“Melawan Korupsi sebagai Ladang Jihad”

1
2538

WAWANCARA EKSKLUSIF
dengan
DAHNIL ANZAR SIMANJUNTAK
Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah

Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PP PM) dan pegiat antikorupsi yang kritis, Anin, sapaan akrab Dahnil Anzar Simanjuntak tak jarang mendapat tantangan dan “gangguan” yang tidak sederhana. Namun, seiring itu pula, nama inisiator Madrasah Antikorupsi (MAK) ini juga kian melambung di masyarakat. Tak jarang, dalam berbagai program televisi dan even penting nasional, ia sering dihadirkan sebagai narasumber utama.

Sebenarnya, apa pandangan dan gagasan tokoh muda Muhammadiyah tersebut tentang agenda pemberantasan korupsi di Indonesia, serta harapannya terhadap generasi zaman now? Berikut petikan wawancara M. Syaikhul Islam Pemimpin Redaksi KLIKMU.CO dengan pria kelahiran Aceh 35 tahun silam tersebut, Selasa (30/1).

Sebagai pegiat antikorupsi, bagamaina pandangan Bang Anin terkait upaya pemberantasan korupsi di Indonesia mutakhir ini?

Menurut saya, bila ada era pascareformasi yang agenda pemberantasan korupsi mengalami kemunduran yang massif dan sistematik adalah era kepemimpinan Pak Joko Widodo saat ini. Kita seolah masuk era kegelapan pemberantasan korupsi. Di mana, KPK dilemahkan secara sistematik, baik dari dalam maupun dari luar. Hukum ramai digunakan sebagai alat politik. Politik masih dikuasai oleh nalar politik rente, ekonomi kita jauh dari cita-cita berkeadilan.

Bagaimana dengan peran KPK RI yang beberapa kalangan belakangan ini menilai sedang terjadi lesu semangat atau kurang gairah?

Pada taraf tertentu, KPK menurut saya, pada posisi business as usual, dalam makna agenda kerja perlawanan korupsi dilakukan dengan massif. Namun, KPK saat ini, bagi saya menghadapi dua tantangan berat.

Pertama, pelemahan dari dalam, yakni pelemahan yang dilakukan secara sistematik sejak kriminalisasi terhadap Novel Baswedan, Abraham Samad, dan Bambang Widjayanto dilakukan, yang kemudian berujung pada penunjukkan Plt. Pimpinan KPK untuk menggantikan Samad dan Bambang. Secara perlahan, praktik pelemahan KPK melalui strategi “Kuda Troya,” yakni memasukkan para “free rider” atau tukang tebeng ke dalam KPK untuk mengendalikan KPK dari dalam dan melawan penyidik-penyidik dan karyawan KPK yang idealis di dalam KPK. Maka, pelemahan KPK dari dalam terstruktur dan massif, termasuk berujung pada penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan.

Pelemahan dari dalam juga terjadi, menurut saya, melalui para Komisioner KPK. Mohon maaf ya, yang bagi saya tidak punya nyali melawan korupsi terutama bila terkait dengan korupsi-korupsi yang diduga melibatkan aparatur hukum lainnya. Bagi saya, sebagian komisioner KPK tersandera, sehingga kehilangan keberanian. Nah, kedua, pelemahan dari luar yang juga massif, khususnya melalui DPR, korporasi yang tidak senang dengan agenda pemberantasan korupsi, maupun bandit-bandit lainnya.

Bagaimana penilaian Bang Anin, apakah antarlembaga penegak hukum di negeri ini, selama ini sudah saling bahu membahu dan sinergis dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi?

Saya melihat kecenderungan bukan fastabiqul khairat, atau ta’awanu ‘alal birri wat taqwa yang dilakukan oleh antaraparatur hukum kita. Tapi, ada dugaan saling sandera satu dengan yang lain. Kemudian egosentris yang kuat, sehingga tidak terbangun komitmen, dalam bahasa Muhammadiyah amar munkar nahi ma’ruf yang dilakukan secara berjamaah. Sehingga, kita temukan yang terjadi adalah politisasi hukum. Hukum digunakan sebagai kepentingan politik serta membungkam dan menyandera lawan politik demi mempertahankan kekuasaan.

Apa sebenarnya faktor atau problem yang membuat antarlemabaga penegak hukum terkesan kurang sinergis?

Sederhana. Nalar altruismenya mulai “pingsan.” Bila dalam bahasa Islam Ruhul Ikhlas dan Ruhul Jihadnya tidak ada. Altruisme itu adalah motivasi mental untuk bekerja bagi kepentingan umum. Yang justru terjadi saat ini adalah nalar egoisme yang penuh dengan praktik rente.

Sebagai Ketua Umum PP PM yang belakangan ini sangat konsen dalam kampanye antikorupsi, menurut Bang Anin, apa kontribusi yang masih bisa dilakukan oleh para pemuda dan generasi zaman now untuk ambil peran dalam pemberantasan korupsi?

Saya mulai dari diri sendiri. Agenda lawan korupsi harus dimulai dari diri sendiri dengan membangun komitmen menghadirkan budaya antikorupsi. Antikorupsi sebagai life style. Rasul itu benci sekali dengan koruptor, sampai beliau menolak menshalati salah satu sahabat yang gugur dalam perang karena yang bersangkutan melakukan penggelapan. Bahkan, tegas hadits menyatakan “tidak diterima amal ibadah seseorang yang memakan uang suap.” Artinya, gak ada gunanya ibadah mahdhah kita semuanya bila kita masih berkompromi, bahkan welcome dengan laku korupsi.

Nah, saya ingin mendorong Pemuda Muhammadiyah menjadi motor gerakan kebudayaan antikorupsi. Ya, salah satunya melalui Madrasah Antikorupsi (MAK) itu. Kemudian komitmen advokasi terhadap rakyat miskin, tradisi berbagi melalui Warung Dhuafa, dan lainnya. Sederhananya, selama periode kepemimpinan saya, saya ingin merawat watak integritas yang melangit dan produktivitas yang tinggi.

Pascapemanggilan Abang selaku saksi di Polda Metro Jaya yang dinilai banyak pihak karena sikap kritis anda terhadap Korps Bhayangkara tersebut, sikap seperti apa yang akan Abang ambil?

Saya akan semakin kritis terhadap Polisi. Bagi saya, pantang surut menyuarakan nurani, pantang mundur menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar. Karena saat ini, itu ladang jihad kita, yakni memperjuangkan keadilan bagi kemanusiaan dan menggembirakan kemanusiaan tersebut. Jadi, jangan harap saya bisa mundur dan takut dengan berbagai ancaman itu.

Bagaimana dengan komitmen jihad amar ma’ruf nahi munkar yang selama ini Abang yakini dan lakukan?

Saya manusia biasa, yang kadang imannya naik turun. Namun, satu yang ingin saya rawat terus menerus melalui Muhammadiyah, yakni ruhul ikhlas dan ruhul jihad karena kedua nilai itu adalah cara untuk memburu ridha Allah. (ICOOL)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here