Kristologi #13: Mengapa Umat Islam Tidak Bisa Menerima Injil?

0
224
Ilustrasi diambil dari ladysmithgazette.co.za

KLIKMU.CO

Oleh K.H. Abdullah Wasi’an*)

Sebagai seorang Muslim kita memang tidak bisa menafikan bahwa ada beberapa isi kitab Taurat dan Injil yang dibenarkan oleh Alquran. Nabi Muhammad saw. memerintahkan kepada umat Islam untuk menerima ayat Al-Kitab yang sesuai dengan Alquran dan menolak yang bertentangan dengan Alquran.

Sebagai contoh, kita bisa menerima Matius 4: 2 yang menceritakan Yesus berpuasa selama 40 hari 40 malam, karena sesuai dengan QS Al-Baqarah: 183. Tetapi, kita menolak sebagian besar dari surat kiriman Paulus, Petrus, Yohanes, Yakub, dan Wahyu kepada Yohanes. Karena isinya bertentangan dengan Alquran. Demikian juga dengan kitab Perjanjian Lama. Kita bisa menerima Ulangan 18: 18 karena sesuai dengan QS Al-A’raf: 157 yang menjelaskan bahwa datangnya Nabi Muhammad saw. sudah dinubuatkan di dalam kitab Taurat dan Injil.

Tetapi, kita menolak Yehezkiel 4: 12-15, karena isinya tidak bisa diterima akal sehat. Bunyi surat itu adalah: “Makanlah roti itu seperti jelai yang bundar dan engkau harus membakarnya di atas kotoran manusia yang sudah kering di hadapan mereka.” Selanjutnya Tuhan berfirman: “Aku akan membuang orang Israel ke tengah-tengah bangsa dan demikianlah mereka akan memakan rotinya najis di sana.” Maka aku jawab: “Aduh, Tuhan Allah, sesungguhnya aku tak pernah dinajiskan dan dari masa mudaku sampai sekarang tak pernah kumakan bangkai atau sisa mangsa binatang buas, lagi pula tak pernah masuk ke mulutku ini daging yang sudah basi.” Lalu firman-Nya kepadaku: “Lihat kalau begitu, Aku mengizinkan engkau memakan kotoran lembu ganti kotoran manusia dan bakarlah rotimu di atasnya.” Ayat ini jelas tidak layak disebut sebagai firman Tuhan. Benarkah Allah Yang Maha Suci begitu rendah kata-katanya?

Demikian juga kita menolak Hosea 1: 2, karena isinya sangat tidak pantas disebut sebagai kitab suci. “Ketika Tuhan mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah la kepada Hosea: Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi Tuhan.”

Umat Islam juga menolak cerita Nabi Luth as. (Lot) yang berzina dengan kedua putrinya sampai melahirkan anak (Kejadian 19: 33-34). Demikian juga menolak ayat yang menyebutkan Nabi Daud as. berzina dengan Basyeba istri Uria, panglima perang Daud (Samuel II 11:4), juga Nabi Sulaiman as. (Solomon) beristri 700 dan memiliki gundik 300 orang. Dan masih banyak lagi ayat-ayat Bibel yang mencemari nama baik para nabi dan rasul.

Lebih parah lagi kalau melihat pertentangan ayat-ayat Injil sendiri begitu banyak, sehingga kita tidak bisa menerima sebagai kitab suci atau Firman Tuhan. Contohnya Matius 10: 10, Yesus memperkenankan muridnya hanya membawa tongkat. Tetapi, Markus 6: 8, Yesus melarang muridnya meskipun hanya membawa tongkat.

Nabi Muhammad as. telah memberi patokan kepada kita bahwa Al-Kitab (Bibel) telah banyak dicemari oleh tangan-tangan manusia, sehingga tidak suci lagi. Taurat dan lnjil sekarang hanya merupakan catatan sejarah yang ditulis oleh orang-orang Israel dan Kristen. Meskipun hanya sebagai catatan sejarah, kata dan kalimat yang terdapat dalam dua kitab tersebut juga sudah dikurangi, ditambah dan disisipi dengan kata-kata yang seharusnya tidak boleh terjadi.

Bukti Al-Kitab telah disisipi terdapat dalam Kejadian 22: 2 tentang siapa yang dikorbankan Ibrahim dalam peristiwa penyembelihan anaknya. Sisipan itu dilakukan oleh orang Yahudi karena tidak senang jika keturunan Ismail menjadi bangsa yang mulia. Karena dalam Kejadian 22: 18 disebutkan : “Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengar firman-Ku.” Kalimat “oleh keturunanmulah” itu mengacu kepada siapa yang menjadi korban dalam Kejadian 22: 2. Sehingga jika Ismail yang dikorbankan, berarti keturunan Ismail yang mulia, yaitu bangsa Arab, bukan bangsa Yahudi. Karenanya, mereka lalu menyisipkan kalimat “yaitu Ishak” dalam ayat “Ambillah olehmu akan anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yaitu Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Ku-katakan kepadamu.”

Di samping itu Injil juga sering mengalami perubahan. Buktinya, lihat Al-Kitab cetakan tahun 1968 pada Korintus 17: 1. Ayat tersebut berbunyi: “Menjawab segala pertanyaan di dalam suratmu itu, baiklah laki-laki jangan menyentuh perempuan.” Sedangkan dalam kitab, ayat dan pasal yang sama cetakan tahun 2000 menyebutkan: “Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku, adalah baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin”. Ayat ini kemungkinan besar juga bisa berubah pada masa-masa mendatang.

Perubahan itu adalah sesuatu yang sangat mungkin. Karena kaum Yahudi dikenal sebagai bangsa yang suka mengubah Firman Tuhan. Dalam surat An-Nisa’ 4: 46 Allah berfirman: “Sebagian dari kaum Yahudi mengubah letak kalimat dari tempatnya (semula).” [*]

K.H. Abdullah Wasi’an Kristolog jago dialog dan penulis beberapa buku Kristologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here