Kristologi #18: Meluruskan Pandangan Kaum Kristiani terhadap Islam (2-habis)

0
552
Ilustrasi diambil dari MK Wiro

KLIKMU.CO

Oleh K.H. Abdullah Wasi’an*)

5. Mereka menganggap bahwa tidak semua Alquran firman Allah. Buktinya terjadi kejanggalan dalam surat Al-Baqarah: 30 yang artinya: “Allah berfirman, bahwa Allah akan menciptakan ‘khalifah’ di bumi. Lalu para Malaikat bertanya: Apakah Engkau, ya Tuhan, akan menciptakan makhluk yang berbuat kerusakan di muka bumi dan saling menumpahkan darah? Padahal kami (para Malaikat) senantiasa me-Mahasucikan dan memuji-Mu.”

Surat tersebut menurut mereka tidak bisa dikatakan sebagai firman Tuhan, karena terdapat ucapan Malaikat. Demikian juga dalam surat Al-A’raf: 12 yang di dalamnya ada ucapan setan: “Aku lebih mulia daripadanya (Adam).”
Menjawab pertanyaan tersebut kita bisa terangkan bahwa semua ucapan itu adalah firman Allah yang menirukan ucapan malaikat dan setan.

6. Orang-orang Kristen menilai bahwa Tuhannya kaum muslimin adalah sebuah benda yang terdiri dari tiga unsur zat yaitu, gas, cair, dan padat. Mereka berpandangan seperti itu karena kaum muslimin sering mengatakan bahwa Allah itu adalah Dzat Yang Maha Kuasa, dll. Mereka mempermasalahkan kata-kata ‘dzat’.

Menjawab penilaian tersebut kita bisa terangkan sebagai berikut: Kata dzat atau zat merupakan lawan dari kata sifat. Contohnya, gajah itu sifatnya lemah lembut, penurut, dan bisa bergaul dengan manusia secara baik. Sedang, dzat gajah adalah tubuhnya besar dan kulitnya tebal. Allah juga memiliki sifat dan dzat. Sifat Allah itu penyayang, pengampun, dan seterusnya sebanyak 99 sifat (Asmaul Husna). Sedang, dzat Allah adalah tidak sama dengan semua makhluk-Nya. Ini diterangkan dalam surat Asy-Syura: 11 yang artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah), dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

7. Orang Kristen meragukan Alquran sebagai wahyu Allah. Karena menurut mereka, ada beberapa ayat Alquran bertentangan antara yang satu dengan lainnya. Buktinya dalam surat Al-Qalam: 10 yang isinya Allah melarang manusia banyak bersumpah, karena orang bersumpah itu menunjukkan kehinaan, bertentangan dengan perbuatan Allah sendiri yang sering bersumpah. Misalnya Allah bersumpah “Demi waktu Dhuha” atau “Demi kuda perang yang berlari kencang,” dan lain-lainnya. Selain itu, Allah banyak bersumpah dengan nama makhluk-Nya yang lebih rendah dari Allah itu sendiri. Padahal dalam Al-Kitab, Allah bersumpah atas nama Diri-Nya sendiri.

Menjawab keraguan itu kita bisa terangkan sebagai berikut: Yang dimaksud dengan larangan Allah terhadap orang yang banyak bersumpah ditujukan kepada pedagang yang belum maju usahanya, sehingga mereka sering bersumpah atas nama Allah untuk melariskan usahanya. Adapun Allah swt. bersumpah banyak sekali dalam Alquran merupakan “machtsyertoon” (unjuk kekuatan). Ini dilakukan terhadap bangsa Arab yang memiliki watak dan karakteristik yang angkuh dan sombong ketika itu.

Ayat-ayat Allah swt. yang dibawa Nabi Muhammad saw. tidak mudah mereka terima, terutama ayat-ayat yang menurut mereka tidak masuk akal. Karenanya, Allah bersumpah untuk menunjukkan kepada mereka bahwa tidak ada yang sulit bagi Allah untuk meiakukan sesuatu. Misalnya, orang Arab tidak percaya jika kelak semua manusia dibangkitkan oleh Allah. Untuk menepis ketidakpercayaan mereka, maka Allah bersumpah bahwa menghidupkan kembali manusia yang sudah mati merupakan sesuatu yang mudah daripada penciptaan jagad raya ini.

Sedang, tentang Allah bersumpah atas nama makhluk-Nya diterangkan dalam sebuah Hadis shahih, bahwa Allah boleh bersumpah atas nama makhluk-Nya, tetapi manusia dilarang bersumpah selain atas nama Allah. [*]

K.H. Abdullah Wasi’an, Kristolog jago dialog dan penulis buku-buku Kristologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here