Kristologi #22: Tentang Hukum Rajam

0
396
Ilustrasi diambil dari merdeka.com

KLIKMU.CO

Oleh K.H. Abdullah Wasi’an*)

Banyak pertanyaan dari orang-orang Nasrani tentang hukum rajam dalam Islam. Mereka menganggap bahwa hukum itu sudah tidak relevan dengan kondisi sekarang, karena bertentangan dengan asas “perikemanusiaan” yang saat ini dijunjung tinggi oleh umat manusia di seluruh dunia.

Orang-orang Barat yang notabene beragama Kristen menilai bahwa hukum rajam itu kejam dan tidak berperikemanusiaan. Mereka sangat tidak setuju dengan hukum syariat Islam ini, Mereka beranggapan bahwa seorang pezina sebaiknya tidak dirajam (dilempari sampai mati), tetapi cukup dimasukkan penjara, kemudian dibimbing, sehingga sewaktu keluar dari penjara ia menjadi orang yang baik.

Terhadap penjelasan mereka itu, kita bisa katakan bahwa hukum rajam itu sebenarnya sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam. Hukum rajam itu bukan produk Al-Qur’an, melainkan hanya melanjutkan dari Al-Kitab. Jadi Al-Qur’an melanjutkan hukum-hukum sebelumnya yang tercantum dalam Al-Kitab. Buktinya dalam Ulangan 22:23-24 dengan tegas menyebutkan tentang hukum rajam.

Ayat tersebut berbunyi: “Misalkan di dalam kota seorang laki-laki tertangkap basah selagi ia bersetubuh dengan seorang gadis yang sudah bertunangan dengan orang lain. Dalam hal ini mereka harus dibawa ke luar kota dan dilempari batu sampai mati. Gadis itu harus dibunuh, karena ia tidak berteriak minta tolong, sedangkan hal itu terjadi di dalam kota, di mana teriakannya dapat didengar. Dan laki-laki tersebut harus dibunuh, karena ia bersetubuh dengan gadis yang sudah bertunangan. Dengan menghukum keduanya itu, berarti kamu memberantas kejahatan itu.”

Dari penjelasan di atas kita bisa tahu bahwa sesungguhnya hukum rajam itu sudah berlaku jauh sebelum Islam datang. Hanya saja para pemeluknya tidak mau melaksanakan aturan yang ada dalam kitabnya. Mereka berpandangan bahwa hukum rajam itu telah diganti dengan “hukum kasih” oleh Yesus.

Menanggapi argumen tersebut kita bisa katakan bahwa alasan itu tidak benar. Keengganan Yesus melaksanakan hukum rajam yang tercantum dalam Ulangan 22:23-24 itu karena waktu itu Yesus tahu bahwa jika ia melaksanakannya, maka akan dijebak oleh kaum Yahudi. Seandainya Yesus melaksanakan hukum rajam sewaktu diminta menghukumi seorang wanita pezina, maka ia akan dihukum Raja Herodas yang berkuasa waktu itu. Untuk itu, Yesus bersiasat, hanya orang laki-laki yang tidak pemah berdosa saja yang melempari wanita itu dengan batu sampai mati. Ini dijelaskan dalam Yohanes 8:1-11 yang berbunyi:

1) Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya, Ia duduk dan mengajar mereka.
2) Maka ahli-ahli Taurat dan orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zina.
3) Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepad.a Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika berbuat zina.”

4) Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian.
5) Apakah pendapat-Mu tentang hal itu? Mereka mengatakan itu untuk mencobai Dia supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
6) Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri Lalu berkara kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

8) Lalu ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
9) Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri bersama dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.

10) Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepada perempuan itu: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukumi engkau?”
11) Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukumi engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai sekarang.”

Ini berbeda dengan Nabi Muhammad. Beliau tidak takut dengan siapapun untuk melaksanakan hukum secara tegas. Rasulullah hanya takut kepada Allah semata.
Hukum rajam dalam Islam dikenakan kepada pezina yang sudah pernah menikah.

Pezina yang dihukum rajam ialah pezina “muhshon” yauu yang sudah bersuami (bagi wanita) dan sudah beristri (bagi laki-Iaki). Sedang laki-laki atau perempuan yang belum pernah menikah disebut ghoiru. muhshon, dan hukumannya didera 100 kali. [*]

K.H. Abdullah Wasi’an, Kristolog jago dialog dan penulis buku-buku Kristologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here