Marhaban Yaa Ramadhan” Eksploitasi Alam dan Al-Qur’an Sebagi Solusi atas Kerusakan Lingkungan”

0
215
Foto Ilustrasi Eksploitasi Alam Indonesia diambil dari sunmedia.id

KLIKMU.CO

Oleh: Rusydan Fauzi Fuadi*

Eksploitasi alam di Indonesia semakin hari semakin bertumpuk dan semakin sulit mencari jalan keluarnya. Tidak sedikit masyarakat yang merasakan dampaknya secara langsung, beberapa diantaranya lebih memilih untuk tetap bertahan, pun tidak sedikit masyarakat yang terusir hanya karena lingkungannya telah direnggut oleh para kapitalis yang hanya mementingkan dan memperkaya diri, dan tentu beserta orang-orang yang  ada dilingkarannya.

Satu hal yang membuat saya prihatin terhadap kelestarian lingkungan, terutama di daerah tempat tinggal saya di Kalimantan Timur adalah kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perusahaan batu bara yang semakin liar dan rakus dalam menjarah alam. Yang pada akhirnya, hanya para kapitalislah yang menikmati hasilnya.

Lalu, bagaimana dengan masyarakat sekitar tambang batu bara..?

Beberapa warga memilih utuk mengikuti program perusahaan, yakni dipindahkan atau di-resettlement ke daerah lain, yang jaraknya cukup jauh dari lokasi yang akan dijadikan tambang batu bara. Dan sebagian warga memilih untuk bertahan, walau hidup di tengah kepungan galian tambang. Penyebab utamanya ditengarai kerena peneribitan izin pertambangan yang ugal-ugalan pada masa silam.

Merujuk salinan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Kaltim, bahwasannya izin tambang di seluruh Kaltim menembus angka 5.137.875, 22 ha, atau setara 40,39% daratan provinsi ini, luas ini mengalahkan luasnya pulau Jawa Timur yang hanya 4,78 juta ha. Entah bagaimana perizinan itu bisa diperoleh dengan sangat mudah, tanpa menganalisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) di daerah tersebut. Saya pikir, ada uang yang bermain di balik itu semua, sangat mudah ditebak, sehingga pemerintah menyepakati untuk kemudian dibuatkan surat izin usaha tambang.

Walaupun pendapatan daerah lebih banyak didapat dari batu bara disaping migas, yakni lebih dari 50%, kerusakan lingkungan akan tetap ada dan terus berlanjut, dan semakin merajalela. Sebab, aktivitas pertambangan sangatlah menguntungkan bagi Provisni Kaltim. Ini ditunjukan dari izin usaha pertambangan (IUP) yang diterbitkan, dan secara nasional Kaltim merupakan penerbit UIP terbesar.

Berbagai kerusakan alam dikarenakan oleh aktivitas pertambangan pun bermunculan, seperti halnya kubangan raksasa bekas tambang yang ditinggal begitu saja oleh perusahaan batu bara, yang paa akhirya jika hujan, lubang itu akan terisi air dan selalu meluber dan  menggenangi area pemukiman warga, maka tak heran jika tiap tahunnya kawasan banjir semakin luas.

Tidak berhenti sampai disitu, lubang-lubang itu rupanya meninggalkan air beracun dan logam berat, yang semestinya kawasan bekas galian tambang harus diuruk atau ditimbun tanah kembali, atau setidaknya diberi pagar agar tidak ada yang mendekat ke bekas lubang galian. Tetapi, hal sekecil ini nampaknya tidak ada yang menggubrisnya, yang  pada akhirnya kurang lebih 30 nyawa melayang akibat bekas galian tambang disebabkan karena tengggelam dan tidak bisa diselamatkan.

Miris memang melihat fenomena ini, tapi sayangnya, pencemaran lingkungan di Kaltim tidak berhenti sampai disitu. Masih ada komoditas lain yang telah merusak lingkungan, yaitu kelapa sawit. Komoditas ini menjadi salah satu komoditas andalan setelah batubara dan migas.

Kelapa sawit merupakan tumbuhan yang hanya dapat tumbuh di tanah gambut, tumbuhan ini dimanfaatkan untuk diambil minyaknya, untuk kemudian diolah menjadi beraneka macam produk, mulai dari minyak goreng, bahan campuran makanan dan sabun, hingga bahan bakar (bio solar). Oleh karenanya, kelapa sawit merupakan komoditas yang sangat dibutuhkan oleh manusia.

Yang menjadi permasalahan adalah, pengunaan pupuk kimia dan pestisida yang diserap oleh tanah yang kemudian akan mengalir ke sungai-sungai, hal ini sangat berdampak buruk pada masyarakat lokal yang hidup di bantaran sungai, kerena mereka akan mengkonsumsi air yang telah tercemar limbah.

Permasalahan lainnya,  dimana ada kelapa sawit dikembangankan, maka sumber-sumber air itu akan segera kering, tetapi jika musim hujan tiba,  maka akan segera banjir, dan hal ini jelas berdampak pada lingkungan masyarakat disekitarnya.

Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk terbaik diantara semua ciptaan Tuhan (Q.S 95:4; 17:70) yang diangkat menjadi khalifah (Q.S 2:30) dan memegang tanggung jawab mengelola bumi dan memakmurkannya (Q.S 33:72).

Oleh karenanya, Islam memberikan panduan yang jelas bahwa sumber daya alam merupakan daya dukung bagi kehidupan manusia yan gharus dipelihara sebaik-baiknya. Sebab jika tidak, maka rentetan bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, dan lain sebangsanya akan mejjadi konsekuensinya.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Q.S 30:41)

Maka dalam berinteraksi dan mengelola SDA dan lingkungan hidup, manusia secara umum mengemban tiga amanat dari Allah Swt.

Pertama, al-Intifa’ yaitu mengambil manfaat dan dan mendayagunakan hasil bumi sebaik-baiknya demi kemakmuran dan kemaslahatan.

Kedua, al-I’tibar yaitu manusia dituntut untuk senantiasa memikirkan dan meggali rahasia dibalik ciptaanNya, agar dapat mengambil pelajaran dari berbagai kejadian dan peristiwa alam.

Ketiga, al-Ishlah yaitu manusia diwajibkan untuk terus menjaga dan memelihara kelesatarian lingkungan.

Maka, menjadi wajib hukumnya bagi manusia untuk saling menjaga, memelihara, dan mengingatkan untuk selalu bersikap ramah terhadap lingkungannya. Dimulai dari sendiri, melakukan hal kecil, untuk perubahan yang besar.

 

* Kontibutor KLIKMU.CO

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here