Manajemen Krisis Wabah Pes Imawas di Zaman Umar bin Khatab Bisa Jadi Rujukan Ijtihad Kita Hari Ini

0
413
(Istimewa/Klikmu.co)

Oleh: Dr Ali As Shalaaby

Sejarawan, ahli fikih, dan pemikir politik

KLIKMU.CO

Pada tahun 18 Hijriah terjadi peristiwa yang menggemparkan dan membuat shock, yaitu menurut berbagai sumber disebut dengan tha’un Imawas atau wabah pes Imawas. Disebut Imawas karena dikaitkan dengan desa kecil yang disebut Imawas terletak di antara Quds dan Ramallah. Dari sanalah berjangkitnya wabah ini. Kemudian menyebar ke Syam (Syria) dan diidentikkan dengan daerah itu.

Tokoh yang mengkaji dengan baik menyebutkan sifat penyakit ini secara ilmiah sederhana ialah Ibn Hajar, sewaktu ia membahas masalah wabah pes. Seperti apa yang dikatakan oleh ahli bahasa, ahli fikih, dan para dokter diperoleh definisi sebagai berikut: “Bengkak yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah atau aliran darah ke anggota badan, lalu merusaknya. Selain itu, ia penyakit umum yang berjangkit merusak udara, maka secara bahasa kiasan ia disebut “tha’un-pes “Atau karena ia menyatu dengan berbagai penyakit. Atau karena banyak yang mati.”

Tujuan membedakan antara wabah dan tha’un ialah berdasar benarnya dalil dari Nabi SAW yang menjelaskan: Tha’un tidak akan masuk ke Al Madinah Al Munawwarah, akan tetapi wabah bisa masuk ke dalamnya.
Kenyataannya memang begitu bahwa wabah bisa masuk beberapa abad sesudahnya.
Pes terjadi pada waktu itu akibat perang yang hebat antara kaum Muslimin dan Romawi. Banyak yang terbunuh, udara kotor, rusak oleh mayat-mayat itu. Hal itu sesuatu yang alami, sesuatu yang menjadi kehendak Allah, agar ada hikmah yang bisa dipetik.

Umar r.a. kembali dari Saragh, daerah perbatasan antara Hejaz (Saudi Arabia belahan barat yaitu Makkah, Al Madinah, dan sekitarnya-pent.) dan Syam.
Pada tahun 17 Hijirah, Umar ingin mengunjungi Syam untuk kali kedua. Ia berangkat bersama kaum Muhajirin dan Anshar dan berhenti di Saragh, perbatasan antara Hejaz dan Syam.

Beberapa panglima militer menemuinya dan memberi tahu bahwa daerah tujuan itu berpenyakit. Wabah pes menyebar di Syam. Umar r.a. bermusyawarah. Ia lalu memantapkan pendapatnya untuk kembali. Sesudah Umar r.a. kembali terjadi amukan wabah pes yang dahsyat yang dikenal dengan “pes Imawas“. Amukan hebat di Syam itu mengakibatkan manusia banyak yang mati. Di antaranya, Abu Ubaidah bin Jarrah r.a., Panglima Perang Tertinggi di sana, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abu Sofyan, Al Harist bin Hisyam (ada yang mengatakan ia wafat di Perang Yarmuk), Suhail bin Amru, Atabah bin Suhail, dan beberapa pembesar lainnya.

Wabah pes itu tidak hilang dari tengah rakyat kecuali setelah Amru Ibn ‘As diangkat jadi gubernur.
Ia kemudian berpidato: Wahai manusia, penyakit ini apabila berjangkit, ia ibarat api yang menyala-nyala. Jauhilah ia dan larilah ke gunung-gunung. Ia kemudian keluar, lari ke gunung dan rakyat mengikutinya.
Perbedaan pendapat pun terjadi sampai setelah Allah menghilangkan penyakit itu.
Apa yang dilakukan Amru Ibn ‘As itu dilaporkan kepada Umar r.a. Ia tidak menyalahkannya.

