Korona Musuh Bersama

0
241

KLIKMU.CO

Oleh: Edy Susanto MPd *)

Dunia berduka dengan munculnya pandemi Covid-19 yang berawal dari Provinsi Wuhan, China, beberapa waktu yang lalu. Berita dari berbagai media di penjuru dunia tak terkecuali Indonesia menyoroti virus mematikan itu. Covid-19 menjadi headline hampir di semua jenis media. Tidak lama berselang, Covid-19 “menyerbu” berbagai negara, Italia, Turki, Malaysia, Amerika, Korea Selatan, Iran, Jepang, Perancis, Spanyol, Swiss, dan tak ketinggalan negara kita tercinta, Indonesia. Korban akibat infeksi virus korona sudah mencapai ribuan manusia di seluruh dunia.

Di awal pandemi Covid-19 masuk Indonesia sekitar medio bulan Maret sampai saat ini, masih banyak warga Indonesia yang hampir tidak percaya bahwa Covid-19 itu ganas menyerbu siapa saja di dekatnya, dapat melalui droplet (percikan), sentuhan fisik, batuk, bersin, atau memegang sesuatu yang dihinggapi Covid-19. Lonjakan korban berjatuhan di ibu kota Indonesia, Jakarta, dan disusul di beberapa provinsi lainnya. Liputan  berbagai jenis media mainstream hampir tak terputus untuk melaporkan penambahan korban positif Covid-19, ODP (orang dalam pemantauan), PDP (pasien dalam pengawasan), dan korban meninggal dunia.

Imbauan pemerintah, dokter, ormas besar, yaitu Muhammadiyah, dan relawan tak henti-hentinya untuk memberikan pemahaman pada masyarakat bahwa ancaman pandemi Covid-19 datang dari arah mana pun, dari siapa pun, dan kapan pun. Virus ganas itu tidak memandang status sosial, ekonomi, dan gelar intelektual seseorang untuk diserang kekebalan tubuhnya. Terbukti  pejabat perdana menteri Inggris (Boris Johnson), menteri kesehatan Israel ( Yaakov Litzman), wali kota, dokter, politikus, rakyat biasa terinfeksi virus korona.

Masih ditemukan kerumunan orang di warung kopi atau tempat nongkrong sekedar ngobrol santai, beraktavitas di banyak orang dengan tidak mempertimbangkan physical distancing (jaga jarak fisik) atau social distancing ( jaga jarak sosial) minimal satu meter, tidak memakai masker dengan standar N95, memegang makanan tanpa cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sesuai anjuran para dokter, atau tidak memakai hand sanitizer untuk membersihkan tangan dari kuman atau virus adalah fenomena kurangnya kesadaran seseorang tentang arti penting kesehatan dirinya. Siapa pun dapat menularkan dan tertular virus korona. Lebih baik mencegah daripada mengobati, kata guru olahraga dan kesehatan saya pada waktu saya masih duduk di bangku SMP.

Polisi dan aparat pemerintah lainnya tidak tinggal diam untuk mengambil sikap pencegahan. Menyemprot sepanjang jalan tertentu, perkampungan, dan beberapa tempat vital seperti sekolah dan perkantoran. Bubarkan kerumunan dalam bentuk apa pun, resepsi pernikahan, sunatan, wisuda, tamasya, dan lain-lain tanpa pandang bulu adalah tindakan pencegahan dan harap dimaklumi demi menghindari bertambah  banyak korban berjatuhan.

Pemerintah melakukan preventif, yaitu meniadakan kerumunan massa di lingkungan kerja pemerintahan dan lembaga pendidikan. WFH (work from home) untuk para ASN, dosen, dan guru. Dihapusnya UNBK SMA/ SMK, SMP/MTs, dan UN SD/MI merupakan langkah bijak. Utamakan keselamatan diri dan cari alternatif solusi adalah langkah cerdas. Siswa dan mahasiswa belajar di rumah (BDR) sudah hampir satu bulan lamanya. Belajar melalui daring (dalam jaringan) atau online adalah sebuah keniscayaan. Hal yang demikian tentunya menimbulkan pro dan kontra di lapangan. Ada sisi positif dan negatifnya. Tidak semua siswa dan orangtua siap menghadapi era digital.

Ketangguhan keluarga dalam menerapkan pendidikan karakter  betul-betul diuji. Orang tua harus dapat menjadi guru yang baik di rumah, membimbing ibadahnya, belajarnya, dan pembiasaan baik di rumah seperti kemandirian, tanggung jawab, dan gotong royong. Yang perlu dipahami oleh orang tua bahwa penerapan pendidikan karakter di rumah adalah paling utama, sedangkan sekolah yang kedua. Peran ganda orang tua dalam kondisi seperti ini tidak dapat ditolak dan harus optimal demi buah hati tercinta.

Covid-19 tidak kasatmata namun dapat dikenali gejala-gejala awalnya pada saat masuk ke tubuh manusia. Ditandai dengan gejala ringan, setelah itu bisa membaik atau memburuk tergantung kondisi imun tubuh pasien. Menurut para dokter yang menangani pasien Covid-19 bahwa gejala sakit setiap pasien dapat bervariasi. Gejala infeksi virus korona muncul dalam rentang waktu 2-14 hari setelah terpapar virus korona. Gejala yang dapat dilihat yaitu demam sekitar 38 derajat Celsius, lemas, batuk tidak berdahak, pegal-pegal, dan tidak punya nafsu makan.

Sifat agresif dan masif virus korona menjadikan korban berjatuhan dalam waktu sekejab. Dalam kondisi seperti ini butuh kepedulian masyarakat untuk bau membau dalam rangka pencegahan. Pemerintah tidak dapat sendirian dalam menanggulangi dan menangani pandemi Covid-19 ini. Warga bergotong royong melindungi warganya sendiri dalam bentuk penyemprotan di lingkungan warganya, karantina mandiri, membatasi tamu masuk kampung adalah langkah bijak. Warga tidak harus menunggu uluran bantuan dari pemerintah. Hal demikian juga dilakukan oleh ormas Islam, yaitu Muhammadiyah. Dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah sampai Pimpinan Ranting (PRM) seluruh Indonesia bersinergi untuk melawan Covid-19.

Pengurus Pimpinan Cabang (PCM) Ngagel tidak mau ketinggalan dalam memutus rantai persebaran Covid-19. Dibentuknya Satgas Anti Covid-19 adalah langkah positif dalam ikut serta menanggulangi dan menangani dampak negatif Covid-19 pada masyarakat akar rumput. Satgas melakukan penyemprotan masjid dan mushala, sekolah, dan rumah warga secara berkala. Selain itu, Satgas Anti Covid-19 yang memiliki sekretariat di Jln. Pucang Jajar No. 15 Surabaya ini bersinergi dengan Kantor Layanan Lazismu PCM Ngagel, yaitu melakukan pembagian 200 paket sembako dan 650 masker, serta klinik kesehatan dengan tujuh dokter dan delapan paramedis yang siap membantu masyarakat yang membutuhkan rujukan.

*) Ketua Satgas Anti Covid-19 PCM Ngagel, Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here