Kritik Simbol Megah Garuda di Ibu Kota Baru

0
228
Visualisasi Gedung Istana Ibukota baru. Instagram/Igtv/Suharso Monoarfa

KLIKMU.CO – Kemunculan lambang istana negara berupa burung garuda dalam video rancangan ibu kota baru di Kalimantan Timur menuai kritik. Seperti yang disampaikan Asosiasi Profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP).

Menurut mereka, gedung patung burung tersebut tidak mencerminkan upaya pemerintah dalam mengutamakan forest city atau kota yang berwawasan lingkungan.

“Bangunan gedung istana negara seharusnya menjadi contoh bangunan yang secara teknis sudah mencirikan prinsip pembangunan rendah karbon dan cerdas sejak perancangan, konstruksi, hingga pemeliharaan gedungnya,” ujar mereka dalam pers rilis 28 Maret lalu.

“Dan itu semua tak didapat dari rancangan bangunan ini.”

Dalam video yang diunggah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa di Instagram pekan lalu itu disebutkan, ibu kota negara (IKN) akan memiliki istana negara dengan nuansa lambang negara garuda.  Burung itu mencerminkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar dan negara yang kuat.

Sekretaris Jenderal IAI Ariko Andikabina mengatakan, penggunaan burung garuda sebagai metafora tidaklah cocok. Sebab, kata dia, bangunan yang mengandalkan metafora akan selalu bertumpu pada citra yang menyisakan banyak pertanyaan.

“Metafora akhirnya meninggalkan banyak lubang: apa fungsi ruang di ketiak atau bokong bangunan dengan metafora burung? Yang mungkin akan memberikan impresi tidak sesuai dengan harapan,” katanya dikutip dari Tirto, Rabu (31/3/2021).

Ariko menjelaskan, pendekatan metafora juga sudah ditinggalkan di dunia arsitektur sehingga tidak dapat dijadikan representasi kemajuan sebagaimana yang digadang-gadang pemerintah.

Masalah lainnya adalah bentuk lambang burung yang gigantis atau sangat besar. Ariko lantas mempertanyakan seberapa jauh bangunan ini akan ramah lingkungan, tidak berlebihan mengekstraksi bahan baku, dan memiliki jejak karbon yang rendah.

“Pertanyaan lain dari sisi keamanan, apakah bangunan yang tingginya 70-80 meter atau setara 18 atau 20 lantai, dengan kaca sebagai kulit bangunan dapat menjamin keamanan kepala negara?” kata dia retoris.

Dia pun mengaku belum pernah mendapati negara lain memiliki bangunan kantor presiden seperti itu. “Enggak ada negara lain yang modelnya kaya gitu,” tegasnya.

Mereka pun mengusulkan agar IKN lebih memikiki pendekatan lingkungan yang baik. “Memulai pembangunan tidak harus melalui bangunan gedung, tetapi dapat melalui ‘tugu nol’ yang dapat ditandai dengan membangun kembali lanskap hutan-hujan tropis seperti penanaman kembali pohon endemik Kalimantan yang nanti menjadi simbol bahwa pembangunan IKN memang merepresentasikan keberpihakan pada lingkungan, yaitu membangun hutan terlebih dahulu, baru membangun kotanya.” (AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here