Lawan Tifus, Trio Dosen Ini Kaji Rencana Vaksin Oral

0
105
Dr Apt Hidajah Rachmawati Sp FRS (tengah) bersama dua temannya kaji vaksin oral untuk melawan tifus. (Foto istimewa/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Tifus atau demam tifoid masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia, bahkan dunia. Melihat hal tersebut, tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menerbitkan karya berupa book chapter internasional berjudul In-Silico Approach in the Development of Salmonella Epitope Vaccine. Book chapter ini telah diterbitkan oleh IntechOpen pada Februari lalu.

Dalam buku tersebut, Dr Apt Hidajah Rachmawati Sp FRS  bersama dua anggota lainnya, Raditya Weka Mfarm dan Apt Firasti AN Sumadi MBiotech, membahas vaksin oral untuk mengobati penyakit tifus. Firasti berkata bahwa dalam pembuatan vaksin ada beberapa metode yang dapat dipilih. Dalam pengembangan vaksin ini, timnya memilih untuk menggunakan vaksin peptida berbasis protein.

Mereka memilih vaksin peptida berbasis protein karena dianggap lebih aman. Vaksin tersebut juga tidak menggunakan organisme utuh sehingga kemungkinan sifatnya akan menimbulkan respons imun lebih baik atau imunogenik. Alasan lain mereka bertiga menggunakan metode itu  karena peptida yang digunakan adalah epitop sel B.

“Epitop sel B adalah suatu bagian mikro organisme yang menempel pada antibodi di tubuh. Mikro organisme tersebut bisa menimbulkan antibodi spesifik terhadap penyakit tersebut,” lanjut dosen kelahiran Malang tersebut.

Firasti menerangkan bahwa keunggulan lain dari metode ini adalah pendekatan untuk menemukan epitop dari bakteri salmonella typhi. Hal itu mereka lakukan berdasarkan in silico atau permodelan komputer. Harapannya, hal ini akan menjadi terobosan di masa pandemi.

“Pada masa pandemi seperti ini penelitian menggunakan lab basah terkendala banyak hal, seperti reagen yang sulit dan tatap muka yang terbatas. Dengan in silico permodelan lab, kita bisa melakukannya dengan menggunakan lab kering melalui web dan software untuk mencari kandidat vaksin. Hal ini akan memudahkan proses penelitian,” lanjut Firasti.

Di sisi lain, Hidajah mengatakan bahwa tingkat efikasi vaksin tifus di Indonesia masih rendah. Oleh karenanya, mereka bertiga berinisiatif mengembangkan vaksin tifus yang memiliki tingkat efikasi yang tinggi. Namun, penelitian ini masih bersifat pre-klinis. Diharapkan kedepannya vaksin ini bisa di uji-klinis ke manusia dan menjadi terobosan yang bagus.

“Saya berharap vaksin ini dapat didistribusikan ke masyarakat. Tentu saja dengan pengujian yang lebih lanjut. Selain itu, dengan menciptakan variasi vaksin dengan efikasi yang tinggi akan mengurangi kasus penyakit tifus di Indonesia,” pungkasnya. (Wildan/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here