Komunitas Padhang Makshyar #71: Saatnya Para Ulama Intropeksi

0
171
Foto kaca pembesar diambil dari abunamira.wordpress.com

KLIKMU.CO- Imam Malik bin Anas sedang mengajar di majelisnya, puluhan santri ta’dzim menyimak. Kala itu sedang membahas masalah thaharah bab wudhu. Pada sesi tanya jawab salah seorang muridnya bertanya, tentang hukum menyelai jari apakah bagian dari sunah. Imam Malik menjawab ringkas: bukan. Sebab hadits tentang menyelai jari belum sampai kepada beliau.

Al Atho’ salah satu santrinya yang duduk diantara para santri telah mendengar hadits tentang menyelai jari itu sunah. Al Atho’ menahan diri tidak menyampaikan tentang hukum sunah menyelai jari di depan para santri yang lain. Al Atho’ menunggu semua santri pulang, setelah sepi, semua murid pulang, Al Atho’ mendekat kepada sang guru menyampaikan dengan ta’dzim hadits tentang hukum sunah menyelai jari. Dalam pertemuan berikuthya pada majelis yang sama, Imam Malik menyampaikan kepada semua muridnya bahwa menyelai jari saat wudhu hukumnya sunah.

Abu Hurairah ra salah seorang sahabat utama yang banyak meriwayatkan hadits ditanya tentang hukum puasa ramadhan bagi orang yang belum mandi junub hingga masuk waktu subuh. Abu Hurairah menjawab pendek: batal. Para jamaah kebingungan dengan jawaban itu. Maka diutuslah beberapa orang menanyakan masalah tersebut kepada ummul mu’minin Aisyah dan Ummu Salamah.

Ditanya tentang hal itu kedua ummul mu’minin itu menjawab ringkas: tak mengapa, sebab keduanya pernah bersama Nabi saw dalam keadaan junub hingga subuh kemudian mandi dan meneruskan puasanya.

Imam Ahmad bin Hanbal berjalan keliling di halaqahnya melihat salah seorang guru mengajar hadits berteduh di sepotong daun, sementara para santrinya tertimpa panas, debu dan angin kencang. Imam Ahmad bin Hanbal tidak berkenan dengan prilaku guru itu. Beliau terdiam sebentar kemudian meneruskan perjalanan kelilingnya.

Usai shalat isya beberapa saat Imam Ahmad berkunjung ke rumah asrama guru itu. Beliau mengetuk dan mengucap salam dengan pelan. Beliau juga berjalan masuk dengan kaki diangkat setelah guru itu mempersilakan masuk. Beliau duduk dan berkata lirih takut teman sekamar guru itu terbangun. Imam Ahmad menyampaikan maksud ke datangannya. Beliau tidak berkenan dengan cara mengajarnya. Membiarkan murid kepanasan sementara ia berteduh.

Pentingnya saling menjaga marwah dan tidak mengumbar aurat di depan khalayak. Para ulama tak pantas memamerkan perselisihan, ikhtilaf di depan santri apalagi di depan publik. Pertengkaran dan perselisihan soal furu’ menjadi tontonan dan di publikasi, sungguh tak patut.

Rumah tangga punya aurat, tak patut kekurangan dan aib keluarga di umbar di media. Suami pemeluk bangkai atau isteri pemeluk bangkai adalah suami atau isteri yang menceritakan kekurangan dan aib pasangannya pada siang atau malam hari kemudian malam harinya mereka kembali bercampur. Demikian salah satu sabda baginda nabi saw agar kita gak gampang mengumbar aib rumah tangga.

Pun dengan para ulama patutkah kita mengumbar aurat sesama di depan para santri. Tentang perselisihan dan pertengkaran soal-soal furu’ tanpa adab. Membawa puluhan dalil dan hujjah untuk saling mencela dan merendahkan. Hanya sekedar untuk menyatakan di depan publik bahwa dia lebih alim, lebih pintar, lebih sahih hujjah nya dari siapapun. Begitukah ?

Tidak adakah cara yang indah untuk berselisih. Pertengkaran para alim-ulama itu harusnya indah bukan seperti perselisihan preman pasar adu otot leher dengan kata-kata kasar keluar dari lisannya. Lantas apa yang mereka dapat … selain tontonan dan bahan lelucon. Saatnya menahan diri untuk tidak saling menabung ikhtilaf kecil-kecil. Perdebatan tentang ‘gagal manggung’ atau soal-soal kecil lainnya yang tak patut santri tahu. Wallahu a’lam

Kyai Nurbani Yusuf Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu dan pegiat
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here