Kunjungi PCIM Malaysia, Wakil Ketua MPR RI Arsul Sani Bicara Politik Keumatan dan Kebangsaan

0
337
Wakil Ketua MPR RI dan Sekjen PPP Arsul Sani (dua dari kiri) berkunjung ke PCIM, PCIA, dan IMM Malaysia di Rumah Dakwah Muhammadiyah Malaysia.

KLIKMU.CO – Bertempat di Rumah Dakwah Muhammadiyah Malaysia, pimpinan dan jajaran pengurus PCIM, PCIA, dan IMM Malaysia menerima kunjungan Arsul Sani SH MSi, sekretaris jenderal (sekjen) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang kini menjabat salah satu wakil ketua Majelis Permusyawaratan Perwakilan (MPR) RI.

Sarasehan yang berlangsung pada Senin malam (6/1/2020) itu berlangsung menarik, akrab, dan hangat setelah membicarakan berbagai isi dan perkembangan terkini dalam belantika politik keumatan dan kebangsaan.

Dalam sambutan pembuka, Ketua PCIM Malaysia Sonny Zulhuda menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Arsul Sani untuk menyambangi markas PCIM. Sonny menegaskan komitmen PCIM Malaysia dalam hal pembangunan politik keumatan.

Menurut Sonny, meskipun PCIM dan Muhammadiyah sendiri tidak berkecimpung dalam politik praktis, organisasi yang sudah berusia satu abad lebih ini berharap, melalui berbagai program pendidikan, pencerdasan bangsa, dan pergerakan sosial ekonomi, Muhammadiyah dapat menciptakan ekosistem sebuah negara yang adil dan makmur, “baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur”.

“Dalam konteks itulah, PCIM menyambut pimpinan MPR RI layaknya sebagai sahabat dan mitra kebangsaan dan keumatan untuk bergerak bersama,” terangnya.

Dalam sarasehan yang berlangsung sekitar 3 jam dan berakhir menjelang tengah malam tersebut, terdapat sejumlah poin yang mengemuka.

MPR RI senantiasa bermitra dengan berbagai unsur masyarakat untuk memastikan proses politik berjalan dengan baik. Dalam kaitan ini, komunikasi dan kerja sama dengan Persyarikatan Muhammadiyah, baik secara formal maupun informal, menjadi sebuah keniscayaan.

Menurut Arsul, PP Muhammadiyah sangat kooperatif dan suportif terhadap MPR dan agenda kebangsaan. Dengan konsep “daarul ahdi wa al-syahadah”, Muhammadiyah mendukung secara konstruktif konsensus kebangsaan yang diformulasikan dalam Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika).

Hal ini diperjelas dalam pertemuan pimpinan MPR RI bersama pimpinan PP Muhammadiyah pada Desember 2019. Pada pertemuan di kantor PP Muhammadiyah di Jakarta itu, Ketum Prof Dr Haedar Nashir MSi mengatakan bahwa amandemen UUD 1945 harus didasari atas kepentingan dan hajat hidup orang banyak. Salah satunya pentingnya menghidupkan kembali Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

Arsul Sani mengakui bahwa sumbangan Muhammadiyah dalam membangun dan memperkuat konsensus kebangsaan sangat istimewa. Menurut dia, kelebihan Muhammadiyah adalah selalu memberikan masukan yang konstruktif yang didukung dengan konsep yang baik. Selain itu, konsep tersebut selalu disampaikan melalui mekanisme yang ilmiah, akademis, dan efektif.
“Intinya, sumbangan Muhammadiyah mencerminkan pergerakan yang mencerdaskan dan konstruktif,” jelasnya.

Arsul Sani yang datang dari keluarga berlatar belakang campuran Muhammadiyah dan NU mengaku memiliki hubungan dekat dengan beberapa tokoh Muhammadiyah yang saat ini aktif sebagai pimpinan di berbagai partai politik. Ia selalu menjaga keharmonisan hubungan tersebut. “Karena sebagai kader PPP, komitmen keumatan mesti terus dijaga bersama, baik oleh orpol maupun ormas berbasis Islam,” tegasnya.

Dalam mendampingi pemerintahan Jokowi ini, Arsul berharap partainya dapat memainkan peran untuk menjaga presiden agar sedapat mungkin mengakomodasi kepentingan keumatan. Termasuk di antaranya pengembangan pendidikan pesantren dan penguatan potensi ekonomi keumatan dan kebangsaan.

Arsul juga berharap PCIM Malaysia dapat turut menyukseskan agenda kebangsaan dan keumatan di kalangan komunitas WNI dan warga lokal di Malaysia ini. “Ini penting mengingat besarnya jumlah penduduk WNI yang ada di Malaysia dan juga strategisnya hubungan bilateral Indonesia-Malaysia,” ujarnya.
Dalam konteks itu ke depan akan dicanangkan program-program kolaboratif antara PCIM Malaysia dan MPR RI.

Forum saresehan itu dilanjutkan dengan sesi dialog dan tanya jawab yang berlangsung hangat dengan munculnya isu-isu aktual di perpolitikan nasional. Audiens yang berlatar belakang buruh migran, tenaga pengajar, mahasiswa, dan juga kalangan profesional mengajukan berbagai pertanyaan tajam dan menukik seputar politik terkini. (Tim Media PCIM Malaysia/Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here