Melawan Vaksin: Politik Kekuasaan dan Uang

0
279
Kiai Nurbani Yusuf (foto pribadi)

Oleh: Nurbani Yusuf

KLIKMU.CO

Noah Covin bersaudara dan Trump mungkin saja merepresentasi perselingkuhan kekuasaan, politik, dan uang. Semacam mewakili kerakusan, kelicikan, atau kecerdikan politisi. Ini cerita setahun yang lalu ketika pandemi mulai beranjak menjangkit.

Bagaimana jika bisnis, kekuasaan, dan politik dijalankan tanpa adab? Ada yang menyebut bahwa terpilihnya Trump, orang paling destruktif sebagai presiden Amerika, adalah kecelakaan dan petaka bagi kemanusiaan. Benarkah? Harian paling bergengsi di dunia, The New York Times, punya artikel sebagaimana ditulis oleh Prof AE Priyono dan Made Supriyatno tentang cerita ini.

Cerita pertama:
Noah Covin, mantan tentara Amerika Serikat, adalah seorang pengusaha atau tepatnya spekulan. Sebagai pengusaha, dia selalu memanfaatkan setiap kesempatan mencari untung. Itulah yang dia lakukan sejak mendengar wabah virus korona merebak di Cina dan akan menular ke mana-mana.

Bersama saudara kandungnya, dia menyewa truk U-Haul. Mereka menyisir toko besar kecil seperti Dollar Tree, WalMart, Home Depot, di wilayah-wilayah terpencil antara Tennesse dan Kentucky. Mereka memborong tisu basah dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer).

Naluri bisnis mereka mengendus bahwa barang-barang ini akan sangat dibutuhkan jika wabah korona meledak. Mereka benar. Beberapa saat kemudian, segala macam barang pembersih dan pensuci hama menjadi sangat mahal. Covin bersaudara mulai menjual barang-barang mereka secara online. Dengan harga yang dinaikkan secara gila-gilaan, tentu saja.

Namun, mereka hanya sempat menjual 300 botol. Amazon, tempat mereka berjualan, membekukan akun mereka karena dianggap menangguk keuntungan dari bencana. Langkah ini diikuti oleh eBay, tempat berjualan sejenis. Akhirnya, Covin bersaudara masih punya stok 17.700 botol pembersih tangan. Mereka tidak tahu harus menjualnya ke mana. Harian The New York Times menulis cerita mereka.

***

Cerita kedua:
Sebuah perusahan Jerman yang bernama CureVac, kabarnya, hendak dibeli oleh pemerintah Amerika Serikat seharga 1 miliar dolar. Mengapa pemerintah Trump tertarik pada perusahan ini? Karena ia kabarnya mampu memproduksi vaksin untuk mengatasi virus korona.

AS ingin agar perusahan ini memproduksi vaksin eksklusif untuk Amerika. Tidak banyak orang tahu bahwa penguasaan vaksin atau pengetahuan untuk membuatnya adalah perangkat keamanan nasional. AS berkepentingan mengamankan dirinya dan warganya pertama-tama. Bahwa dunia dihuni tidak hanya oleh orang Amerika, itu tidak dalam skala prioritas mereka.

Tidak bisa tidak, orang juga mencurigai bahwa Trump ingin menguasai vaksin ini untuk kepentingan politiknya. Jika saja vaksin tersedia sebelum pemilihan presiden November nanti, Trump bisa menepuk dada akan keberhasilannya dan akan mempermudah dirinya terpilih kembali. Tapi nasib malang Trump pun keok dalam pilihan presiden Amerika untuk yang kedua. Taktik dan strateginya tak cukup ampuh. Ia luluh lantak karena rakyat yang marah.

***

Seperti buah simalakama. Minum vaksin ibu mati. Tidak diminum bapak yang mati. Pilihan serbasulit di tengah sengkarut perang proksi yang membingungkan. Vaksin adalah sejenis pil politik. Ia tak cukup menyembuhkan, tapi bisa menenangkan secara politik. Sebab bisa wabah bukan semata soal kesehatan jadi butuh vaksin politik yang menenangkan.

Ini cerita banyak menimbulkan kegeraman. Kisah tentang yang kuat melahap yang lemah bukan fiksi. Politik kekuasaan dan bisnis ternyata satu kesatuan yang tidak terpisah. Kita atau saya entah ada di mana. Mungkin hanya bagian yang tidak dihitung dan dibiarkan mati tanpa cakap.

@nurbaniyusuf
Komunitas Padhang Makhsyar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here