Melihat Indonesia, Melihat Negeri di Atas Awan

0
457
Nasional Tempo

Oleh: Rifka Annisa Firdausi (*)

KLIKMU.CO

Tahun 2019, Indonesia dikejutkan lagi dengan banyaknya bencana yang merisaukan sebagian masyarakat. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tahun ini bencana kian meningkat daripada tahun-tahun sebelumnya. Bencana yang terjadi sepanjang Januari-September 2019 sebanyak 2.829 dan lebih dari 98 persen didominasi oleh bencana hidrometeorologi.

Namun, selain bencana hidrometeorologi, kebakaran hutan dan lahan alias karhutla juga terjadi lagi selama beberapa bulan terakhir ini. Kebakaran hutan dan lahan terjadi di sebagian besar wilayah di belahan bumi Indonesia, yakni Sumatera dan Kalimantan.
Kabut asap dari karhutla di Sumatera sendiri menyerang beberapa provinsi, diantaranya Jambi, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Riau. Lalu bagaimana respons pemerintah dalam menyikapi hal tersebut? Apakah ada penanggulangan terbaik yang telah dilakukan? Apakah keselamatan dan kesehatan masyarakat Indonesia tidak lebih penting dari keperluan pribadi mereka di dalam politik pemerintahan? Sehingga mereka sedikit abai akan kondisi masyarakat yang benar sangat membutuhkan.

Dapat kita lihat dan duga bahwa penanganan yang dilakukan tidaklah begitu serius.
Bencana kebakaran hutan dan lahan alias karhutla ini tak ada hentinya dari waktu ke waktu. Di tahun ini tercatat pada awal September telah ditemukan hot spot karhutla di beberapa titik di Kalimantan dan Sumatera. Kemudian disusul pada awal Oktober dikabarkan terjadi kebakaran di lereng Gunung Arjuno yang letaknya di perbatasan Kota Batu, Kab. Malang, dan Kab. Pasuruan.

Tak heran banyak masyarakat yang bertanya-tanya apa faktor yang menyebabkan kebakaran hutan dan lahan ini terjadi kembali? Karena empat tahun silam, yakni pada 2015, bencana kabut asap ini juga terjadi pada Oktober di Jambi, Sumatera. Apakah Hal tersebut terjadi akibat panjangnya musim kemarau, atau cerobohan manusia itu sendiri? Atau, malah karena memang disengaja?

Dampak yang ditimbulkan dari adanya kabut asap ini sangat berbahaya. Hal tersebut dapat mengakibatkan masyarakat terkena penyakit saluran pernapasan. Salah satunya yaitu infeksi saluran pernalasan atas atau yang biasa disebut dengan ISPA. Tercatat sebanyak 16.000 warga Kota Jambi terserang ISPA tahun ini. Mengapa demikian? Sebab, kualitas udara yang dihasilkan sangat buruk. Pada malam hari pun tingkat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Jambi masuk dalam kategori berbahaya bagi kesehatan. Berdasarkan informasi Pemprov Jambi, tingkat ISPU Kota Jambi pada malam hari dapat mencapai angka yang tidak sedikit, yakni 1.000. Menurut data dari Air Quality Monitoring System (AQMS) milik Dinas Lingkungan Hidup Kota Jambi pada pukul 21.00 WIB, tingkat ISPU mencapai angka 1.175.

Legislator dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Pungkas mengimbau kepada seluruh generasi muda Kota Jambi maupun Provinsi Jambi secara keseluruhan untuk selalu mengenakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Khususnya pada anak-anak yang bersekolah SD, SMP, SMA, ataupun perguruan tinggi. Dan tidak lupa imbauan untuk meminum air putih yang banyak.

