Korona dan Keselamatan Bangsa

0
85

Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat *)

KLIKMU.CO

Terdapat relief di candi Mendut, Magelang, menggambarkan burung berkepala dua. Kepala yang atas selalu memperoleh makanan yang enak dan segar, sementara kepala bawah hanya memperoleh sisa-sisanya. Kepala bawah selalu minta kepala atas agar mau berbagi makanan yang enak dan segar, tetapi kepala atas selalu enggan berbagi. Akhirnya kepala bawah makan jamur beracun, dan burung itu pun mati.

Masyarakat Indonesia sejak dulu selalu berbentuk piramida. Terdapat sekelompok kecil orang kaya berada pada strata atas, mereka menikmati bagian terbesar kue nasional. Sementara mayoritas rakyat berada di kaki piramida yang hanya memperoleh bagian kecil atau sisanya seperti fabel kisah burung berkepala dua di atas.

Dalam kajian ilmu sosial, realitas ketidakadilan ini pernah menggerakkan Karl Marx (1818-1883) untuk memobilisasi kaum buruh melawan kelompok kapitalis Eropah yang bertengger di puncak piramida yang ingin melanggengkan kekuasaannya ke dalam sistem kapitalisme-liberalisme dengan dukungan mesin industri. Mereka ini terdiri dari kelompok kecil, namun dengan kekuatan modal dan mesin birokrasinya yang mampu mengeksploitasi kaum buruh yang hanya bermodal tenaga dan keringat.

Baik sistem kapitalisme maupun sosialisme, keduanya punya niat mulia dan masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Keduanya ingin menyejahterakan masyarakat dengan jalan berbeda. Sisi positif sistem kapitalisme-liberalisme terletak antara lain pada perlindungan hak-hak individu, membuat masyarakat menjadi dinamis, kompetisi antar individu berlangsung sengit, perekonomian berkembang pesat, dan peran negara terbantu dalam upaya menciptakan kemakmuran bangsa. Namun problem serius muncul ketika inovasi dan kompetisi antar individu dan perusahaan lepas dari kontrol negara, bahkan posisi negara berada dalam kontrol pemilik modal dan industri. Tak terelakkan, muncul masyarakat piramidal yang ditandai dengan pertentangan kelas ekonomi.

Sisi negatif sistem sosialisme adalah kemerdekaan individu hilang dalam rengkuhan negara. Rakyat kehilangan daya kreativitasnya. Mereka bergerak di bawah tongkat satu komando dalam genggaman sekelompok elite penguasa yang cenderung otoriter. Lagi-lagi, struktur masyarakat sosialisme juga melahirkan bentuk piramida. Negara yang mengaku sosialisme pada ujungnya juga bermetamorfosis menjadi “state capitalism”. Sementara itu, negara kapitalisme mau tidak mau mesti memberikan perhatian dan perlindungan pada kaum buruh atau negara-negara miskin yang hanya punya modal tenaga, karena mesin industri tak akan jalan tanpa jasa tenaga mereka.

Darwinisme Sosial

Di luar ideologi kapitalisme dan sosialisme, terdapat kekuatan baru berupa ideologi evolusionisme yang berakar pada kemajuan ilmu biologi yang pada urutannya menghasilkan kecerdasan buatan (artificial intelligent) yang kemudian diintegrasikan dengan sistem algoritma dan big data. Yaitu sebuah jejaring teknologi yang berbasis internet yang dihubungkan dengan sistem saraf otak manusia sehingga emosi, pikiran, dan perilaku manusia tanpa sadar bisa diprogram dan dipantau oleh pengendali big data. Orang pun kehilangan privasi dan kemerdekaan. Gawai di tangan telah menjadi perpanjangan diri (extended self). Dengan gawai yang terhubung internet seseorang merasa memiliki kemudahan dan kebebasan untuk melakukan bisnis, berbelanja, bertukar pikiran, dan kegiatan lain, namun sesungguhnya mereka telah menggadaikan privasinya. Dia tak bisa keluar dari genggaman dan kontrol kapitalis model baru yang mengendalikan lalu lintas big data yang oleh Shoshana Zuboff disebut “surveillance capitalism”.

