Memaknai Puasa sebagai Wujud Kesalehan Sosial

0
263
Ilustrasi diambil dari mpathia.com

KLIKMU.CO

Oleh Muhammad Roissudin, M.Pd.*)

Suasana Ramadan 1439 H kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, selain suasana hangat karena menyambut tahun politik, momentum Pemilu Kepala Daerah (Pemilukada) serempak diberbagai Daerah semakin dekat, maraknya aksi teror di Surabaya, Sidoarjo, Pekanbaru-Riau juga sempat mengganggu kekhusyukan Umat Islam. Beruntung aparat berhasil meringkus pelaku aksi “pesta mercon maut” terssbut, sehingga keadaan terselesaikan dengan kondusif.

Meski demikian ghiroh umat Islam di seluruh penjuru bumi dalam mengisi bulan Ramadhan memang jauh berbeda dengan ritual ibadah lain, karena Ramadhan dimaknai bulan penuh berkah dan ampunan serta bulan ‘big sale’, dimana Pahala Amalan Ibadah dibulan ramadhan dilipatkan gandakan.

Bagi Muslim, Ramadan adalah salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa kepada sang pencipta yaitu Allah Swt, hal ini sesuia dengan firmanNya dalam Alquran Surat Al Baqarah: 183 yang Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertaqwa.”

Ada tiga terminologi yang sering dibahas setiap datangnya bulan suci ramadan yaitu, Alquran, Puasa dan Taqwa. Kita ketahui bahwa Alquran turun pada bulan suci ramadan, Alquran sebagai pedoman hidup manusia yang dimensinya dunia dan akhirat, sehingga pada bulan suci ini banyak dimanfaatkan untuk mengkaji Alquran, sehingga bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Bulan puasa merupakan bulan yang dimanfaatkan secara individu untuk meningkatkan spiritualitas.

Momentum membangun kesalehan individual sangat tepat di bulan suci ini, dengan melaksanakan ibadah puasa merupakan bagian dari perintah Allah yang harus dijalankan dengan dasar keimanan.

Memaknai puasa tidak hanya secara syar’i menahan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa saja, akan tetapi kita bisa memaknai lebih jauh lagi yaitu merasakan secara fisik bagaimana orang yang kurang mampu secara ekonomi manahan rasa lapar ketika belum makan, sehingga memunculkan rasa empeti yang berimbas pada peningkatan rasa syukur dan membangun ‘kesalehan sosial’ berupa kepedulian terhadap sesama umat manusia.

Adapun karakter orang bertaqwa telah digambarkan dalam QS Al Baqarah: 2-4. Karakter orang bertaqwa diantara  adalah  menafkahkan sebagian rizqinya.

Dalam bulan ramadan ini dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dalam bentuk sosial, dengan melatih kesalehan sosial diharapkan fakir miskin dapat merasakan kepedulian yang disalurkan oleh kaum berada. Membangun kesalehan sosial perlu dilatih sejak dini artinya melatih rasa peduli bagi sesama harus diajarkan dari anak-anak, sehingga kelak dewasa akan terbiasa membantu antar sesama.

Kesadaran ini perlu ditumbuhkan dan dibangun oleh individu maupun kelompok, dalam hal ini adalah instansi dengan tujuan mengorganisir untuk membantu sesama.

Membangun kesolehan individual dan kesalehan sosial harus secara bersama-sama. Artinya, tidak bisa dipisahkan. Jika tidak seiring maka akan timpang, karena implentasi kesalehan spiritual adalah dalam bentuk sosial, sedangkan kesalehan sosial bagian dari ajaran agama secara spiritual sesuai dengan Alquran surat Al Baqarah: 3  “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka”

Dalam konteks ayat tersebut sudah jalas antara kesalehan spiritual/individual dan kesalehan sosial tidak dipisahkan, Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat (kesalehan spiritual/individu) kemudian memerintahkan untuk menafkahkan sebagian hartanya (kesalehan sosial). Kedua karakter tersebut merupakan bagian dari ciri-ciri orang bertaqwa.

Semoga bulan suci ini, kita dapat membangun kesalehan spiritual/individual sekaligus kesalehan sosial demi meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt, dan muaranya adalah konsisten di bulan-bulan selain Ramadan tetap semangat melakukan akativitas ini demi umat dan bangsa.

*) Penulis adalah Anggota Lembaga Sensor Film Jawa Timur

Muhammad Roissudin, M.Pd.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here