Maarif Institute Paparkan Evaluasi Program Rihlah Pesantren ke Jepang

0
125
Diskusi paparan hasil asesmen dan peluncuran buku “Kisah Inspiratif Pemimpin Pesantren: Pembelajaran Rihlah Kiai/Nyai ke Negeri Sakura”. (Maarif Institute/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Indonesia dan Jepang telah lama menjalin hubungan diplomatik dalam berbagai bidang, salah satunya pertukaran budaya. Tiap tahun pemerintah Jepang memberi kesempatan Muslim Indonesia untuk berkunjung ke Negeri Sakura. Pesantren menjadi salah satu kelompok yang dipilih untuk mempromosikan pemahaman yang lebih baik antara komunitas muslim Indonesia dan Jepang.

Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta bekerja sama dengan pemerintah Jepang menginisiasi program ”Pesantren Leaders Visit to Japan”. Program itu bergulir sejak 2004 dengan rata-rata pemberangkatan 10 orang tiap tahun. Sekitar 160-an pemimpin pesantren yang terdiri atas para kiai, nyai, ustadz, dan ustadzah yang tersebar dari berbagai pesantren di seluruh Indonesia telah mengikuti program yang berdurasi kurang lebih  dua pekan ini.

Acara berlangsung Rabu pagi hari ini (24/2/2021) secara online melalui Zoom Meeting yang juga dapat diikuti di channel YouTube Maarif Institute.

Di sana, para pemimpin pesantren ini mengunjungi sejumlah situs keagamaan, budaya, sejarah, lembaga pendidikan, perusahaan, dan bangunan pemerintah di beberapa bagian di Jepang. Mereka mengalami kehidupan masyarakat Jepang dan hidup dalam komunitas nonmuslim ketika mendapatkan kesempatan home stay di rumah penduduk.

Bagaimana hasilnya? Maarif Institute bersama PPIM UIN Jakarta dan UNDP melakukan evaluasi dan studi dampak terhadap para alumni program yang tertuang dalam buku Kisah Inspiratif Pemimpin Pesantren: Pembelajaran Rihlah Kiai/Nyai ke Negeri Sakura.

Direktur Eksekutif Maarif Institute Abd Rohim Ghazali mengatakan, buku yang diluncurkan merupakan salah satu luaran dari kegiatan ini. Terdapat empat hal utama yang ingin dilihat. “Pertama, kami ingin mengidentifikasi aktivitas kiai, nyai, ustadz, dan ustadzah alumni program pasca rihlah ke Jepang. Kedua, memeriksa dampak apa saja yang terjadi di pesantren, misalnya dalam kurikulum, metode pembelajaran, maupun aktivitas yang dikembangkan,” ujarnya, Rabu (24/2/2021).

Berikutnya, menganalisis sejauh mana manfaat yang dirasakan pesantren. Terakhir atau keempat, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi dan solusi yang diambil dalam menerapkan pembelajaran yang didapat di Negeri Matahari Terbit.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif PPIM UIN Jakarta Ismatu Ropi, mengungkapkan bahwa evaluasi dan studi dampak ini ingin melihat impact secara keseluruhan, baik yang bisa diukur maupun tidak. “Buku yang diluncurkan merupakan rekaman dari dampak-dampak yang tidak bisa diukur, yang perubahannya bersifat personal, ke dalam diri. Nanti kita juga mengikuti paparan dari dampak-dampak yang bisa diukur. Misalnya terkait kebersihan, metode pembelajaran, dan aktivitas yang dikembangkan,” terangnya.

Dalam acara peluncuran buku ini, Maarif Institute juga memaparkan temuan-temuan dari asesmen yang dilakukan. Pemaparan hasil asesmen dan peluncuran buku diikuti oleh diskusi yang menghadirkan Zahroh (Ponpes Madrasah Wathoniyah Islamiyah Banyumas/alumni program tahun 2017) dan Ketut Imaduddin Djaman (Ponpes Bali Bina Insani/alumni program tahun 2007). Mereka akan ditanggapi Debbie Affianty (Universitas Muhammadiyah Jakarta) dan Syafiq Hasyim (Universitas Islam Negeri Jakarta).

Turut hadir dalam acara ini Abd Rohim Ghazali (Direktur Eksekutif MAARIF Institute), Siprianus Bate Soro (UNDP Indonesia), Waryono Abdul Ghafur (Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama), Mr Tanaka Motoyasu (Ketua Bidang Politik Kedutaan Besar Jepang), dan Mr Tamura Masami (Wakil Duta Besar Jepang). (Pipit/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here