Kristologi #27: Bisyarah Kenabian Muhammad saw dalam Bibel

0
171
Ilustrasi diambil dari wikipedia

KLIKMU.CO

Oleh Tim Abdullah Wasi’an Foundation (AWF)

Dalam majalah “Sinar Kasih” (S.K.) No. 60 halaman 32 Sdr. Hamran Ambrie antara lain menulis sebagai berikut: “BIBEL (ALKITAB) Tidak Pernah Ada Bernubuat Untuk Kenabian MUHAMMAD”.

Dari Sdr. Pdt. Agustinus Surabaya mengirimkan kutipan/fotocopy penulisan yang. berjudul “Muhammad Saw. Dalam BIBEL” oleh A.E. Wahyudi. Tulisan/ copy ini diambil dari majalah Al Muslimun (tidak disebutkan tanggal/tahunnya), antara lain sébagai pembuktian nubuat itu, dikemukakan:

1. Kitab Ulangan 18:18. Dalam ‘ayat ini ditunjukkan kata-kata “nabi” yang sama dengan Musa Maka mereka artikan itu adalah Muhammad, bukan untuk Yesus. Karena untuk kehadiran Yesus sudah dinubuatkan dalam Yesaya 7:14.
2. Kitab Ulangan 34:10 membuktikan bahwa di kalangan Israil tidak akan dibangkitkan lagi seorang nabi seperti Musa yang dikenal Tuhan dengan berhadapan muka.

3. Kalau Muhammad itu bukan nabi yang dinubuatkan, tentu ia mati terbunuh, sebagaimana dikatakan dalam Ulangan 18:20. Ternyata Muhammad yang mengaku jadi Nabi, hanya mati secara wajar saja.
4. Karena itu, penulis A.E. Wahyudi menyarankan agar segera percaya kepada kenabian Muhammad. Kalau tidak pasti akan terancam menurut Ulangan 18:19
5. Penulis A.E. Wahyudi mengatakan bahwa masih banyak lagi ayat dalam Bibel mengisyaratkan Muhammad, misalnya Yesaya 42 :1-4, Habakuk 3:3, Hagai 2:7, Ulangan 33:2 dan lain-lain.

Jawaban Redaksi S.K, (Hamran Ambrie):
Sebenarnya secara terperinci masalah ini sudah kami tulis dalam sebuah buku yang berjudul “Tidak Ada Nubuat Kenabian Muhammad Dalam Alkitab” oleh Hamran Ambrie. Semua nas/dalil yang dikemukanan Sdr. A.E. Wahyudi itu sudah dijawab.
Sehingga untuk sementara ini kami menduga apa yang dikemukakan Sdr. A.E. Wahyudi itu merupakan penjiplakan/pengulangan saja. Meskipun demikian, dalam kesempatan yang baik ini kami jawab secara khusus untuk Sdr. A.E. Wahyudi itu sebagai berikut :

1. Salah satu fungsional Yesus itu adalah juga memang seorang “Nabi” (Matius 21:10–11, Matius 13:57, Lukas 4:24, Yoh. 4:44). Karya Yesus sebagai seorang nabi adalah nubuatnya dalam Matius 24:14, Nats Yesaya 7:14 hanya menunjukkan orang yang antara lain berfungsi nabi itu, dilahirkan oleh seorang Ibu perawan/tanpa suami. Makna yang sama dengan Musa disini, harus dilihat dari hal-hal yang unique, tidak ada tandingan kesamaan yang lain. Dalam hal ini ialah :
a. Lahir terancam bunuh (Musa oleh Fir’aun, Yesus oleh Herodes)
b. Gara-gara lahir (Musa dan Yesus) pada zamannya masing-masing terjadi peristiwa yang sama, yaitu anak laki-laki umur 2 tahun kebawah dibunuh
c. Sama-sama bermukjizat (Muhammad tidak memiliki mukjijat, Al-Baqarah : 106)
d. Sama-sama membawa syariat (Musa syariatnya Taurat dan Yesus syariatnya Injil dari Tuhan), Muhammad membawa syariat Qur’an, bukan dari Tuhan.
e. Sama-sama membawa misi pembebasan (Musa membebaskan Israil dari perbudakan Mesir dan Yesus membebaskan dari belenggu dosa)
Demikian keterangan Sdr. Hamran Ambri.

