang lain.

Pandangan kaum dahriyun sangat ekstrim dan radikal, ini sangat membahayakan karena mengandung pikiran jahat.

Kaum Dahriyun berpendapat semua boleh, sepanjang dianggap benar menurut pandangannya sendiri. Mereka sesungguhnya tak percaya adanya Tuhan, mereka percaya hanya pada kekuatan alam pikiran dan pandangan pribadinya.

Tegasnya mereka menuhankan pandangan dan pikirannya sendiri. Sebagian diantara mereka percaya terlalu banyak tuhan, tapi sesungguhnya mereka tak percaya ada kehidupan setelah matinya.

Semua berlangsung hanya di dunia. Hari kiamat adalah fiksi, alam barzakh adalah fiksi, yawm Al baats adalah fiksi, surga dan neraka juga fiksi. Silakan ikuti pendapat kaum Dahriyun dan ganti iman mu …

Pewaris kaum Dahriyun di era modern adalah kelompok aliran filsafat Materialisme-Feurbach dan Dialektika-Hegel dan sedikit Eksistensialis-Heidegger.

Ketiganya diramu Marx sebagai cikal bakal lahirnya paham marxian, tapi mereka sangat jahat dan ekstrim.

Paham inilah yang agaknya dianut oleh yang mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi atau karangan para nabi. Itupun jika mereka percaya adanya nabi.

Jika RG menyebut kitab Injil karya fiksi saya sangat maklum sebab Injil adalah karya fiksi para muridnya (Johanes Paulus Matius dsb) dan itu sangat berbeda dengan AlQuran .. yang tidak ada campur tangan manusia meski hanya satu harakat …tegasnya semua kitab suci selain Al Quran adalah karya fiksi manusia.

Jadi menyamakan kitab suci Al Quran dengan kitab suci agama lain pasti amat sangat naif … dan berlawanan dengan aqidah ahlu sunah.

Pada sisi lain, Ahok di hujat dan direndahkan, di copot dari jabatannya dan dihilangkan hak politiknya bahkan itupun tak cukup.

Di demo jutaan umat Islam untuk menuntut si penista kitab suci al Quran ini diadili dan dibui. Meski masih debatable karena ada sebagian yang menganggap pernyataan Ahok bukan penistaan, tapi itu tak penting, para ulama keburu berfatwa dan umat Islam sudah kadung turun di jalan melakukan pembelaan.

Termasuk saya, adik dan putri saya datang ke silang Monas dua kali karena
tersinggung kitab suci yang saya agungkan dihina.

Tapi sungguh kasihan jika mereka yang pernah dituduhkan menghina kitab suci yang disakralkan sehingga jutaan orang turun jalan harus menerima kenyataan bahwa kitab suci yang dibanggakan itu hanyalah fiksi.

Lalu untuk apa kita berdarah-darah membela dan rela mati kalau kitab yang kita agungkan dengan enteng dibilang fiksi.

Sampai tahapan ini, kita bisa mengukur apakah yang kita lakukan itu benar-benar ingin membela marwah Al
Quran atau hanya sekedar politisasi agama untuk kepentingan politik praktis para elit agama yang ditunggangi para politisi.

Dan hanya karena kongsi politik untuk mengganti rezim maka apapun pandangan tentang kitab suci Al Quran kita benarkan, meski dengan cara merendahkan kitab suci. Se-murah itukah aqidah ditukar … ?
Na’udzubillah min dzaalik …

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan
Penggiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here