Kristologi #21: Tentang Hukum Potong Tangan

0
256
Ilustrasi diambil dari desiringgod.org

KLIKMU.CO

Oleh K.H. Abdullah Wasi’an*)

Adalah keliru jika ada anggapan bahwa hukum potong tangan bagi pencuri itu tidak manusiawi, Hukum potong tangan itu merupakan hukum dari Allah yang pasti mengandung banyak manfaat. Hukum ini sudah berlaku sejak agama sebelum Islam. Islam hanya melanjutkan dari hukum agama sebelumnya.

Dalam Matius 18:8 disebutkan: “Kalau tanganmu atau kakimu membuat engkau berdosa, potonglah dan buanglah. Lebih baik engkau hidup dengan Allah tanpa sebelah tangan atau kakimu daripada engkau dibuang ke dalam api neraka dengan kedua tangan dan kakimu.”

Dari keterangan ayat ini jelas bahwa hukum porong tangan berlaku di agama Kristen. Jadi sangat keliru pandangan orang-orang Kristen yang mengatakan bahwa hukum potong tangan itu tidak manusiawi. Karena sesungguhnya dalam agama mereka juga ada perintah tentang hukum tersebut.

Dalam Islam, hukum potong tangan ini terdapat dalam surat Al-Maidah 5:38 yang bunyinya:
“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri , potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan bagi apa yang mereka lakukan, dan sebagai siksaan dari Allah SWT. Sedang Allah Malta Perkasa lagi Malta Bijaksana.”

Adapun batas-batas hukum potong tangan, sampai pergelangan tangan Orang yang terkena hukuman ini bila ia melakukan pencurian dengan batas minimal (nishabnya) 3 dirham atau seperempat dinar.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum potong tangan dalam Islam lebih terperinci daripada dalam Kristen (ahli Kitab). Dalam Islam jelas bahwa seseorang pencuri bisa dikenakan hukum potong tangan jika mencuri sebesar 3 dirham atau dinar, dan tangan yang dipotong sampai pergelangan tangan. Sedangkan dalam Al-Kitab, kedua hal tersebut tidak terdapat nash-nya yang shahih, sehingga sulit menentukan batasan hukuman tersebut dan batas tangan yang dipotong.

Lagi pula, dalam sejarah ke-Kristenan, tidak pernah ada seorang pencuri yang dihukum potong tangannya. Sedang daiam sejarah Islam, pernah seorang wanita terhormat dari suku Makhzumi kena hukuman ini. Sebelum hukuman itu dijatuhkan, beberapa sahabat mengadakan perundingan dengan maksud agar wanita itu dibebaskan saja. Karenanya mereka sepakat menunjuk sahabat Usamah bin Zaid yang dikasihi oleh Rasulullah untuk minta kepada beliau agar wanita tersebut dibebaskan dari hukum potong tangan.

Mendengar usul para sahabat tersebut, Rasulullah bersabda dengan nada tinggi: “Apakah kalian akan mengubah salah satu hukum dari hukum-hukum Allah? Ketahuilah oleh kalian, andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, pasti akulah yang memotong tangannya!”

Bagi seorang muslim, menaati Al-Qur’an dan Sunnah adalah Ibadah, sesuai dengan perintah Allah “Wahai orang-orang yang beriman, taati Allah dan taati Rasul” yang terdapat pada Surah An-Nisa’ 59. Termasuk mentaati Rasul adalah mentaati hukum potong tangan yang ditetapkan Allah dalam Al-Qur’an. Maka jelaslah bahwa hukum Potong Tangan berdasar kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits. [*]

K.H. Abdullah Wasi’an, Kristolog jago dialog dan penulis buku-buku Kristologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here