Langkah-Langkah Membangkitkan Sekolah di Masa Pandemi

0
200
Foto istimewa

Oleh: Edy Susanto MPd

KLIKMU.CO

Masa pandemi Covid-19 di Indonesia sudah genap satu tahun lamanya. Masyarakat seolah terbelenggu gerak dan langkahnya, tak terkecuali pendidikan. Program dan target yang sudah direncanakan secara matang menjadi terkendala oleh serbuan pandemi Covid-19 yang merajalela hampir di seluruh penjuru tanah air.

Melalui berbagai cara ditempuh agar eksistensi tidak tergerus oleh hiruk pikuk berita korban jiwa Covid-19, dampak ekonomi, sosial, dan budaya yang tak kunjung melandai. Sekolah berjuang keras melakukan berbagai upaya untuk membangun public trust dan eksistensi yang sudah telanjur besar di masyarakat. Tak dapat dielakkan bahwa dalam kondisi seperti saat ini tidak mudah untuk meraih target yang diharapakan seperti dulu pada saat kondisi normal. Sehingga menurunkan target dan menunda program sementara adalah sebuah pilihan yang bijak. Life must go on.

Sekolah di pegunungan, pedesaan, kabupaten, dan kota besar hampir memiliki masalah yang sama, yaitu menurunnya “daya beli” masyarakat dalam memilihkan pendidikan yang terbaik untuk putra dan atau putrinya selama pandemi. Jika sudah demikian, tidak mudah untuk meyakinkan mereka. Dibutuhkan strategi jitu untuk dapat mengambil hati masyarakat yang sedang bimbang, butuh support, dan guidance yang kuat agar mereka tetap memilih pendidikan yang berkualitas untuk putra atau putrinya.

Understanding Customer’s Characters

Tak kenal maka tak sayang. Itulah ungkapan yang sering kita dengar yang menggambarkan bahwa seseorang yang tidak mengenal orang lain atau sesuatu maka seseorang tidak mungkin menyukainya. Sebaliknya, jika seseorang sudah akrab atau kenal lebih dekat maka seseorang itu akan menyukai atau tertarik.

Bisa jadi tanpa meminta bantuan seseorang yang sudah dikenal dengan baik seseorang itu akan menawarkan bantuan dengan senang hati meski pun harus mengorbankan waktu, jasa, atau hartanya. Apalagi jika seseorang dapat saling memahami satu dengan yang lainnya. Sungguh menjadi hubungan yang akrab dan dapat menjadi bagian yang tak terpisahkan. Itulah gambaran jika kita mengenal lebih dekat dengan orang lain dan saling dapat memahami.

Jika sekolah ingin berhasil meyakinkan calon wali murid, sekolah harus dapat mengenali dan memahami calon wali murid dengan baik. Pendekatannya pun harus variatif atau tidak monoton, hati ke hati, dan inovatif. Salah dalam menentukan pendekatan ke calon wali murid atau customer akan dapat berdampak negatif terhadap lembaga sekolah. Jika kesalahan dalam melakukan pendekatan ke calon wali murid tidak segera ada evaluasi dan ditindaklanjut maka hal tersebut dapat berakibat buruk. Calon wali murid akan menjauh. Yang dikawatirkan bahwa mereka melakukan hal yang dapat merugikan sekolah.

Showing Best Product

Pasang iklan ke media cetak, elektronik, atau media sosial akan hanya menghabiskan biaya saja jika sekolah tidak dapat menunjukan produk unggulnya. misal: etos kerja guru dan karyawan yang luar biasa, prestasi siswa, guru, dan karyawan. Selain itu, sekolah harus dapat menunjukan karya yang dihasilkan oleh siswa, guru dan karyawan dalam bentuk hasta karya, karya buku, karya ilmiah, atau katya seni.

Semakin banyak prestasi dan karya yang dihasilkan oleh warga sekolah, semakin tampak mutu sekolah. Tanpa promosi dengan biaya yang mahal, sekolah itu akan “diburu” oleh calon wali murid. Brosur belum dibuat calon wali murid sudah antri untuk inden dua sampai tiga tahun ke depan. Hal ini karena kekuatan mutu yang dihasilkan sekolah memiliki daya tarik yang luar biasa.

