Kontribusi Muhammadiyah terhadap Ekonomi Nasional

0
277
Inilah.com

Oleh: Istiqomah *)

KLIKMU.CO

Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam yang terbesar di Indonesia, didirikan pada 1902 oleh KH. Ahmad Dahlan. Pada awal berdirinya, Muhammadiyah merupakan pergerakan dakwah amal makruf nahi mungkar yang bergerak demi terciptanya masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera sehingga akan tercipta masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sama halnya dengan pergerakan dakwah Islam internasional lainnya, Muhammadiyah selalu melakukan ijtihad dengan tujuan mengaktualisasi ajaran Islam agar dapat menghadapi adanya perubahan-perubahan yang terjadi.

Muktamar satu abad yang dilaksanakan di Yogyakarta pada 2010 bagi Muhammadiyah jadi momen yang sangat penting untuk mengevaluasi perjalanan organisasi ini dalam merancang visi dan misi pada abad kedua. Dalam perjalanan satu abad ini Muhammadiyah telah mengalami perkembangan pesat dalam dunia pendidikan, kesehatan, lembaga keuangan, dan peribadatan. Namun sayang, dalam perjalanan perkembangan Muhammadiyah menuju satu abad, belum tersirat akan adanya perkembangan gerakan Muhammadiyah dalam bidang ekonomi, sehingga perlu diperhatikan adanya alternatif untuk mengembangkan platform ekonomi persyarikatan pada muktamar berikutnya.

Sepintas memang ideologi “Al Ma’un” dapat dianggap sebagai platform dalam bidang ekonomi Muhammadiyah, yang menanamkan semangat untuk memberdayakan kaum kecil atau tertindas, anak yatim, dan fakir miskin sebagai respons atas peringatan Al-Quran terhadap orang-orang yang mendustai agama, namun ini dianggap masih dalam skala kecil. Oleh karena itu, bentuk ijtihad persyarikatan ini adalah dengan menjalankan fardu kifayah (tanggung jawab bersama) dalam bentuk skala kelembagaan yang secara langsung dapat menyelesaikan masalah kemiskinan.

Ideologi ini sangatlah penting bagi pengembangan ekonomi warga Muhammadiyah. Apabila Muhammadiyah terlalu pro-investasi asing dan pro-pasar, seperti halnya rezim pemerintahan saat ini yang menganut ideologi ekonomi yang neoliberalisme (kebijakan dengan cara-cara politis, diplomasi, tekanan ekonomi, atau intervensi militer atau biasa dikatakan sebagai pasar bebas), ideologi ini akan membuat usaha mikro rakyat Indonesia tersingkir, termasuk di dalamnya warga Muhammadiyah. Sudah berapa banyak warga Muhammadiyah yang berprofesi sebagai pengrajin dan pedagang batik Pekalongan, pengrajin tenun khas Lombok, pedagang pasar Tanah Abang yang terpaksa menutup gulung tikar dikarenakan kalah bersaing dengan para pengusaha asing dan pemilik toko retailer seperti Hypermart yang notabene memiliki modal lebih besar dan pasokan barang dari luar negeri dengan harga jauh di bawah harga pasar di Indonesia. Sedangkan pengusaha di Indonesia dengan mati-matian berusaha untuk tetap eksis dalam berkarya, tetapi hasil karya tidak memiliki nilai apa pun dikarenakan kalah bersaing dengan para pengusaha dari luar negeri (dalam hal ini harga). Oleh karena itu, di sini persyarikatan Muhammadiyah harus mengambil posisi dalam memikirkan perkembangan perekonomian masyarakat baik dalam skala nasional maupun internasional.

Muktamar ke-47 tahun 2015 di Makassar dihasilkan kerangka kebijakan program jangka panjang (2015-2020), yaitu dalam lima tahun terkahir ini diharapkan adanya perkembangan yang bersifat positif dalam mengembangkan usaha-usaha di Muhammadiyah yang ditandai dengan adanya terobosan program, kegiatan dan amal usaha yang kemudian disebut sebagai “model praksis gerakan”. Hal ini diharapkan mampu mengembangkan dan mempertajam usaha Muhammadiyah ke arah yang lebih baik demi terciptanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Bidang Ekonomi dalam Mutamar ke-47 Makassar ini menghasilkan visi: pengembangan bangkitnya etos dan kreativitas ekonomi dalam menguatkan kemandirian Muhammadiyah sebagai wujud kontribusi persyarikatan bagi kebangkitan ekonomi umat dan bangsa. Program pengembangan meliputi (1) mengembangkan cetak biru dan model ekonomi Muhammadiyah yang berorientasi pada mobilisasi potensi unit-unit amal usaha ekonomi, usaha ekonomi kreatif, kewirausahaan, dan pemberdayaan ekonomi kelompok; (2) mengembangkan sistem manajemen bisnis dan tata kelola bidang ekonomi, penguatan kelembagaan amal usaha dan kegiatan-kegiatan ekonomi, serta pemanfatan aset-aset untuk mendorong produktivitas ekonomi persyarikatan; (3) mengintensifkan kerja sama potensi dan pelaku ekonomi di seluruh tingkatan persyarikatan serta mobilisasi sumber-sumber permodalan dan pemasaran baik internal maupun eksternal persyarikata; (4) melahirkan kader-kader profesional di bidang bisnis, amal usaha ekonomi, dan kewirausahaan yang unggul dan berdaya saing dalam mengembangkan kekuatan ekonomi persyarikatan; dan (5) membentuk unit-unit bisnis, koperasi, BTM, Purchasing Centre, bisnis online, kedai/minimarket “Surya Mart”, badan usaha distribusi, dan melakukan advokasi penerapan dan sosialisasi usaha dan produk Lembaga Keuangan dan Bisnis Syariah, serta pemberdayaan ekonomi mikro, kecil dan menengah (Muhammadiyah, 2015)

Ideologi Al Maun dalam bidang ekonomi diharapkan dapat membantu Negara Indonesia untuk bangkit secara perekonomian, apalagi dengan kondisi adanya wabah Covid-19 yang semakin tidak menentu. Banyak perusahaan yang terpaksa tutup, usaha-usaha kecil yang mulai gulung tikar, sehingga banyak pengangguran di mana-mana. Dengan program perkembangan di bidang ekonomi, diharapkan Muhammadiyah mampu membangkitkan perekonomian Indonesia dengan adanya ide usaha ekonomi kreatif, membangun jaringan agar mampu memperoleh modal baik di dalam persyarikatan maupun diluar persyarikatan, mencetak kader-kader profesional dalam bidang bisnis, membentuk unit-unit bisnis, koperasi, BTM, bisnis online, perbankan syariah, usaha-usaha mikro, dan lain-lain.

Dengan pengaplikasian secara menyeluruh hasil Muktamar Muhammadiyah ke-47, dipastikan akan meminimalisasi adanya kapitalisme, monopoli, dan neoliberalisme di Indonesia sehingga masyarakat bisa mengembangkan potensi-potensi yang ada di daerah masing-masing, misalkan adanya pedagang batik pekalongan, pedagang kain tenun, dan lain-lain. Dengan demikian, perekonomian negara Indonesia akan bangkit secara perlahan tanpa adanya pihak asing yang ikut campur di dalamnya.

*) Mahasiswa S-2 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here