Perginya Al Faruq ke Syam dan menertibkan persoalan.
Pendapat Umar r.a. yang membolehkan keluar dari daerah wabah pes itu juga diriwayatkan oleh beberapa sahabat yang sezaman dengan Abu Ubaidah di Syam dan mereka yang hidup di zaman terjadinya cobaan penyakit, seperti Amru Ibn As,r.a, Abu Musa al Asy’ari r.a. Ia Al faruq sangat sedih atas wafat panglima panglima perangnya, tentara tentaranya yang hebat akibat wabah pes di Syam.

Pemimpin-pemimpin di Syam lantas berkirim surat resmi, menanyakan bagaimana cara membagi warisan, harta yang ditinggal oleh mereka yang mati dan berbagai persoalan lainnya.
Ia lalu mengumpulkan sejumlah orang untuk diajak bermusyawarah dengan sangat mendalam. Ia lalu bertekad untuk melakukan perjalanan ke seluruh wilayah negaranya. Untuk memanajemen urusan mereka. Umar lalu berketetapan, sesudah adu pendapat dengan majlis syuronya, ia harus mendahulukan Syam. Ia menegaskan, harta warisan penduduk Syam banyak yang hilang, maka saya harus memulai dari Syam. Saya akan membagi warisan, saya akan tinggal di tengah mereka sampai saya rasakan masalah penting selesai. Kemudian baru saya kembali. Dalam perjalanan kembali saya bergerak menyusuri daerah-daerah lainnya dan saya jelaskan tujuan perjalanan saya. Kemudian ia berangkat dari Madinah ditemani Ali bin Abi Thalib r.a.

Begitu sampai di Syam ia mengatur sumber mata pencaharian, mendesain infantri yang bertugas di perbatasan selama 60 hari dan yang bertugas 2 minggu, mencukupi kebutuhan makanan ala Syria, menyiapkan angkatan bersenjata. Ia mengangkat pemimpinnya. Abdullah bin Qais untuk tepi pantai beberapa distrik. Mengangkat Muawiyah di Damaskus. Ia menertibkan persoalan yang ada di tengah tentatara, para pemimpin, dan rakyat. Ia membagi harta warisan yang ditinggal oleh yang mati.
Begitu waktu shalat tiba, jamaah memintanya. Seandainya Anda Umar menyuruh Bilal untuk azan. Ia lalu menyuruhnya. Bilal azan, mereka yang hidup bersama Nabi, saat Bilal azan itu, pada menangis tersedu-sedu sampai basah jenggotnya. Yang paling kuat tangisnya ialah Umar. Memang siapakah yang tidak akan menangis. Hal itu disebabkan karena ingatan mereka terkenang kepada Rasulullah s.a.w.

Sebelum kembali ke Madinah ia berpidato, Saya sudah memerintahmu, saya sudah tunaikan kewajiban, sebagaimana Allah memerintahkan untuk ditunaikan. Insya Allah saya sudah bagi harta rampasan perang, tempat tinggalmu, dan medan perangmu. Kami sudah berikan apa yang kami miliki, mencukupi kebutuhan makanan, kami siapkan tempat tinggal, kami luaskan segala hasil rampasan perang, dan apa yang kamu minta untuk negeri Syam-mu. Kami tingkatkan kebutuhan bahan pokok makanan, kami perintahkan adanya pemberian hadiah, lapangan pekerjaanmu, harta rampasan perang. Kemudian siapa saja yang tahu bahwa ada sesuatu hal yang harus kami kerjakan, maka sampaikan kepada kami. Kami akan kerjakan..Insya Allah …La Haula Wala Quwwata Illa Billah.