Excellent Service

Sekolah hebat adalah sekolah yang memiliki pelayanan prima atau excellent sevice. Sekolah mengupayakan warganya untuk memberikan pelayanan prima dengan harapan ada kepuasan dari pelanggan (peserat didik, orang tua peserta didik, dan stakeholder). Pelayanan prima bukan sekedar lips service dan slogan yang terpampang megah di depan sekolah tanpa aksi nyata, namun pelayanan prima benar-benar dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh tanggung jawab.

Orang bijak mengatakan bahwa pelayanan prima dapat memuaskan hati, sedangkan gedung yang bagus hanya dapat memuaskan mata. Sekolah hebat memiliki keduanya, pelayanan yang bagus dan gedung yang representatif. Selain itu, sekolah hebat memiliki prosedur operasional standar (POS) yang baik terkait dengan pelayanan prima sesuai dengan kultur yang berlaku di sekolah dan masyarakat. Untuk menghadirkan pelayanan prima, kepala sekolah memastikan bahwa semua warga sekolah secara bersama-sama memahami dan menerapkan F5 + 1C yaitu:

  1. Friendly (ramah)
  2. Fun (menyenangkan)
  3. Flexible (lentur atau tidak kaku)
  4. Fight (berjuang)
  5. Fast (cepat)
  6. Care (peduli)

Kepuasan pelanggan menjadi panglima pelayanan. Di era digital, kecepatan dalam pelayanan menjadi prioritas utama. Tidak bertele-tele. Respons cepat dalam menyelesaikan masalah adalah hal yang tidak dapat diremehkan. Cepat dan tepat dalam melayani adalah dua hal yang prinsip. Kecepatan dan ketepatan pelayanan tidak mengurangi kualitas layanan.

Solid Teamwork

Tidak ada kesuksesan hanya dilakukan oleh satu orang. Keberhasilan individu itu karena dukungan banyak pihak. Sehingga keberhasilan tidak dapat diklaim oleh satu orang. Kerja tim adalah sebuah kemutlakan. Ken Blanchard mengatakan bahwa None of us is as smart as all of us. Selain itu Henry Ford juga mengatakan bahwa coming together is beginning, keeping together is progress, working together is success.

Innovation and Good Communication

Di masa pandemi banyak kesempatan sekolah untuk melakukan inovasi dalam pembelajaran. Sangat terbuka luas jika sekolah mau melakukan inovasi. Inovasi tidak selalu identik dengan teknologi yang berbiaya tinggi. Namun, inovasi di sini ialah guru melakukan berbagai upaya dalam pembelajaran dengan tujuan membuat siswa menjadi tertarik, senang, tidak monoton, dan mudah dimengerti, serta menimbulkan sikap kritis.

Temuan-temuan baru atau sajian-sajian baru dengan menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi atau media pembelajaran yang lainnya perlu disuguhkan kepada siswa untuk menyetimulus siswa belajar. Cara-cara guru yang inovatif secara tidak langsung dapat menimbulkan sikap kritis atau rasa ingin tahu siswa yang tinggi. Oleh karena itu, jika sekolah ingin selalu eksis sepanjang masa, kuncinya adalah selalu melakukan inovasi.

Komunikasi sekolah dengan walimurid atau stakeholder di masa pendemi seharusnya banyak menggunakan cara-cara yang modern. Pihak sekolah , walimurid atau stakeholder sudah tentu menghindari tatap muka. Kemudahan dalam pelayanan sangat dibutuhkan dalam era digital dan pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Dengan demikian, sekolah dapat melakukan inovasi dalam pelayanan dengan menggunakan alat komunikasi modern, misal: Whatsapp, email, Zoom, IG, Microsoft office 365, dll. Sukses dalam berkomunikasi adalah bagian dari pelayanan prima sekolah terhadap walimurid atau stakeholder yang dapat menyumbang sebagian keberhasilan sekolah. Sudah semestinya pihak sekolah menggunakan cara komunikasi yang ramah dan santun.

Bersinergi dan berinovasi merupakan epicentrum keberhasilan sekolah dalam membangun mutu dan prestasi. Tanpa bersinergi dan berinovasi sekolah bisa “mati”. Berhenti bersinergi dan berinovasi sama dengan memaksa customer mencari tuan rumah baru. Tuan rumah baru yang dapat mewadahi kolaborasi (sinergi) dan inovasi. Wallahu a’lam bishawab.

Edy Susanto MPd merupakan mantan kepala SD Muhammadiyah 4 Surabaya dan kini sebagai ketua Lembaga Penjamin Mutu Akademik SD Muhammadiyah 4 Surabaya  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here