Memahami Hakikat Ikhlas

0
82
Ilustrasi (wallpaper)

Oleh: Ainul Yakin *)

KLIKMU.CO

Beberapa waktu lalu dalam sebuah forum diskusi di suatu acara, terjadi perbedaan pendapat mengenai makna ‘ikhlas’. Sebagian berpendapat bahwa ikhlas itu tidak bisa didefinisikan, tapi hanya dirasakan. Sedangkan yang lain mengatakan ikhlas itu niat semata-mata hanya karena Allah SWT.

Di forum yang lain (ruang grup WhatsApp), terdapat pula berbagai versi dalam mendefinisikan dan memahami apa itu makna ikhlas. Sebagian mereka menjelaskan bahwa ikhlas itu: kalau diri sudah merasa cukup; tidak perlu diomongkan tapi dijalani; mengharap pada Tuhan; perbuatan hati manusia yang berbeda satu sama lain (tergantung kualitas imannya); dan lain-lain.

Semua pemikiran dan pendapat tersebut tidak ada yang salah, hanya saja—kalau merujuk pada pendapat Prof Yunahar Ilyas dalam bukunya, Kuliah Akhlaq—kurang lengkap. Menurut Ustadz Yun—sapaan akrab Yunahar Ilyas—kriteria ikhlas itu terdiri dari tiga unsur, yaitu:

1. Ikhlâsh an-niyah (niat yang ikhlas)

Semua daya dan upaya yang dilakukan harus diniatkan semata-mata mencari ridha Allah SWT, dengan hati yang tulus, bukan berdasarkan motivasi lain. Karena dalam Islam faktor niat sangat penting, yang menentukan diterima atau tidaknya amal manusia di sisi Allah SWT.

Contoh: Seseorang mencari ilmu atau belajar semata-mata mengharap ridha Allah SWT, bukan yang lain.

2. Itqân al-‘amal (beramal dengan sebaik-baiknya)

Niat yang ikhlas saja tidaklah cukup. Harus dibarengi dengan kesungguhan dan kualitas dalam beramal serta etos kerja dan profesionalitas yang tinggi. Ada atau tidaknya imbalan, tetap bekerja dengan maksimal dan sebaik-baiknya.

Contoh: dalam mencari ilmu, seseorang belajar dengan giat, rajin dan disiplin, baik dibiayai (dapat beasiswa) maupun secara mandiri dalam pembayaran biaya pendidikannya.

3. Jaudah al-adâ’ (pemanfaatan hasil usaha dengan tepat)

Setelah niat ikhlas dan beramal dengan sebaik-baiknya, selanjutnya adalah bagaimana hasil dari usaha yang telah dilakukan itu dipakai untuk kebaikan dan dalam ridha Allah SWT., tidak diaplikasikan untuk kejahatan atau kemaksiatan.

Contoh: Pencari ilmu yang sudah benar niatnya (ikhlas) dan tekun dalam belajar, selanjutnya hasil ilmu yang diperoleh digunakan dengan tepat, tidak untuk menipu, korupsi dan sebagainya.

Demikianlah hakikat ikhlas yang sebenarnya menurut Buya Yunahar Ilyas—Allâh yarham.

Menurut kami, tiga kriteria ikhlas itu integral, artinya tidak bisa dipisahkan satu sama lain dalam memahami atau pun menerapkan ikhlas. Semoga kita semua bisa menjalankan hakikat ikhlas. Wallâhu a’lam. (*)

*) Anggota KM3 (Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah) PC IMM Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here