Kyai Mahsun: Ramadhan Covid-19 Penuh Kenangan di Rumah Saja

0
501
Foto diambil dari architectaria

Oleh: Kyai Mahsun Djayadi*

Marhaban Yaa Ramadhan

Sesungguhnya ibadah Shiyam (puasa), merupakan salah satu ibadah yang misteri yakni ibadah yang dipenuhi kerahasiaan. Yang mengetahui bahwa kita sedang berpuasa hanya diri kita sendiri dan Allah. Andaikata di bulan Ramadhan pagi hari ada seseorang yang sarapan di dapur, kemudian keluar rumah pada siang hari dengan penampakan memelas/ lemas, pastilah orang lain faham dan percaya bahwa seseorang tersebut sedang puasa. Singkat kata tidak ada yang bisa dipamerkan terutama ibadah puasa. Semuanya sepi, semuanya hening.

Oleh karena ibadah puasa dipenuhi oleh kerahasiaan, maka seluruh rangkaian ibadah di bulan Ramadhan akan sangat ditentukan oleh kejujuran yang kita miliki.

Tak kalah pentingnya adalah seberapa jauh tingkat keikhlasan kita dalam ibadah kepada Allah swt, terutama dalam situasi pandemic Covid-19 ini, (lihat QS. Al-Bayyinah ayat 5 ).

Bahwa beribadah shalat lima waktu, dan tarawih berjamaah di masjid adalah sangat utama dan mengandung syi’ar. Bahwa taushiyah atau siraman ruhani dengan kumpulan jamaah yang melimpah di masjid adalah bagian dari show of force serta menjadi penyemangat dan motivasi diri dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Allah swt. Bahwa Ifthar jama’i (buka Bersama) adalah bagian dari memperkokoh silaturrahim. Ber-i’tikaf di masjid adalah amalan utama bagi kaum muslimin. Kita faham itu. Kita sepakat itu.

Tetapi dalam situasi pandemic Covid-19 yang transmisi penularannya lewat kontak fisik, sehingga diperlukan menjaga jarak fisik maupun kerumunan orang dalam jumlah banyak, maka kondisi ini menjadikan udzur bagi kita untuk sementara waktu dari meramaikan masjid, mushallaa, atau sejenisnya, sehingga mengharuskan kita beribadah di rumah.

Mari kita semarakkan secara bathiniyyah ibadah kita di rumah, mari kita bermesra-mesraan bermunajat kepada Allah dalam hening di rumah. Mari kita hidupkan malam-malam Ramadhan di rumah kita dalam dekapan syahdu, baik berupa do’a, qiyamullail (shalat tarawih), membaca dan bertadabbur al-Qur’an dalam suasana sepi dan hening.

Bukankah Rasulullah saw sendiri lebih banyak shalat tarawihnya dilakukan di rumah?
Ramadhan tahun ini kemungkinan akan sepi di luaran sana, tetapi kita optimis Ramadhan tahun ini akan semarak secara bathin di rumah kita.

Mari kita pamerkan ibadah kita kepada Allah swt semata, mari kita tebarkan kedamaian, perbanyak sedekah dan amal jariah, jauhi saling mengolok dan mengejek. Nabi Muhammad saw pun bertitah “jika kamu diajak berdebat di bulan Ramadhan, maka jawablah: aku sedang puasa”.

Jika kita tidak melakukan I’tikaf di masjid, maka gantilah dengan amalan-amalan sunnah lainnya di rumah. Allah berjanji tidak akan menyia-nyiakan amal ibadah hambanya sekecil apapun :
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهْ وَمَنْ اَسَاءَ فَعَلَيْهَا potongan ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa beramal shalih maka efek perbuatan itu akan Kembali pada pelakunya cepat atau lambat, dan barang siapa beramal jelek maka efek perbuatannya itupun akan Kembali peda pelakunya cepat atau lambat.

Khusus ibadah shalat idul fithri, jika kondisi penyebaran wabah covid-19 masih tinggi sehingga tidak memungkinkan jamaah berkumpul melakukan shalat idul fithri berjamaah di tanah lapang, maka shalat idul fithri bisa dilakukan di rumah, berjamaah.
*”selamat datang bulan Ramadhan”,* kita sambut dengan gembira dan syukur.

*Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here