Marhaban Yaa Ramadhan “Akui Kesalahan, Minta Maaf, dan Bangkit!”

0
165
Ilustrasi diambil dari google.com

KLIKMU.CO

Oleh: Bobi Puji Purwanto*

Dia Akio Toyoda, great leader luar biasa salah satu perusahaan mobil terbesar di dunia. Anda mengenalnya? Tentu. Beliau merupakan pewaris ketiga pendiri Toyota, Sakichi Toyoda. Mulanya, ada beberapa yang meragukan potensinya. Namun, beliau menunjukkan bahwa untuk menjadi hebat, selain dari intellectual capital, kita juga harus memiliki integritas yang tinggi. Sehingga dia mampu menjadi orang nomor wahid di Toyota saat itu.

Ketika saya baca literatur dalam CEO Wisdom milik Lilik Agung, ada cerita menarik dari kepemimpinan dia, Akio Toyoda. Pada awal tahun 2010, Toyota pernah mengalami krisis terbesar sepanjang sejarahnya. Krisis itu ada pada kesalahan produksi. Ada jutaan mobil yang ditarik kembali karena pedal rem dan gasnya bermasalah. Karena itu, banyak pelanggan yang mengalami kecelakaan saat menggunakan mobil tersebut.

Mayoritas produk mobil bermasalah itu terjadi di Amerika Serikat. Apalagi pada saat itu pemerintah Amerika memiliki semacam kartu truf yang fungsinya bisa dibuat untuk menjinakkan pasar Toyota di sana. Sebuah ujian besar bagi salah satu produsen mobil terbesar di dunia itu. Lalu, publik bertanya-tanya, strategi apa yang ingin Toyota lakukan untuk menghadapi masalah itu? Banyak yang menunggunya.

Ternyata, sang CEO Akio Toyoda melakukan sebuah strategi yang paling sederhana tapi kekuatannya ampuh sepanjang masa. Apa itu? Jujur; akui kesalahan, minta maaf, dan bangkit!

Akio Toyoda ketika mendengar kabar itu langsung mengunjungi Amerika. Diq berangkat dengan penuh confidence. Yakin bahwa semua akan berjalan dengan optimal. Kemudian, dia segera menemui senat Amerika yang terkenal angkuh. Dan luar biasanya lagi, Akio Toyoda tidak membawa pendamping untuk advokasi. Entah itu pengacara hebat, atau konsultan PR terbaik di dunia untuk mengabarkan bahwa kesalahan ini merupakan teknis belaka saja, bukan kecerobohan dalam proses produksi.

Ya, saya kagum dengan Akio Toyoda. Dia memilih berkata jujur dengan mengakui kesalahan bahwa memang ini produksi yang kurang berhati-hati, lalu dia dengan gagah meminta maaf, dan berkomitmen untuk memperbaikinya. Luar biasa. Dan apa yang kemudian terjadi setelah peristiwa itu? Banyak customer yang mengapresiasinya. Tahun itu, pangsa pasar Toyota masih di puncak meskipun ada penurunan 9 persen. Namun, angka ini jauh di bawah 50 persen, sebagaimana banyak yang memprediksi pascakrisis tersebut.

Terinspirasi dari Akio Toyoda, saya perlahan-lahan menerapkannya. Jumat, 4 April 2019, beberapa karyawan tempat saya bekerja berkumpul untuk melakukan kegiatan rutin mingguan, yaitu rapat. Telah hadir di situ tim penjualan dan bagian mesin percetakan. Agenda yang dibahas pada saat itu ialah penyampaian data penjualan dan program brilian ke depan. Secara langsung dipimpin oleh direktur perusahaannya.

Sebelum para tim penjualan diperkenankan menyampaikan ide dan perkembangan lapangan, direktur menginformasikan hasil penjualan sementara. Bersyukur, order yang masuk tetap berkembang. Namun, ada beberapa marketing yang stagnan. Bahkan, perolehannya di bulan ini berbeda jika dibandingkan bulan yang sama di tahun lalu. Termasuk saya sendiri. Tapi tunggu dulu, perjuangan masih belum final. Ada beberapa bulan ke depan untuk memperbaiki order.

Kemudian, direktur bertanya kepada para marketing yang ordernya menurun. Mereka semua masing-masing punya alasan yang cukup rasional. Dan mereka semua optimistis berbenah. Lalu tiba giliran saya ditanya. Saya jawab begini. “Ya, kesalahan itu ada pada diri saya. Saya minta maaf. Saya sering tidak masuk kerja. Karena sakit dan kondisi yang lain. Tapi, saya akan segera perbaiki,” kata saya.

Sebenarnya saya bisa saja menjawab kalau itu bukan keinginan saya. Ya, karena sakit itu kan kita tidak tahu. Saya juga bisa ucapkan jika perjalanan masih belum selesai. Masih ada timing. Jadi tunggu saja. Namun, saya lebih memilih mengakui kesalahan, minta maaf, dan bangkit. Ini juga menjadi semacam “learning” bahwa kita harus selalu berhati-hati. Sakit itu sebenarnya berasal dari diri sendiri. Bagaimana menjaga mindset, pola makan, dan pola keseharian kita. Ya, kan?

Jadi, dengan kita mengakui kesalahan, kita bisa mengerti, untuk mencapai keberhasilan itu butuh evaluasi diri. Secara intensif. Kita harus tahu salah kita apa dan di mana. Dan segeralah meminta maaf. Karena minta maaf itu merupakan langkah strategis untuk membersihkan diri atas kesalahan yang pernah kita lakukan. Bukankah hati bersih dan pikiran bersih itu bisa membuat kita ringan bergerak? Ya. Kemudian kita harus bangkit. Dengan sungguh-sungguh, kita tatap masa depan. Insya Allah, masa depan cerah itu mampu kita dapatkan. Kita berdoa.

*Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Kaderisasi PC Pemuda Muhammadiyah Wonokromo, Kota Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here