Mas Menteri: Dahulu Dipuja, Kini Dicerca

0
567
Mendikbud Nadiem Makarim. (Tirto.id)

Oleh: Eriton *)

KLIKMU.CO

Alumnus Harvard, menteri termuda Kabinet Jilid II Presiden Joko Widodo, pengusaha sukses, dan memiliki segudang prestasi internasional. Itulah sekilas yang menggambarkan sosok Nadiem Anwar Makarim, Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Citra tersebut membuat dirinya menjadi salah satu menteri ter-wow di antara yang lain.

Lebih-lebih, ketika Nadiem dan sejumlah menteri jilid II melakoni sebuah Drama Antikorupsi di SMKN 57 Jakarta. Karakternya yang culun, jujur, dan patuh membuat dirinya kian dikagumi dan senantiasa menjadi pusat perhatian.

Semua insan pendidik negeri ini mengelukan gagasan cemerlangnya untuk pendidikan Indonesia. Jagat maya memuji, seakan semua percaya akan ada energi baru bagi anak bangsa dalam dunia pendidikan. Dukungan berbagai kalangan masyarakat, terutama generasi muda, terus mengalir dan tidak sabar menanti dobrakan apik sang menteri.

Jauh Panggang dari Api

Sayangnya, kini justru sebaliknya. Angin segar itu belum kunjung tiba. Aroma terobosan Mas Menteri belum terendus. Malahan faktanya kini, ibarat jauh panggang dari api. Tidak banyak yang diharapkan setelah hampir setahun didaulat oleh Presiden Jokowi.

Beberapa gebrakan pemungkasnya di awal sudah mulai menuai kontroversi. Pasalnya tidak selaras dengan semangat pendidikan kita. Program Merdeka Belajar sempat mendapat tanggapan positif dari publik karena gagasan itu dianggap baru dalam dunia pendidikan kita. Jargon itu pun seolah berkonotasi sebuah pencerahan baru. Namun, setelah lebih jauh diteliti ternyata kering akan esensi dari pedagogis itu sendiri. Belakangan Program Organisasi Penggerak (POP) nyatanya kentara hanya bagi-bagi jatah semata.

Ormas sekaliber Muhammadiyah dan NU menjadi yang terdepan mengingatkan Mas Menteri agar kembali ke jalannya. Ke jalan pendidikan yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Sikap kedua ormas besar tersebut menarik diri dari POP adalah sinyal kuat bahwa Nadiem penting meninjau ulang program itu. Mungkin secara prosedur dan administratif sah-sah saja, semua peserta POP yang diterima memenuhi syarat dan ketentuan. Akan tetapi, saya kira bukan itu soalnya.

Semua maklum Muhammadiyah dan NU telah jatuh bangun membangun dan mencerdaskan anak bangsa. Sejak lama bahkan sebelum khalayak mengenal Go-Jek milik Mas Menteri. Sehingga sudah seharusnya kedua ormas ini justru menjadi partner Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk merambah dunia pendidikan kita yang jauh lebih pelik ini.

Saya yakin, alasannya bukan soal besaran anggaran yang diberikan sesuai kategori III yang asosiasikan bak penghuni ragunan itu. Tetapi ada sekelumit hal mendasar yang belum terlintas di kacamata Mas Menteri. Percayalah, mengurus pendidikan jauh lebih rumit dengan segudang tantangan dan persoalan yang kompleks di lapangan.

POP Belum Urgen, Fokus Ketimpangan Pendidikan

Kemarin Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) turut mengelak diri dari POP. Alasannya jelas bahwa program ini jauh dari kebutuhan pendidikan kita saat ini. Sederet rintangan untuk mencerdaskan anak bangsa justru bertambah di masa Covid-19 ini. Harusnya itu yang didahulukan oleh Mas Menteri untuk mencari jalan keluar.

Di masa Covid-19, tenaga pendidik yang PNS maupun honorer tentu telah meresapi bagaimana rasanya mengajar di pelosok yang tanpa internet. Misalnya di Madura, salah seorang guru mendatangi rumah-rumah siswa secara bergantian demi menunaikan tanggung jawab sebagai pendidik.

Di lain sisi, ketimpangan pendidikan masih terasa antara perkotaan dan pedalaman, terutama fasilitas penunjang. Buku, ruang kelas, kurangnya tenaga pendidik, dan honor guru kontrak yang memprihatinkan. Seharusnya ini dicermati dalam-dalam lebih dahulu ketimbang menghamburkan APBN untuk kegiatan formalitas belaka.

Ekspektasi UUD 1945 dan masyarakat Indonesia terhadap masa depan pendidikan teramat besar dan jauh ke depan. Sehingga, wajar saja jika publik kecewa berat. Menteri yang baru dikenal dengan segudang prestasi itu dahulu dielukan, namun kini dikritisi. Bila tidak segera berbenah diri, bukan tidak mungkin Mas Menteri masuk dalam radar amarah Pak Jokowi. (*)

*) Kader IMM Malang Raya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here