Kyai Mahsun Djayadi: Muhammadiyah Surabaya Harus Punya Pondok Seperti Dea Malela, Milik Pak Din, Simak Ulasannya

0
205
Foto Kyai Mahsun (jaket hitam) bersama Pak Din ( tengah) dan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Pak Sukadiono ( kaos kerah putih) diambil dari dokumen pwm jawa timur

KLIKMU.CO – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kyai Mahsun Djayadi berada di LombokĀ  tepatnhya Pondok modern internasional Dea Malela milik mantan ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin,M.A yang pada didirikan tahun 2016.

Kepada Kontributor KLIKMU.CO via whatsapps pada jum at (5/7) beliau menyampaikan

“Dari beberapa sumber nama pondok modern Dea Makelar diambil dari nama kakek buyut dari Pro.Din Syamsuddin.
Dea Malela dan saudaranya Dea Ismail adalah muballigh dari Bugis Sulawesi.
Setelah berdakwah di sumbawa ditangkap oleh Belanda tahun 1720 M dan dibuang ke Afrika”,ujar pria yang memiliki khas jenggot yang unik ini

Lebih lanjut beliau menambahkan

“Di Afrika beliau berdakwah dan mendirikan masjid . Sampai sekarang keluarga Dea Malela di Afrika masih ada dan beberapa waktu yg lalu sempat mencari dan menemukan saudaranya di sumbawa. Pondok Dea Malela saat ini masuk tahun ke 4. Jumlah santri saat ini 320 orang dari berbagai daerah baik dalam negeri maupun luar negeri, Dari Rusia dan Timor Leste, kamboja dan Tailand”, tukasnya

Dari pengamatan di lokasi Kyai Mahsun menuturkan

“Bahkan logo pondok ini matahari bersinar 12 (muhammadiyah) dan di tengahnya ada lambang pensil / ipm , sedangkan dana pembangunan gedung berasal dari bantuan berbagai instansi baik swasta maupun pemerintah. Misalnya gedung 4 lantai asrama putri adalah bantuan dari telkom (keseluruhan saat ini ada 8 gedung semua 4 atau 5 lantai). Awalnya komplek pondok ini di area perbukitan 5 hektar. Tetapi oleh pemerintah disiapkan sekitar 80 hektar untuk dikembangkan”, ujarnya

“Yang menarik adalah Prof din syamsuddin berharap suatu saat nanti akan diserahkan ke PP muhammadiyah jika sudah siap, 5 tahun yang akan datang akan disiapkan pembukaan perguruan tinggi”, jelasnya

Ketika ditanya oleh kontributor KLIKMU.CO mengenai harapan dan impian untuk muhammadiyah surabaya dengan model ponpes ini, beliau menjawab

“Saya pribadi berharap Muhammadiyah Surabaya wajib hukumnya memiliki pondok seperti ini, bukan ditempelkan ke sekolah atau Tetapi khusus berdiri sendiri, harus ada diverensiasi (pembeda) dari pondok yg lain yg ada di muhammadiyah selama ini. Dea malela di tengah hutan perbukitan. Jarak tempuh dari kota itu 2 jam. Tapi itulah diverensiasinya”, pungkasnya penuh harap

Kyai Mahsun DjayadiĀ  hadir di lombok bersama rektor dan PWM memenuhi undangan pak Din Syamsuddin ke pondoknya ini. Dan mengikuti acara penyerahan gedung PDM kabupaten Lombok Utara pasca gempa. Gedung dibangun oleh pwm jatim.(Ferry)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here