Mahakarya Dibajak, Penulis Muntap

0
223
Tere Liye, diambil dari Tribun Jatim.

Oleh: R. Fauzi Fuadi *)

KLIKMU.CO

Beberapa waktu lalu, jagat Twitter sempat dihebohkan dengan muntapnya para penulis kondang sekaliber Tere Liye, Ntsana (Rintik Sedu), J.S. Khairen, hingga Boy Candra yang secara serempak mengecam para pembajak mahakarya mereka, sebuah perilaku absurd yang sangat tak patut dilakukan oleh siapa pun.

Ntsana yang mengaku jijik dengan perebuatan tersebut, Boy Candra yang murka dengan salah satu oknum yang tak punya hati itu, “Ya sudah, sekarang kamu makan t*ik. Itu amanah dari saya. Tolong dilakuin. Kalau nggak ngelakuin itu, kamu dosa,” ujarnya kepada seorang pembeo yang mengaku menyiarkan buku-buku PDF bajakan di story WhatsApp.

J.S. Khairen pun menskakmat pembeo yang intinya, “Kamu bisa beli HP, tapi tak mampu beli buku yang harganya tak seberapa itu.” Belum lagi Tere Liye untuk kali kesekian membuat klarifikasi di akun media sosial pribadinya.

Ujaran para penulis yang ditujukan oleh para pembeo tersebut benar belaka. Alasannya jelas, membaca PDF bajakan alias PDF atas buku asli tapi disebar bebas dan gratis tanpa adanya cuan yang masuk ke dompet penerbit resmi dan penulisnya itu termasuk perbuatan tercela.

Walaupun alasannya untuk mengisi kegiatan selama masa karantina di rumah, pembajakan tetaplah pembajakan. Sebab, penulis bergantung dari laris tidaknya buku yang terjual di pasaran. Dapur pun harus tetep ngebul, anak istri harus tetap makan, dan kebutuhan pokok lainnya harus terbeli.

Jika kita amati lebih mendalam, kasus ini hanyalah satu dari beberapa kasus di dunia perbukuan: jangan lupakan pembajakan buku oleh oknum tak bertanggung jawab yang menjual secara bebas dan mungkin luput dari perhatian kita. Bung Muhidin M. Dahlan dalam artikelnya, Hidup Kreatif dan “Bodo Amat” di Industri Pembajakan Buku, menuliskan bahwa banyak sekali yang menjual buku-buku bajakan karya penulis pilih tanding sekaliber Pramoedya, Tere Liye, Kang Abik, hingga Fiersa Besari. Ibarat kata, taruhlah 20 toko dalam satu deret ruko, nah 5 di antaranya itu toko ori, yang lain? Sudah jelas kw.

Di akhir tulisannya, Bang Muhidin mengimbau kepada penulis yang baik agar tak berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan di Yogya, Bandung, hingga Jakarta. Bukannya apa-apa, ini semata-mata agar menghindarkan penulisnya dari gangguan mental dan kesehatan yang terlalu mahal untuk digadaikan dengan apa pun itu.

Salah satu kisah getir lainnya datang dari seorang kawan senior yang sudah terlampau tua, namanya saya samarkan menjadi Boy (30). Di mata saya, ia adalah seorang yang aktif menulis di beberapa media dan sudah menerbitkan buku. Bagaimana proses kreatifnya sehingga berhasil membikin buku? Ya dari beberapa tulisannya yang telah ditayangkan di beberapa media itu.

Mas Boi menceritakan kepada saya pengalamannya sebelum Covid-19 menyerang negeri ini. Malam itu, kami bercerita “ngalor-ngidul” dengan berbagai bahasan -ya pendidikan, sastra, toleransi, hingga politik- di salah satu toko kopi di Surabaya Selatan. Hingga pada akhirnya, ia bercerita mengenai betapa tercabik hatinya kala buku yang telah ia susun ternyata telah tersebar dengan format PDF.

Awalnya ia mengetahui hal itu dari koleganya yang bekerja di Yogya sebagai editor di salah satu penerbit mayor. Koleganya ini dapat info dari kawannya yang saat itu berada di Kota Malang. Nah, kawan inilah muara dari segalanya. Penyampaian info ini sudah seperti hadis, bersanad.

Tahu hal itu, Mas Boi lalu mencoba menghubungi pihak penerbit untuk minta klarifikasi. Tapi urung ia lakukan. Di samping nasi sudah kadung menjadi bubur, kejadian itu sudah ia lupakan karena jarak tahun antara buku yang diterbitkan dan kejadian getir itu cukup terlampau jauh, 10 tahun. Ia pun telah mengikhlaskan itu semua dan mengaku sudah meraup belasan hingga puluhan juta dari penjualan buku itu, cukup puas katanya.

Terakhir, menulis ulasan seperti ini, apakah saya pernah membaca buku PDF bajakan juga? Tentu pernah. Satu dua buku pernah saya baca versi PDF bajakan. Tetapi, usai menamatkan barang satu dua buku, saya merasa bersalah telah “merampas” hak penerbit dan penulis.

Sebagai penebus dosa, saya segera membeli buku aslinya untuk memberikan kontribusi bagi penulis yang memang tak seberapa banyak itu dan tentu pihak penerbit.

Maka dari pengalaman ini, alangkah baiknya jika kita ingin membaca versi PDF-nya, belilah dulu buku aslinya, lalu baca atau letakkan saja di rak buku anda. Biar simbiosis mutualisme antara pembaca dan penulis dapat tercipta dan saling menguntungkan. (*)

*) Jurnalis media daring dan pembina khusus di Ponpes Karangasem Paciran

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here