Korona, Elite, dan Filantropi Warga

0
350
Dokter Corona Rintawan (dua dari kanan) menjadi ketua penanganan Covid-19 untuk rumah sakit-rumah sakit Muhammadiyah. (RMOL)

Oleh: Eriton *)

KLIKMU.CO

Dampak pandemi korona kian mencemaskan. Sampai detik ini telah menjangkiti 203 negara di seluruh dunia sejak Desember tahun lalu mewabah di Wuhan, Cina. Kurang dari 4 bulan, hampir 1 juta orang terpapar dan puluhan ribu meninggal dunia. Di Indonesia, menurut data Kemenkes per 3 April, ada 1.986 orang yang positif korona dan 181 orang tidak tertolong nyawanya. Itu pun belum cukup karena statistik harian terus meningkat di seluruh dunia.

World Health Organization, sebagai lembaga paling otoritatif, telah menginstruksikan kepada semua negara terus bergerak bersama melawan pandemi ini. Lembaga Kesehatan Dunia tersebut pada Rabu 1 April lalu dalam konferensi persnya mengamanatkan agar menggerakkan semua sektor, termasuk komunitas, dalam memerangi Coronavirus Disease-2019 (Covid-19). Tidak hanya itu, menurut WHO, konsolidasi perlu dilakukan dalam segala bidang. Bukan hanya kesehatan, akan tetapi juga sosial hingga ekonomi.

Mungkin saja WHO telah mengira-ngira dampak destruktif lebih besar ke depan. Pasalnya, korona memang butawarna. Tidak mengenal negara maju, berkembang, atau negara miskin. Terlebih soal strata sosial. Para petinggi negara pun masuk daftar yang terinfeksi korona. Menteri Perhubungan RI Budi Karya, Perdana Menteri dan Menteri Kesehatan Inggris Boris Johnson dan Matt Hancock, anggota Kerajaan Inggris, Pengrenan Charles, hingga Kepala Staf Angkatan Darat Italia, Salvatore Farina.

Sementara itu, menyikapi perkembangan yang ada, pemerintah kita telah melakukan langkah-langkah maju. Pembangunan RS khusus korona di Batam, Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dan kabarnya akan menggelontorkan dana 405, 1 triliun, yang dialokasikan untuk bidang kesehatan, ekonomi, dan sosial. Tentu saja upaya tersebut adalah komitmen elite melawan korona. Akan tetapi, itu saja tidak cukup, tanpa dukungan dari semua anak bangsa.

Kedermawanan sebagai Pilihan

Fenomena korona menyodorkan kita data bahwa kedermawanan anak bangsa masih terpatri. Ini nyata dari apa yang kita lihat di lapangan. Betapa antusiasme masyarakat dalam bederma sangat tinggi. Meski dalam segala keterbatasan, ternyata kemurahan hati tidak pernah kehilangan ruang. Mereka tidak melihat berapa harta benda yang dipunya. Justru yang terpikir adalah masih banyak hal yang bisa dilakukan dalam situasi seburuk apa pun. Kini memberi apa saja yang dimiliki untuk meringankan beban negara dan saudara kita sebangsa merupakan pilihan.

Beberapa hari lalu viral di media sosial, Habib Hasan Mulachela membantu warga di Solo dengan membagikan beras dan uang. Alasan sederhananya: hanya itu yang bisa dia perbuat. Di pihak lain, organisasi keagamaan, LSM, juga juga turut ambil andil. Muhammadiyah, misalnya. Ormas “tajir” ini jauh-jauh hari telah menyiapkan sejumlah rumah sakit miliknya untuk menanggulangi warga terpapar korona dan tes kesehatan gratis. Pembagian masker dan hand sanitizer, penyemprotan vaksin, hingga membentuk tim relawan. Semuanya terkoordinasi melalui Lazismu dan MDMC.

Ragam cara lain juga terus diupayakan. Penggalangan dana di kitabisa.com, misalnya. Yang membuka peluang siapa saja untuk terlibat membantu. Meski sumbangan tersebut berjumlah kecil. Najwa Shihab merilis sebuah video pendek yang mengesankan mengenai harapan mereka donatur dari ragam profesi, yang memberi sebisanya di kitabisa.com.

Masih banyak yang tidak terpantau turut terlibat meringankan beban semua dalam melawan Covid-19. Mungkin saja mereka yang menjual harta benda miliknya, kemudian uangnya disumbang, para dokter bertugas profesional sampai-sampai ada yang menyumbang karena terpapar virus, para aktivis mahasiswa yang melakukan edukasi korona di desa-desa. Atau, mungkin mereka yang tidak bisa memberikan apa-apa, memilih di rumah mengikuti anjuran dokter dan pemerintah guna memutus rantai persebaran korona.

Badai Pasti Berlalu

Yuval Noah Harari dalam sebuah tulisan lepasnya yang bertajuk “Dunia setelah Virus Korona” di Financil Times memberikan stimulus tentang optimisme. Bahwa apa pun tantangan global yang lahir dapatlah diatasi sejauh ilmu pengetahuan (akal sehat) dijadikan patokan. Tidak ngotot dan ngeyel. Pun apa yang dilakukan semua saudara kita tersebut sarat pesan yang optimisme.

Bayangkan saja, mereka bukan partai politik, politisi, apalagi kandidat kepala daerah: mereka bebas dari kepentingan politik partai apa pun dan siapa pun.
Mereka semua cuma rakyat biasa dan berprofesi biasa. Yang secara individu maupun terhimpun melalui organisasi. Akan tetapi tergerak naluri manusiawinya melihat realitas sosial yang tengah kita hadapai saat ini.

Secara tidak langsung kepedulian bersama tersebut melahirkan harapan baru. Bahwa kerelaan, semangat gotong royong, akan terus hadir. Tantangan apa pun yang akan dihadapi ke depan dipastikan dapat teratasi. Masyarakat mulai dari desa hingga perkotaan telah menjadi garis depan menerapkan perilaku wawas diri hingga ragam aktivitas sosial positif lainnya. Tujuannya satu, yakni menciptakan tatanan sosial yang nyaman kembali bagi semua.

Spirit filantropi masyarakat tersebut haruslah terus dirawat dan ditumbuhkembangkan oleh elite negeri ini. Utamanya dari godaan kelompok yang sengaja mencari keuntungan pribadi, baik politik maupun ekonomi. Berita hoax (tidak benar) dan penimbun masker, misalnya. Beredarnya berita bohong di tengah pandemi ini membuat masyarakat terpecah dan kehilangan soliditas.

Mengapa gerakan swadaya ini perlu dirawat, sebab praktis lebih cepat dirasakan kehadirannya. Ketimbang kebijakan pemerintah yang membutuhkan serangkaian proses birokrasi rumit dan politis. Selain itu, peran-peran di akar rumput tersebut telah berfungsi sebagai stimulator baru bagi mereka yang tak berdaya di segala segi. Baik psikologis, ekonomi, kesehatan, dan seterusnya. Di lain sisi, tentu saja menjadi cambuk kepada pemerintah untuk berbuat lebih keras lagi melawan korona dan apa saja yang bisa merenggut kesejahteraan rakyat. Termasuk omnibus law, rencana pembebasan koruptor, kenaikan gaji KPK, dan sejumlah kebijakan oportunis lainnya.

*) Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Malang Raya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here