Mahasiswa UMM Ngajar sambil Edukasi Protokol Kesehatan di Madura

0
154
Mahasiswa UMM mengajar siswa di SD kawasan Madura. (Istimewa/Klikmu.co)

KLIKMU.CO – Akses internet yang belum merata di Indonesia memaksa beberapa sekolah tetap melakukan kegiatan secara luring meski di tengah pandemi. Karena hal tersebut, tim Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penyuluhan kesehatan secara rutin di Sekolah Dasar (SD) Desa Prancak, Madura. Agenda ini dilaksanakan sejak Desember 2020 lalu.

Venieda Dwi Fitria, perwakilan tim, mengungkapkan tidak banyak warga desa yang benar-benar menerapkan protokol kesehatan. Hal itu terlihat saat ia dan tim melakukan survei langsung ke desa Prancak. Banyak warga yang tidak disiplin menggunakan masker dan seringkali berkerumun. “Angka positif Covid di sini memang rendah. Mungkin hal itu yang membuat mereka kurang memperhatikan protokol kesehatan,” jelas mahasiswa kelahiran Kalimantan ini.

Berangkat dari realitas itu, mereka memutuskan untuk mengedukasi warga terkait protokol kesehatan, utamanya kepada anak-anak yang bersekolah secara luring. Ia mengaku program kegiatan kelompok mereka disambut baik oleh pemerintah setempat. “Kami mendapatkan bantuan berupa masker, sabun cuci tangan, dan hand sanitizer dari dinas kesehatan setempat,” tegas Venieda.

Anak kedua dari dua bersaudara ini menceritakan berbagai kesulitan yang dihadapi saat melakukan sosialisasi. Salah satunya adalah anak-anak yang tidak fasih berbahasa Indonesia, padahal tidak satu pun anggota tim yang dapat berbicara bahasa Madura. “Anak-anak kelas tiga ke atas mungkin sudah bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Namun, tidak ada satu pun siswa kelas satu dan dua yang fasih berbahasa Indonesia. Jadi, kami meminta bantuan guru-guru untuk menerjemahkan,” lanjut Venieda.

Tidak hanya sampai di situ, tim PMM UMM juga memiliki keterbatasan pada akses transportasi. Setiap hari mereka harus menempuh perjalanan selama tiga puluh menit dengan berjalan kaki dari tempat menginap sampai ke sekolah. “Kebetulan kepala desa menyediakan tempat tinggal mengingat kami semua berasal dari luar daerah. Namun jarak dari pintu masuk desa ke sekolah sangat jauh. Kami juga tidak memiliki kendaraan untuk dipakai di sini,” pungkas mahasiswa Fakultas Hukum tersebut. (Candra/AS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here