Pidato ini disampaikan saat selum shalat berjamaah ditunaikan. Sungguh wabah pes Imawas itu sangat berbahaya, sesuatu yang dahsyat bagi kaum muslimin. Dan telah mematikan mereka sebanyak 20.000 orang. Itu sebanding dengan separuh penduduk muslimin Syam. Ini juga menakutkan kaum muslimin dan itu mereka rasakan betul akan bahaya datangnya pasukan Romawi. Adalah suatu realita kalau seandainya mengetahui betul tentang kekurangan yang menimpa pasukan muslimin di Syam dan mereka betul-betul menyerang negeri itu, tentu sangat sulit tentara teritorial itu menahan mereka.
Tetapi berangkat dari rasa putus asa, yang masih menyelinap di hati tentara Romawi, mereka meniadakan untuk menyerang pasukan Islam. Terlebih karena penduduk setempat senang atas kekuasaan muslimin dan puas di dada atas pemerintahannya yang adil, berahlak mulia. Dengan bantuan mereka, tentara Romawi tidak mudah menyerang Syam. Apalagi kalau kita tambahkan dengan faktor keputusasaan mereka untuk berperang. Mereka tetap mengutamakan beristirahat dari kepenatan melawan kaum yang setiap kali perang menang dan terjalin aliansi di berbagai tempat. Kegoncangan telah melanda dari pusat kekuatan mereka dan itu bisa terjadi pada setiap hati manusia.

Hukum Keluar Masuk dari Daerah yang Terjangkit Wabah Pes

Rasul SAW bersabda: Apabila kamu mendengar bahwa ia ada di suatu daerah, kamu jangan masuk ke dalamnya. Dan apabila kamu ada di dalam daerah itu, maka kamu jangan keluar, lari darinya. (HR Bukhori di Bab At Thib dari Usamah bin Ziyad- pent.)

Sahabat telah berbeda pendapat dalam memahami pendapat Nabi untuk tidak keluar. Sebagian ada yang berpendapat seperti apa yang tertulis dalam bunyi lahir teks dan sebagian ada yang menakwilkannya. Mereka yang menakwilkan larangan keluar, membolehkan keluar dari daerah yang dilanda wabah pes. Itu betul-betul terlihat dari betapa kuatnya keinginan Al Faruq agar Abu Ubaidah keluar dari daerah yang dilanda wabah pes. Hanya, Abu Ubaidah minta permisi kepada Umar untuk tidak keluar. Demikian pula sebagaimana keinginan kuatnya Al Faruq agar Abu Ubaidah memindahkan kaum muslimin ke daerah basah yang di situ banyak air. Pindah dari lembah ke daerah peristirahatan yang tinggi dan Abu Ubaidah menjalankannya.

Surat Umar kepada Abu Ubaidah ditulis sesudah keduanya melakukan pertemuan di Saragh dan keduanya setelah mendengar hadist dari Abdurrahman bin Auf akan larangan keluar dan masuk kedaerah terjangkitnya wabah. Saat Umar kembali ke Madinah, ternyata wabah itu baru mulai menjalar, tetapi terus berkobar menyala nyala. Tatkala Umar telah sampai di Madinah berbagai kabar datang bahwa telah banyak yang menjadi korban wabah pes ini.

Pendapat Umar r.a. tentang bolehnya keluar dari wabah pes ini dinukil juga dari beberapa sahabat yang hidup semasa Abu Ubaidah di Syam, hidup di tengah cobaan, seperti: Amru Ibn ‘Asy dan Abu Musa Al Asy’ari r.a. Perbedaan pendapat itu masih berjalan, yaitu soal keluar dari daerah wabah pes. Tidak pada persoalan tentang masuk ke daerah yang kena wabah pes.

Sebagian membolehkan dengan niat tidak lari dari takdir Allah. Ia meyakininya bahwa larinya itulah yang menyelamatkannya dari kematian. Adapun yang keluar untuk memenuhi kebutuhan pribadinya yang sangat mendesak maka boleh. Siapa yang keluar untuk berobat juga boleh. Siapa yang meninggalkan wabah dan berpindah ke daerah peristirahatan yang tinggi itu disunnatkan dan itu yang dianjurkan.

