Kristologi #28: Tauhid dan Syirik

0
457
Ilustrasi diambil dari can stock photo
KLIKMU.CO

Oleh K.H. Abdullah Wasi’an*)

Dalam majalah Sinar Kasih No.46 halaman 3, Sdr. Hamran Ambrie memberi jawaban kepada Sdr. Soleman Soemadireja tentang masalah “Tauhid dan Syirik” sebagai berikut:
1. Allah itulah Tuhan, tidak ada Tuhan lain kecuali hanya Allah.
Kalimat di atas ini mungkin terasa asing bagi Saudara kalau ini kami kaitkan dengan iman Kristiani. Karena Saudara dan kebanyakan kawan lainnya tidak memahami iman Kristiani secara wajar dan benar. Padahal kalimat di atas ini adalah merupakan faktor utama iman Kristiani, merupakan landasan Tauhid yang murni itu. Kalau Saudara kurang percaya, mari kita buka dan baca bersama sebuah nats yang terdapat dalam Kitab Yesaya 45:5 yang berbunyi demikian: “Akulah Tuhan dan tiada ada yang lain kecuali Aku, tidak Allah”.

Pada ayat ke 21c dikatakan:
“Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain diriKu, Allah yang adil dan Juru selamat, tidak ada yang lain kecuali Aku”.

Dari dua nats ini cukup menunjukkan kepada kita dengan yakin bahwa Allah itu sajalah Tuhan dan Juru selamat. Tidak ada Tuhan lain, tidak ada Juru selamat lain, kecuali hanya Allah itu saja.

Sekarang kita mau tahu apa wujud Allah yang disebut Tuhan dan Juru selamat itu. Benda angkasa-kah? Bukan! Batu besar-kah! Juga bukan! Manusia-kah? Pun juga bukan! Kalau begitu apakah wujud Allah yang disapa Tuhan atau Juruselamat itu?
Jawabannya mari kita buka dan baca, Yohanes 4:24, “Allah itu Roh”. Kemudian mari kita baca lagi Korintus 3:17” . . . Tuhan adalah Roh”.
Demikian tulisan Sdr. Hamran Ambrie

Jawaban
1. Dalam brosur yang berjudul “Penulisan Al Qur’an itu merupakan pendiktean (imla’) dari Allah kepada Muhammad”, kemudian oleh Muhammad disuruh kepada Jurutulis Al Qur’an untuk mencatat atau menuliskannya. Cara ini berbeda dengan mekanisme penulisan Aikitab, ialah bahwa Injil itu adalah Yesus itu sendiri, yang pada waktu hidupnya tidak pernah ditulis atau disuruh tulis kepada murid-muridnya, melainkan para murid itu hidup sezaman dengan Yesus dan mereka itu menghayati dan merasakan apa yang ada pada Yesus. Maka setelah Yesus tiada lagi di dunia, yaitu selang 60 atau 70 tahun sesudah Yesus tiada, barulah murid itu menyususn dan menulis apa-apa yang pernah dialami dan dihayati mereka selama bergaul dengan Yesus.
Dengan demikian; maka semua penulisan Injil yang empat itu, hanyalah merupakan hasil ingatan atau perasan otak, hasil ijtihad dari para murid Yesus belaka.

Maka karena itu kebenarannya tidak dapat dijamin 100%, karena human report tidak ada yang bersifat mutlak. Itulah sebabnya di. dalam keempat Injil itu terdapat banyak sekali pertentangan-pertentangan Tidak hanya pertentangan kecil antara satu dengan ayat yang. lain, antara lain sebagaimana dikemukakan oleh Sdr Hamran Ambrie sendiri, pertentangan mengenai jumlah tentara Daud yang berselisih menurut Kitb Tawarikh dan Kitab Bilangan dan lain-lain. Bahkan terdapat pula pertentangan-pertentangan lain yang sangat berat antara Injil yang satu degan Injil yang lain.

Sebagai Contoh, marilah perhatikan hal-hal di bawah ini dengan jujur :
1. Dalam Matius 5:17- 1 diterangkan bahwa hukum Taurat akan tetap berlaku, meskipun langit dan bumi hancur sampai semuanya itu terjadi
2. Tetapi di dalam Lukas 16:16 Yesus berkata, hukum Taurat dan Surat segala Nabi tetap sehingga sampai pada zaman Yahya, kemudian daripada itu dimasyhurkan kerajaan Allah, dan tiap-tiap orang berebut kedalamnya.

Dengan demikian jeias,. Matius 5:17-19. bertolak belakang dengan Lukas 16:16. Padahal sama-sama sabda Yesus. Lalu, mana yang harus dipegang?

