Lazismu Tampil Seperti Depsos? Andar Nubowo: Muhammadiyah Perlu Bangun Big Data untuk Menghimpun dan Peta Warga Persyarikatan

0
212

KLIKMU.CO – Kita patut berbangga memiliki lembaga filantropi seperti Lembaga Amal Zakat Infaq dan Shodaqoh (Lazismu). Indonesia yang berselimut dengan kemis­ki­nan masih meluas, tingkat pendidikan, dan indeks pem­bangunan manusia yang sangat rendah.

“Lazismu hadir dengan taglinenya memberi untuk negeri. Tentu, tidak teruntuk masyarakat seiman apalagi seorganisasi, namun lebih luas tanpa memandang siapapun itu Agama, suku, ras dan budaya. Masalah kemanusiaan seperti bencana misalnya, Lazismu hadir di tengah itu,” kata Andar Nubowo, DEA Presiden Direktur Lazismu 2016-2017 dalam Kajian Online yang diselenggarakan Kajian Kebon Jambu (KKJ), Selasa malam (28/8) pukul 20.00 WIB.

Bertajuk ‘Lazismu Tampil Seperti Departmen Sosial, Benarkah? Andar menegaskan, zakat diyakini mampu bersumbangsih dalam mendorong keadilan sosial, pembangunan manusia, dan mampu mengentaskan kemiskinan. Karena itu Lazismu menghimpun dan menyalurkan dari yang lebih, kepada yang kurang atau tidak mampu. Tentu dengan manajemen modern yang dapat menghantarkan zakat menjadi bagian dari penyelesai masalah atau problem solver sosial masyarakat yang terus berkembang.

Kata Andar, potensi zakat di Muhammadiyah menurut survei LPEM UMY tahun 2015 adalah 500 M. Secara umum, potensi zakat nasional 300 T berdasarkan hitungan Lazismu pada 2017. Adapun Baznas menghitung 280 T. Zakat yang berhasil dikumpulan oleh Baznas lazismu dan lembaga lain baru 5 T. Jadi, perjuangan untuk mendayagunakan potensi keuangan umat masih besar.

Menurut Andar, lembaga filantropi tersebut berdiri setelah sepuluh tahun Dompet Duafa yang lahir tahun 1992, pasca berdirinya ICMI, BMI, dan Republika. Tahun 2002 Pimpinan Pusat Muhammadiyah membuat Lazismu sebagai badan pengelola ZIS yang profesional.

Dia menjelaskan, tahun 2002-2015, Lazismu berdiri berbabagai cabang di berbagai daerah, di tingkat wilayah, daerah bahkan cabang. Saat itu, masih bersifat jaringan, masing masing independen hanya nama dan logo saja. Tetapi bukan satu kesatuan badan yang terkait. Setelah 2015, seiring dengan UU Zakat 2011 yang mengatur dan memperketat lembaga zakat di Indonesia, maka hal ini menjadi momentum untuk menyatukan LAzismu yang berserakan menjadi an integrated philanthropic organisation.

Artinya, terintegrasi satu kesatuan, satu badan dengan status lembaga tunggal. Sistem terpusat. Namun, untuk penghimpunan dan pendistribusian masih otonom, namun pelaporan keuangan dikonsolidasikan ke Pusat.

Karena itu, lanjut Andar sejak tahun 2016, Lazismu menjadi lembaga terbesar secara penghimpunan dan pendayagunaannya di Indonesia, mengalahkan DD, Rumah Zakat, PKPU yang selama puluhan bahkan belasan tahun selalu menjadi 4 besar.

Baznas menyebut Lazismu mengalami lonjakan penghimpunan dari 2015, 50 Mi menjadi 406 milyar rupiah, kenaikan sekitar 800 persen. Karena itu, marwah Lazismu meningkat di kalangan Muhammadiyah dan dalam dunia perzakatan di Indonesia. Lazismu bukan lagi lembaga papan bawah,seperti sebelumnya. Tahun 2017 lalu, Lazismu membukukan penghimpunan ZIS dan dana keagamaan lain sebanyak 750 milyar secara nasional.

Dalam kajiannya via WatShap, Andar menjelaskan, Lazismu merupakan lembaga pengimpun dan penyalur dana umat dengan bahasa lain Lazismu itu kementerian keuangan dan bapenasnya Muhammadiyah.

Dana program disalurkan oleh majelis lembaga ortom dan organisasi lain non Muhammadiyah, untuk menyalurkan ke mustahiq. Lazismu juga seperti lembaga donor, tugasnya funrising, programming saja. tidak distributing. Distribusi ke mustahiq bekerja sama dengan MLO Muhammadiyah dan lembaga lain.

Sementara itu Abdus Salam Wakil Direktur Kedai Jambu Institute Lembaga Survey KKJ menilai, jika Lazismu berlagak departmen sosial tidak menjadi persoalan. Yang menjadi masalah besar adalah ketika kehadiran Lazismu untuk pengentasan atau penanngulangan kemiskinan pendekatannya tidak menggunakan pendekatan charity dalam konteks community development.

Sebab menurut Salam, demikiam itu hanya mempoisikan warga sebagai korban. Tetapi tidak mampu melepaskan masyarakat yang menyandang masalah kesehajahteraan sosial ( PMKS).

“Mestinya Lazismu itu bergerak dalam level mikro.mezzo dan makro dalam konteks penanggulangan kemiskinan,” kata Wakil Ketua PWPM Jawa Timur ini.

Oleh sebab itu, jelas Andar Lazismu menyalurkan dananya melalui Majelis Pemberdayaan Sosial (MPS) atau lembaga terkait untuk pemberdayaan masyarakat petani nelayan ke MPM, kebencanaan ke MDMC, kepemudaan ke PM, Dakwah ke Majlis ntabligh, pendidikan beasiswa ke Dikdasmen dan Dikti.

Andar tidak menampik indeks data tingkat kemisininan masyarakat menjadi probelm tersendiri. Pasalanya data di Indonesia masih semrawut. Tidak ada singel data yang valid, kecuali setelah E-KTP beres.

Contohnya, data kemiskinan ada di TNP2K, BPS, dan kementerian tidak singkron. Dalam konteks ini Lazismu percaya data BPS dan TNP2K, sementara Muhammadiyah tidak punya data kemiskinan.

Ini sedang menjadi garapan lazismu Pusat untuk membangun big data anggota, salah satunya untuk menghimpun iuran anggota Muhammadiyah dan peta warga peryarikatan.

PPM meminta Lazismu untuk membangun peta data ini. Yang dilakukan
kebijakan Lazismu ialah sinergi dan kolabirasi membangun sebuah ekosistem zakat infaq dan shadaqah bukan egosistem, masing masing berjalan sendiri.

Maka diusahakan, selalu sinerhgi dengan MLO dan Muhammadiyah. Lazismu untuk Muhammadiyah, Umat dan bangsa. Bukan untuk Lazismu. Lazismu milik kita semua. (Kholiq)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here