Adapun pendapat Abu Ubaidah untuk tetap tinggal dan minta izin Al Faruq untuk tidak keluar, maka itu kembali kepersoalan kesehatan, persoalan sosial kemasyarakatan, persoalan kepemimpinan, di mana agama sudah mengatur masalah tersebut. Bisa dikategorikan di situ, misalnya, karena ia adalah Panglima Tertinggi Pertahanan Keamanan. Dan Abu Ubaidah yang dipercaya umat di situ.
Itu sebabnya ia memberi alasan tetap tinggal dan tidak keluar karena harus di tengah-tengah pasukan kaum muslimin, tidak terbetik di hatinya rasa tidak senang terhadap mereka.

Sungguh benar pendapat ulama tatkala menjelaskan tentang hikmah Nabi SAW melarang keluar dari daerah wabah pes. Sungguh kalau manusia berturut-turut semua keluar, maka jadilah orang yang lemah akibat penyakit, atau sebab lainnya, kehilangan kemaslahatan akibat hilangnya mereka yang mengikat janji untuk hidup atau mati. Kalau syariat menetapkan untuk keluar, tentulah yang keluar adalah mereka yang kuat dan ini menyakiti hati orang yang lemah.
Dari situlah mereka berpendapat: Hikmah yang terkandung dari lari dari kumpulan pasukan yang banyak, di situ akan ada perasaan
menyakiti yang lemah, membuat hatinya gelisah dan itu mengecewakan.

Kesimpulan

Tetap tinggal (Al Baqok) itu adalah rukhshoh sebuah keringan hukum.
Keluar (Al Khuruuj) itu juga adalah rukhshoh sebuah keringanan hukum. Karena siapa yang ada di dalamnya dan terjangkit, maka tidak ada gunanya untuk keluar. Keluarnya itu justru memindahkan penyakitnya kepada orang yang sehat. Adapun bagi yang tidak terjangkit, maka ia diberi keringanan untuk keluar sebagai usaha untuk berobat, dengan syarat manusia tidak keluar semuanya. Maka yang wajib tinggal adalah yang kena penyakit.

Penyakit yang jahat ini telah menghancurkan kehidupan banyak manusia dan menakutkan para tokoh Pembuka (Al Fatih) negeri kaum muslimin. Umar bin Khatthab RA telah memperlakukan wabah ini dengan penuh kewaspadaan yang luar biasa. Itulah sebabnya ia bersikeras tidak masuk Syam. Ia juga bersikeras untuk mengeluarkan yang sehat dari daerah wabah. Ia juga tegak berdiri menanggungjawabi segala persoalan yang timbul setelah wabah itu sirna. Ia lalu pergi ke Syam dan memimpin langsung dalam menyelesaikan segala persoalan yang timbul akibat krisis ini. Dengan rujukan dalil yang digariskan syariat Islam dan fikihnya. Ia berijtihad dan melaksanakannya. Ia perintahkan gubernurnya, ia arahkan sesuai dengan hal tersebut. Jadilah ia sebagai suri teladan bagi pemimpin dan penguasa berikutnya bagaimana cara menghadapi krisis dan memanajemennya.

Sumber dan Rujukan:
– Ali Muhammad Muhammad As Shalaaby : Biografi Amirul Mukminin Umar bin Al Khothab, kepribadiannya dan zamannya ( 2005 ), Muassasah Iqra, Al Qohirah, halaman 230-235.
– Muhammad Rasyid Redla : Al Faaruq Umar bin Khathab, Daar Kutub Ilmiyah, Beirut -Libanon halaman ( 230 )
– Muhammad Syaraab : Abu Ubaidah ‘Amir bin Al Jaraah, ( 1997 ), Darul Qolam, ( Hal. 220, 232, 237 )
– Ahmad Ibrahim Asy Syarif : Study tentang Kebudayaan Islam, Darul Fikry Al Araby hal ( 253-254 )
– Abdul Wahhab An Najjar : Al Khulafaa Ar Raasyidun, ( 1986 ), Darul Qolam, Beirut, halaman ( 222-224 )
– Muhammad Ahmad Az Dzahaby : Sejarah Islam di periode Ke Khalifahan, Darul Kitab Al Araby, halaman ( 174 ).
– Muhammad Hamidullah : Kumpulan Dokumen Politik masa Al Naby danAl Khilafah Ar Rasyidah ( 1985 )
Sumur Batu- Jakarta Pusat, tgl 23 Maret 2020 jam 23.00
Diharokati dan diterjemah oleh : M.Sun’an Miskan.
Di Down Load dari : blogs.aljazeera.net (tgl.16 Maret 2020 jam 15.37
WIB ).