Kemudian lihat Kitab Kejadian 7:2. Di sana diterangkan, binatang yang haram hanya dua ekor saja yang boleh dimasukkan kedalam bahtera Nuh. Disini nama-nama hewan yang diharamkan itu tidak diterangkan, tetapi dalam Kitab Imamat 11:7-11; Ulangan 14:18-19 dan juga Yesaya 66:17 nama-nama hewan yang diharamkan itu diterangkan, yaitu : Babi, hewan laut yang tidak bersisik dan tidak bersirip, beberapa jenis burung, tikus, tikus buta, hewan-hewan yang merayap dan lain-lain.
Petrus pun kenal akan hewan-hewa haram, sebagaimana ucapan Petrus sendiri dalam Kisah Rasul 10:14. Tetapi I Korintus 6.12 dan Kisah Rasul 10:15 menerangkan, Tuhan menghalalkan semua hewan.
Lalu, mana yang harus diikuti? Mana yang harus dipegang?

Di samping itu lebih berat lagi ialah, Yahya 1:1 dan Yahya 1:14 menerangkan,Tuhan (atau Kalimat) menjelma menjadi manusia (yaitu Yesus) yang kita ketahui kemuliaannya di antara sesama manusia. Oleh karena terlalu fanatik akan ucapan Yahya yang dianggap mesti benar, karena menurut Yahya itu kemasukan roh suci, maka orang Kristen berpendapat, Tuhan itu benar-benar menjelma atau masuk ke dalam tubuh Yesus. Meskipun telah menjelma .ke dalam tubuh Yesus, yang mestinya jika sesuatu itu telah menjelma atau masuk ke dalam tubuh orang lain, maka yang menjelma itu mènyatu dengan yang dijelmanya, namun orang Kristen tetap gigih mengatakan, di luar Yesus tetap ada Tuhan. Jika demikian, karena Yesus itu adalah Tuhan dan di luar Tuhan masih ada lagi Tuhan, maka berarti ada dua Tuhan.
Terhadap hal ini orang Kristen menolak dengan keras dan mengatakan Tuhan itu Esa, namun ada tiga, yaitu:

1. Menciptakan dan ini dinamakan “Tuhan Bapa”.
2. Berfirman, dan firman-Nya ini menjadi daging berbentuk Yesus, yang disebut “Tuhan Anak”.
3. Memberi petunjuk, ini disebut ‘Tuhan Roh Suci”.
Inilah yang bagi orang Kristen sendiri sulit untuk menerangkannya sejak dahulu sampai sekarang, bahkan sampai kapan saja pun. Karena orang Kristen sulit menerangkan hal ini, maka Sdr. Hamran Ambrie menuduh Qur’an itu bukan firman Allah. Karena jika Qur’an itu betul wahyu Allah, kata Sdr. Hamran Ambrie, tentu orang Islam dengan mudah akan dapat memahami apa yang dinamakan Trinitas itu. Sesuai dengan bunyi pepatah, cara Sdr. Hamran Ambrie mengelak seperti itu dikatakan: karena rupa buruk dikatakan kacanya pecah, atau karena tidak pandai menari dikatakan lantai yang terjungkat.

Bukti yang lain, yáitu :
Dalam I Korintus 7:1 (Alkitab cetakan th. 1965) diterangkan “Menjawab segala pertanyaan di dalam suratmu itu, maka baiklah laki-laki jangah menyentuh perempuan”.
Sedangkan dalam Alkitab cetakan th. 1975 berbunyi: “Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku, adalah baik bagi laki-laki kalau ia tidak kawin. . . dst”.

Manakah dari kedua ayat itu yang harus dipegang? Laki-laki tidak boleh kawin, ataukah laki-laki tidak boleh menyentuh wanita, meskipun menyentuh itu bisa pula diartikan dengan sanggama?
Untuk kembali kepada teks yang asli, tidak mungkin dilakukan, karena Injil tidak pernah ditulis. Inilah sebabnya di Eropa timbul debat yang ramai antara beberapa pendeta, Tuhankah Yesus itu atau bukan? Hal itu banyak diberitakan di dalam majalah berbahasa Inggeris TIME. Terutama mengenai masalah “Penebusan Dosa Warisan”, yang semuanya itu hanya berasal dari tulisan Paulus belaka, dan sekarang diingkari oleh banyak tokoh-tokoh Kristen di Eropa, lalu mereka memeluk Islam. [*]

K.H. Abdullah Wasi’an, Kristolog jago dialog dan penulis buku-buku Kristologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here