Jawaban Saya :
Meskipun sdr. Hamran Ambri dapat mengemukanan persamaan-persamaan antara Yesus dengan Musa, lebih banyak daripada yang diterangkan olehnya itu, saya tetap berpendirian bahwa “Nabi” dalam Ulangan 18:18 itu untuk Muhammad (bukan untuk Yesus), karena Ulangan 34:10 jelas menerangkan :
1. Bahwa di kalangan Israil tiada terbangkit pula seorang Nabi, yang dikenal oleh Tuhan muka dengan muka. Dengan ayat ini (Ulangan 34:10) jelas bahwa di kalangan orang Israil tidak aka nada nabi lagi yang seperti Musa. Tapi saya akui, sesudah Musa di kalangan Israil masih lahir lagi beberapa nabi, namun oleh Allah dikatakan tidak ada seorangpun seperti Musa. Dengan demikian jelas, nabi yang seperti Musa itu, lahirnya harus dari luar kaum/bani Israil. Bukan Yesus itu dari Bani Israil? Jadi, Yesus tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai pemenuhan nubuat Ulangan 18:18 itu. Sedangkan nabi dari luar lsrail, tidak lain ialah Muhammad Saw. Untuk menolak keterangan saya (dan semua orang Islam) ini, Sdr. Hamran Ambrie menerangkan, Ulangan 34:10 itu tidak menolak kehadiran Yesus, sebagaimana uraiannya pada halaman 34 point 2 demikian:
2. Ayat Ulangan 34:10, Yesus tidaklah lagi seperti Musa menerima firman berhadapan muka (dalam istilah lain di balik tirai awan tebal atau mihraf), melainkan firman itu menjadi daging kehidupan Yesus

Jawaban saya:
Jika Sdr. Hamran Ambrie berkata, bahwa firman itu telah menjadi daging, yaitu Yesus, sehingga disebut firman hidup, ini bertambah jelas, bahwa “nabi” dalam Ulangan 18:18 itu, adalah menunjuk kepada Muhammad, karena firman Allah diberikan kepada “nabi” itu, bukan Firman Allah itu sendiri.

Di sinilah dituntut kejujuran orang untuk menilainya. Terutama pula kelanjutan ayat Ulangan 34:10 itu berbunyi: ‘yang dikenal oleh Tuhan muka dengan muka’. Ayat ini maksudnya “berhadap-hadapan” bukannya “Tuhan menjelma menjadi daging” (yaitu Yesus). Dan juga, jika dikatakan bahwa Tuhan dan bersama-sama dengan Tuhan itu kalimat (Yahya 1:1) menjelma menjadi manusia (Yesus), ini jelas, bahwa setelah Tuhan menjelma menjadi Yesus di dunia, di langit tidak ada Tuhan lagi. Dalam cerita apapun, taruhlah dalam cerita wayang, jika Bathoro Ismaya. itu menjelma menjadi Semar di dunia, maka di Suralaya tidak ada Bathoro Ismaya lagi. Lha jika masih ada di langit, kan ada dua Tuhan namanya? Tetapi fihak Kristen menolak. Lalu bagaimana? Sdr. Hamran Ambrie berkata, bahwa Al Qur’an salah menguraikannya. Dan karena itu, Sdr. Hamran Ambrie berkata, bahwa Al Qur’an bukan wahyu Allah.
Ini namanya, tak pandai menari, lantai dikatakan tidak rata atau buruk rupa, kaca dipecah.

Selanjutnya Sdr. Hamran Ambrie berkata:
3. Istilah kata “harus mati” dalam Ulangan 18:20 itu bukanlah arti jasmani secara alamiah. Karena semua nabi manapun pasti mati. Mati yang dimaksud di sini adalah kematian rohani, terpisah dengan Allah, kematian yang kekal (neraka).

Jawaban saya
Jawaban Sdr. Hamran Arnbrie di atas, merupakan pengelabuan. Ulangan 18:20 itu bukannya berbunyi “harus mati” melainkan :
20. Tetapi adapun nabi yang melakukan dirinya dengan sombong dan mengatakan firman dengan namaKu yang tiada Kusuruh dikatakan, atau yang berkata dengan nama dewa-dewa, niscaya orang nabi itu akan mati dibunuh hukumnya.

Ayat ini jelas menerangkan, jika ada seseorang yang mengaku dirinya sebagai nabi, tetapi ia mengatakan bahwa ia menerima wahyu dari Tuhan, padahal Tuhan tidak menurunkan wahyu kepadanya, maka orang tersebut, mesti mati terbunuh. Ini jelas mengisyaratkan kepada Paulus. Paulus mengaku menerima wahyu sewaktu dalam perjalanan dari Yerusalem ke Damaskus. Di tengah jalan merasa terkena cahaya, yang di dalam cahaya itu ada Tuhan yang berfirman kepada Paulus, bahwa Paulus harus menyebarkan ajar- an Yesus ke seluruh dunia. (Kisah Rasul 9:19).
Benarkah suara di dalam cahaya itu, suara Yesus? Apa tidak mungkin suara iblis, karena iblis dapat menyerupakan dirinya seperti malaikat suci.

Dan jika Paulus mengaku sebagai rasul, jelas tidak tepat, sebab apa yang diramalkannya tidak terjadi, yaitu tersebut dalam I Tesalonika 4: 16 – 17 yang berbunyi:
16. Karena Tuhan sendiri akan turun dari surga dengan suatu sorak, dengan suara penghulu malaikat serta dengan bunyi sangkakala Allah, maka segala orang yang tidak mati di dalam Kristus, akan bangkit dahulu.
17. Kemudian kita yang sedang hidup, yang tertinggal ini, akan diambil ke dalam awan bersama-sama dengan meteka itu, menghadap Tuhan di dalam awang-awang; demikianlah kelak kita senantiasa bersama-sama dengan Tuhan.

