Komunitas Padhang Makshyar: Jika PDIP Ditenggelamkan Kepada Siapa Kita Berdakwah

0
128
Foto suasana pengajian diambil dari geotimes

KLIKMU.CO

Oleh: Kyai Nurbani Yusuf*

Penghinaan di Tsaqif terhadap Rasulullah saw sudah kelewat. Mereka menghina dan mendustakan ke-Rasulan, personal bahkan fisik nabi juga dilukai. Salah seorang dari mereka berkata:“Benarkah Allah telah mengangkatmu jadi pesuruh-Nya?”. Yang lain mengejek: “Tidak dapatkah Allah memilih manusia selain kamu untuk jadi pesuruh-Nya?”.

Ada juga yang berkata: “Jika engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin berbicara dengan-mu, karena perbuatan yang demikian itu akan mendatangkan bencana bagiku. Sebaliknya jika kamu seorang pendusta, tidak ada gunanya aku berbicara denganmu!”.

Mereka berkata: “Keluarlah kamu dari kampung ini, dan pergilah kemana saja kamu suka!”.
Sambil melempar beliau dengan batu dan benda apa saja yang bisa diraih, setiap beliau melangkahkan kakinya batu-batu itu mengenai semua tubuh beliau sehingga luka-luka berdarah, dan sambil mereka melempar, mereka terus mengejek dan mencaci.

*^^*
Demikian sedihnya do’a yang dipanjatkan nabi Muhammad ini, sehingga Allah swt mengutus Jibril as untuk menemuinya. Setibanya di hadapan Rasulullah saw Jibril as memberi salam seraya berkata: “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu”. Sambil berkata demikian jibril as memperlihatkan para malaikat tersebut kepada Rasulullah saw.

Kata para malaikat tersebut: “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung itu akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”

Mendengar tawaran itu, Rasulullah saw bersabda: “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”

*^^*
Itulah esensi dakwah yang dibangun Rasulullah, bijak dan tetap bersabar meski hasil tak sesuai yang kita inginkan, ulet tidak pernah menyerah bukan sebaliknya memusuhi apalagi menenggelamkan meski dengan berbagai makna. Jika Rasulullah saw mau dan memberikan pembalasan, habis sudah orang-orang Tsaqif itu. Tapi Rasulullah tidak melakukan meski kesempatan untuk membalas sangat mungkin.

Model dakwah Rasulullah inilah yang mestinya kita bangun. Sebuah model dakwah yang santun melindungi dan tetap bertawakal. Bukan dakwah yang mengancam dan menebar intimidasi. Berdakwah maunya instan dengan hasil kontan, diajak pagi sore beriman diajak sore pagi beriman. Nuh as butuh waktu 900 tahun untuk mendapat 17 orang beriman yang mau diajak naik kapal. 200 tahun lebih Luth as tak mampu mengajak istri nya sendiri bertaubat. Bahkan setelah 1439 tahun sejak hijrah umat Islam tak ada 1/3 dari penduduk dunia saat ini. Semua berproses tidak ada kata berhenti.

Beberapa kasus malah sempat membuat saya agak bingung. Saat masih dalam kondisi khilaf, begitu saling setia bahkan saling menolong dan membantu berbuat munkar. Sebotol khomer diminum bersama, sepiring nasi hasil nyopet dimakan kembul. Begitu hijrah gampang sekali mengucap kata: sesat, kafer, tenggelamkan, neraka dan kata-kata lainnya, seakan tiket surga sudah di tangan. Mungkin ada yang keliru saat ber-Islam atau entah lah …
Wallahu a’lam

@nurbaniyusuf
Guru di UMM dan penggiat Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here