Saking parahnya bencana kebakaran hutan dan lahan di Jambi, salah satu Kabupaten yang ada di Jambi, yaitu Muaro Jambi, dikejutkan dengan adanya fenomena langit merah melalui edaran video di media sosial. Di dalam video tersebut diperlihatkan langit Muaro Jambi yang berubah menjadi kemerahan dengan kepulan asap yang sangat tebal. Bahkan pada siang hari terlihat seperti petang. BMKG menyebut hal itu terjadi akibat mie scattering, yaitu hamburan sinar matahari oleh partikel mengapung di udara yang berukuran kecil (aerosol).

 

Kunjungan dadakan Presiden Joko Widodo di Pekanbaru adalah untuk meninjau operasi pemadaman di Desa Merbau, Riau. Dalam kunjungannya, Jokowi menegaskan bahwa pemerintah Indonesia akan bersikap tegas atas individu maupun perusahaan yang dianggap bertanggung jawab atas kebakaran hutan baik di Jambi, Riau, dan Kalimantan. Namun, bagaimana hasilnya? Apakah pernyataan Jokowi tersebut membuahkan hasil baik?

Pada debat kedua pilpres 17 Februari 2019, Jokowi menyatakan begini: “Kebakaran lahan gambut tidak terjadi lagi dan ini sudah bisa kita atasi. Dalam tiga tahun ini tidak terjadi kebakaran lahan, hutan, kebakaran lahan gambut dan itu adalah kerja keras kita semuanya.”

Namun pada faktanya, menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terjadi kebakaran hutan pada 2016 seluas 14.604,84 Ha, 2017 seluas 11.127,49 Ha, dan 2018 seluas 4.666,39 Ha. Penurunan jumlah hot spot pada 2015 hingga 2017 sebanyak 93,6 persen, yang mana tahun 2015 sebanyak 70.961 hot spot menjadi 2.440 hot spot pada tahun 2017. Jadi, menurut seorang peneliti dari Lembaga Lingkungan Hidup Auriga, Iqbal Damanik, tidak benar jika tidak ada kebakaran hutan dan lahan dalam tiga tahun terakhir.

Meski presiden mengklaim tahun 2019 ini kebakaran hutan dan lahan terjadi karena faktor alam, Kepala BNPB Doni Monardo melihat berbeda. Bahwa karhutla tahun ini hanya 1 persen disebabkan oleh faktor alam dan 99 persennya ditimbulkan oleh faktor manusia itu sendiri. Dan juga dari beberapa forum ilmiah, para ahli kehutanan dan lingkungan mengatakan bahwa kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai lebih dari 95% disebabkan oleh aktivitas manusia. Padahal pemerintah telah meregulasikan larangan untuk membuka lahan dengan cara membakar.

Pengawasannya perlu dipertanyakan kembali, karena karhutla masih saja tetap terjadi.
Pada faktanya, banyak sekali aktivitas manusia yang membakar lahan dengan sengaja untuk kepentingan pribadi seperti agar lahannya cepat bersih dan dapat dibangun infrastruktur yang diinginkan. Hal lainnya yang dapat membuat lahan terbakar adalah sebab kelalaian manusia sendiri, yaitu aktivitas merokok, membuat api perkemahan, dan membakar lahan untuk membersihkan gulma. Seharusnya oknum-oknum seperti itu harus memiliki kesadaran betapa bahayanya jika kebakaran hutan dan lahan itu terjadi. Mereka juga harus memikirkan dampak yang akan terjadi bagaimana.

Selama beberapa bulan yang lalu, sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan menjadi negeri di atas awan sebab tertutupi oleh kepulan kabut asap yang tebal dan pekat. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, terkhusus di tahun 2015, yakni 4 tahun silam, sama parahnya seperti tahun ini. Hingga banyak masyarakat muslim yang menunaikan ibadah shalat Istisqa untuk meminta diturunkan hujan. Harapannya, pemerintah kabinet yang baru saat ini bisa lebih tegas dan peka lagi terhadap keadaan masyarakat maupun Indonesia itu sendiri.

(*) Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here