Ramalan Paulus bahwa ia dan orang-orang Kristen yang tertinggal (masih hidup) akan diambil/dijemput oleh Yesus. Lalu bersama-sama menghadap Tuhan. Namun ramalan ini tidak terjadi atau tidak terpenuhi, malah bukannya Yesus yang mengambilnya, melainkan pedang Nero yang memenggal kepalanya di Roma pada tahun 64 Masehi.

Ini jelas menunjukkan, bahwa Paulus itu bukan disuruh oleh Allah, karena itu Paulus dibunuh. Dan karena itu pula jelas, bahwa Paulus itu bukan nabi dan dengan sendirinya bukan rasul. Untuk Yesus pun Ulangan 18:18 itu tidak tepat, karena Yesus mati disalib, padahal orang yang disalib itu menunjukkan kematiannya adalah kematian yang terkutuk, Namun orang Kristen berkilah, bahwa orang yang mati di atas kayu salib itu, justru untuk menebus dosa manusia.

Selain itu jelas pula, yang disalib itu bukan Isa, melainkan orang lain. Terbukti, sewaktu yang tersalib itu mau meninggal dunia, ia berteriak: Eli, Eli, lama sabachtani?
Ini jelas bukan ucapan Yesus, karena Yesus itu jika berdialog dengan Tuhan, mesti mempergunakan kata “Bapa yang di sorga”. Namun Hamran Hambrie salah faham. Pada halaman 27 Hamran Hambrie menjawab, bahwa yang diseru oleh Yesus “Ya Allah” itu adalah wujud Allah itu sendiri, berupa roh yang akan meninggalkan raganya. Selain itu jelas, karena Roh Tuhan sedang keluar dari raga Yesus, maka di langit tidak ada Tuhan lagi.

Selanjutnya Sdr. Hamran Hambrie berkata, bahwa nats Yesaya 7:14 hanya menunjukkan orang yang antara lain berfungsi nabi itu, dilahirkan oleh searang ibu perawan/tanpa suami (point 1, pada halaman 1 makalah ini), ini jelas, bahwa kata “seorang ibu perawan/tanpa suami”, ini merupakan terjemahan yang menyeleweng, karena menurut Bibel bahasa dan huruf Ibrani (dengan terjemahan bahasa Inggeris) yaitu yang berbunyi (bahasa Inggerisnya):

14. Therefore the Lord himself shall give you a sign; Behol, the young woman is with child and she will bear a son, and shall call his name lmmanuel.
Dalam ayat tersebut dikatakan “the young woman” yang artinya “seorang wanita muda”, bukannya “a virgin” yang artinya “perawan” seperti yang dikemukakan oleh Sdr. Hamran Ambrie itu.

“Young woman” berbeda jauh dengan “Virgin”. Young woman dengan terjemahan “wanita muda” ini menunjukkan dan tertuju kepada ibu kandung Muhammad Saw, yang bernama AMINAH. Sedang jika’‘Virgin” terjemahannya ialah “perawan”, dan yang dimaksudkan ialah Maryam ibu Yesus. Ini merupakan pengelabuan yang sangat nyata.

Lagi pula Yesus tidak pernah disebut “Immanuel” melainkan “orang Nazaret”. Nama tersebut untuk pribadi Muhammad Saw. adalah tepat sekali, karena sewaktu beliau Saw. bersama Abubakar, pada waktu melihat pasukan Quraisy yang akan membunuh mereka berdua, pada waktu itu Abubakar sangat takut jika pasukan kafir tahu akan keberadaan beliau berdua dalam gua Tsaur, pasti beliau berdua akan dibunuh mereka, sehingga karena itu Abubakar dalam keadaan sangat takut, maka Muhammad Saw. bersabda: “Jangan kau takut, wahai Abubakar; ketahuilah, bahwa Allah itu beserta kita”.

Selain itu keberadaan Muhammad dan Abubakar tiga hari tiga malam di dalam gua Tsaur ini, tepat sebagai penggenap sabda Yesus, bahwa Anak Manusia akan berada dalam perut bumi tiga hari tiga malam. Namun orang Kristen (Hamran Ambnie) bersitegang keras mengatakan, bahwa Yesus-lah yang menggenapi sabda Yesus itu.
Padahal sewaktu Yesus mati disalib kemudian dikubur, lalu menurut dogma Alkitab bahwa Yesus hidup lagi. Maka coba hitung, berapa lama Yesus berada didalam kubur? Yesus disalib pada hari Jum’at pagi/siang. Sore hari pada waktu mata hari tenggelam, Yesus telah mati, kemudian dikuburkan dan pada hari Minggu Yesus hidup lagi. Dengan demikian, belum sempurna tiga hari tiga malam.

Tetapi Sdr. Hamran Ambrie bersilat lidah, bahwa hari Jum’at dianggap satu hari. Jum’at malam dianggap satu malam penuh. Hari Sabtu dianggap satu hari penuh. Sabtu malam dianggap satu malam penuh dan pagi hari Minggu dianggap satu hari penuh, meskipun baru beberapa jam saja. Meskipun demikian, seluruhnya tidak dapat dikatakan tiga hari tiga malam, karena pada hari Jum’at itu Yesus belum mati. [*]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here