Maulid-Ku, Maulid-Mu, Maulid Kita

0
92
Kebudayaan Mauludan di Desa Kemuja Bangka. (Rumpun Ilmu)

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Kenapa ada yang tak suka ketika hari kelahiran nabi saw dirayakan dan dikabarkan kepada semesta, hari lahirnya dirayakan dibilang bidah, dijadikan bahan olok-olok dan karikatur antum diamkan. Ada apakah?

***

Di surau itu kami duduk melingkar menunggu bapakku berkisah tentang nabi akhir zaman. Tentang anak yang ditinggal mati ayahnya ketika masih dalam kandungan ibunya. Disusukan pada Halimah Sya’diyah hingga ”diculik” Jibril sesaat sebelum dibedah dan dicuci hatinya.

Kemudian, ibunya juga meninggal saat berusia enam tahun. Ia diasuh kakeknya, Abdul Muthalib, untuk beberapa waktu. Abu Thalib menggantikan ketika sang kakek yang sangat dihormati itu juga wafat. Hidup si anak yatim ini begitu berat. Ujian silih berganti.

Banyak cerita tentang nabi akhir zaman itu. Dan kami selalu sabar menunggu cerita dilanjutkan esok harinya. Di surau kecil di depan rumah kakekku itu kami biasa berkumpul untuk shalat, mengaji, dan mendengar cerita haru tentang nabi akhir zaman.

***

Memasuki bulan Maulid kami diajari beberapa ”pujian” tentang nabi saw yang biasa dilantunkan bakda azan sebelum shalat. Kami bersukacita. Apalagi diiringi beduk dan kentongan bambu. Syair itu begitu berkesan menghunjam. Itu syair yang kali pertama aku dengar dan nyanyikan sebelum kemudian lagu Chrisye, Pance Pondaag, Ebiet, dan Rhoma Irama menggantikan.

Kami hanya orang kampung, tak banyak tahu informasi tentang manusia pilihan itu. Samar terdengar, tapi kami percaya. Dan kami mencintainya dengan cara yang kami bisa. Termasuk emakku yang selalu menyembelih ayam jantan saat menjelang tanggal 12 Rabiul Awal untuk dimakan bareng di surau selepas magrib. Tapi itu dulu.

Tak paham, apa ada korelasi sembelih ayam, nasi dicobek, makan bersama dengan kelahiran nabi akhir zaman. Di keraton Jogja dan Solo ada sekaten, gerebek Maulid: gunungan dan tumpeng. Di Banyuwangi ada tradisi endog-endogan, di Minang ada nginang sarempak, dan masih banyak lainnya. Semua dilakukan sebagai bentuk cinta kepada nabi saw.

Emakku dan orang kampung punya cara sederhana untuk mengenalkan kami kepada nabi junjungan itu: berkumpul di surau mendengar bapakku cerita tentang nabi akhir zaman sambil bawa makanan di kenduri bareng. Lalu kami menyebutnya muludan. Cara gampang untuk mengingat.

Beragam cara dilakukan untuk mengenalkan nabi akhir zaman itu. Sembelih ayam dimakan bareng itu hanya cara memberi tanda sukacita bahwa hari itu telah lahir manusia pilihan. Kita berada pada jarak waktu dan tempat yang sangat jauh. Tapi terasa sangat dekat.

Sebelum kenduri, dibacakan pula kisahnya. Agar mengenal lebih dekat. Cinta terhadapnya tumbuh. Berbagai ekspresi diperlihatkan. Tak urung bila Syaikh Ibnu Tayimiyah berkata mungkin mereka telah melakukan perbuatan mengada-ada, tapi mereka mendapatkan pahala karena cintanya kepada nabi saw.

Apakah membaca sirah Maulid Nabi itu berlebihan, apakah membawa opor ayam dalam cobek dimakan bareng itu syirik, apakah merayakan kelahiran manusia teragung itu bidah? Kenapa antum baper jika kelahirannya dirayakan sebagai tanda sukacita dan syukur, bukankah itu sunah hasanah?

Seperti halnya beberapa tetanggaku yang tidak mengerjakan shalat, apalagi puasa Ramadhan, tapi ia rajin datang dengan seekor ayam jantan besar dibumbu opor saat Maulid diselenggarakan. Hanya itu yang dia mampu lakukan. Sebagai tanda cinta kepada nabi junjungan. Jadi, jangan kesusu menilai ini itu sebab muludan adalah salah satu cara agar kami mengenal Muhammad saw lebih dekat. Wallahu a’lam

 

@nurbaniyusuf

Komunitas Padhang Makhsyar

Nurbani Yusuf, dosen Universitas Muhammadiyah Malang

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here