Pada situasi demikian, peran negara semakin kecil karena orang dengan bebas bisa melakukan kegiatan di luar birokrasi pemerintah. Bumi yang dikapling-kapling dengan batasan negara, bangsa, dan agama menjadi datar tak ada lagi tembok penghalangnya. Lagi-lagi, muncul sekelompok elite superkaya yang mengendalikan lalu lintas informasi dan keuangan dunia. Mereka berpegang pada adagium Darwinian: survival of the fittest. Hanya mereka yang bisa beradaptasi dengan perubahan zaman yang bisa bertahan. Lebih dari itu, mereka yang paling kreatif dan paling kuat yang akan mengendalikan zaman.

Ancaman terhadap Bangsa

Wabah Covid-19 ini menyerang secara frontal dan telak terhadap eksistensi manusia sejagat tanpa pandang bangsa, agama, dan strata ekonomi. Baik pemerintah maupun rakyat, keduanya bingung, panik, dan dicekam rasa takut. Tugas pemerintah adalah melindungi rakyatnya. Tetapi mereka pun terancam Covid-19 sebagaimana rakyatnya. Namun, kelebihan dan kewajiban pemerintah adalah memiliki legalitas dan otoritas untuk mengatur semua aset negara guna melindungi bangsa dan rakyat.

Jika rakyat Indonesia terlalu menyandarkan dan mengandalkan pemerintah, siap-siap saja untuk kecewa atau marah-marah. Masyarakat yang terbiasa hidup di bawah pemerintahan liberal seperti Eropa dan Amerika kelihatannya sulit diatur. Mereka sudah terbiasa hidup bebas tanpa campur tangan negara. Makanya masyarakat Eropa dan Amerika korban yang berjatuhan lebih banyak dibanding China yang biasa hidup di bawah pemerintahan otoriter. Masyarakat awalnya memandang enteng terhadap virus serta sulit diatur untuk melaksanakan “physical distancing”. Pesta dan kumpul-kumpul tetap dilakukan. Ini berbeda dari masyarakat China yang pemerintahannya otoriter sehingga rakyatnya mudah dikendalikan. Penyebaran Covid-19 bisa dikurangi dengan perintah “physical distancing” dan “stay at home”.

Bagaimana Indonesia? Rakyat Indonesia pada dasarnya taat aturan. Asal diberi penjelasan yang jelas dan tuntas oleh pimpinan yang punya otoritas. Masalahnya, masyarakat ada yang bingung melihat suara wakil pemerintah yang tidak kompak, tidak satu suara, baik sesama menteri maupun antara pemerintah pusat dan daerah. Persoalan lain yang tak kalah seriusnya adalah banyak masyarakat bawah yang kebutuhan hidup kesehariannya menggantungkan penghasilan harian sebagai penjual jasa. Kalau mereka mesti tinggal di rumah, tetapi tidak ada suplai makanan untuk keluarganya, psikologi orang kelaparan itu bisa berkembang bagaikan api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membakar apa saja yang ada di sekelilingnya. Mereka bisa berbuat nekad, naluri hewaninya keluar. Homo homini lopus.

Gejala ke arah sana sudah mulai muncul. Jika kemunculannya berbarengan, bangsa ini akan terbakar karena aparat keamanan tak akan sanggup memadamkan. Makanya pesan moral fabel burung di awal tulisan ini menjadi sangat relevan. Orang Jawa punya ungkapan, “tiji tibeh, barji barbeh”. Mati siji mati kabeh, bubar siji bubar kabeh. Untuk menutup pintu rapat-rapat agar itu tidak terjadi, maka “kepala burung yang di atas” mesti mau berbagi pada “kepala burung yang di bawah”. Kalau sampai kepala bawah tidak makan atau makan racun, yaitu terkena Covid-19 secara masif, maka yang akan sengsara bukan hanya kepala atap, melainkan tubuh bangsa ini yang akan menderita semuanya. Kekayaan yang disimpan juga tak ada artinya. Semua industri dan mesin ekonomi macet. Bangunan piramida tadi ambruk semuanya, rata dengan tanah. Kalau para konglomerat mau menyumbangkan 50% dari tabungannya untuk melawan Covid-19, saya kira bayangan kelam itu akan terhindar. Kalau tidak mau, saya khawatir ungkapan di atas akan terjadi. “Tiji tibeh, barji barbeh”.

*) Ketua Tidar Heritage Foundation (THF)

Tulisan ini pernah dimuat di Kompas edisi 30 April 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here