Catatan dari Pengharakat dan Penerjemah:
Diharakati dan diterjemahkan makalah tersebut di atas, di tengah
gencarnya menyosialisasikan dan melaksanakan:
1. Maklumat PP Muhammadiyah no : 02/MLM/I.0/H/20 untuk menghambat penyebaran Virus Covid – 19.
2. Seruan Gubernur DKI Anies Baswedan no : 15 thn 2020 untuk meniadakan kegiatan keagamaan yang mengumpulkan orang banyak. Shalat Dhuhur di rumah pengganti shalat Jumat, shalat jamaah rawatib 5 waktu dilaksanakan di rumah. Menyatakan Jakarta sudah darurat penyebaran Virus Covid -19 dan jadi episentrumnya.
3. Maklumat PP Muhammadiyah tgl 20 Maret 2020 untuk menunaikan shalat Dhuhur di kediaman masing masing pengganti shalat Jumat. Takmir meniadakan shalat Jumat. Shalat fardu berjamaah di rumah.
4. Edaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI, tgl. 20 Maret 2020 yang merujuk maklumat PP Muhammadiyah dan seruan Gubernur di atas.
5. Edaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI no :102/II.0/SE/2020 , TGL. 23 Maret 2020 ditanda tangani oleh H.M.Sun’an Miskan,Lc./Ketua, Drs.Nuswantoro,M.Pd./Sekretaris :
Untuk
5.1 Menunda semua kegiatan di lingkungan Muhammadiyah dan Amal Usaha yang melibatkan massa dengan jumlah yang banyak.
5.2 Dalam keadaan/situasi dinyatakan darurat, warga Muhammadiyah menunaikan shalat fardy berjamaah di rumah masing-masing. Dan shalat Dhuhur pengganti shalat Jumat.
5.3 Semua kegiatan yang ditunda, agar dijadwal ulang untuk dilaksanakan setelah situasi dinyatakan aman dan kondusif.
5.4 Sangat dianjurkan rapat, pertemuan, bila harus dilaksanakan agar menggunakan media sosial
5.5 Bilamana keadaan darurat berkepanjangan dan warga sekitar/terdekat memerlukan bantuan maka semua masjid/mushalla/amal usaha/kantor Muhammadiyah harus menjadi ujung tombak penyuplai makanan dengan berkoordinasi kepada MDMC/MPS/Majelis Kesehatan dan Lazismu dengan Koordinator Bpk Drs Ahmad Arif, Nomor Hp. 0812.2074.4962.

Umar Ibn Khathab R.A.adalah sebagai suri teladan bagi pemimpin dan penguasa berikutnya tentang bagaimana cara menghadapi krisis dan memanajemennya. Ijtihadnya tentang menghadapi penyebaran wabah pes (tha’un ) sudah benar pada zamannya. Tentu ijtihadnya wajib diperbarui dengan kekinian kita, apalagi virusnya juga berbeda. Karena Islam itu adalah rahmat untuk segala zaman.

Maka Maklumat PP Muhammadiyah, seruan Gubernur DKI, edaran PWM DKI Jakarta tersebut di atas adalah bentuk dari pembaruan ijtihad Umar bin Khathab r.a. Semoga ujtihad kekinian kita tersebut benar sehingga dapat dua pahala dan kalau salah dapat satu pahala.
Wallahua’lam. (Achmad San)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here