Memaknai Spirit Pahlawan Bagi Kaum Muda Indonesia

0
147
Sholikhul Huda, M.Fil.I Sekretaris DPD KNPI Jawa Timur dan Ketua Kedai Jambu Institute (KJI)

Oleh: Sholikhul Huda, M.Fil.I (Sekjen DPD KNPI Jawa Timur & Ketua Kebun Jambu Institute Jombang Jawa Timur)

KLIKMU.CO – Bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Pahlawan pada 10 November. Adalah sebuah momentum perjalanan sejarah bangsa dan negara dalam rangka mempertahankan harga diri atau muru’ah kebangsaan Indonesia dari upaya Belanda dan sekutunya untuk kembali merebut kemerdekaan yang sudah digenggam sebelumnya 17 Agustus 1945.

Hari pahlawan mengingatkan kembali kesadaran sejarah akan peristiwa heroik yang di lakukan oleh kaum muda Surabaya bersama rakyat Surabaya yang disemangati oleh Bung Tomo dengan teriakan “Allahu Akbar” melakukan perlawanan bersenjata kepada pasukan sekutu yang diboncengi oleh Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 10 November 1945, tiga bulan pasca proklamasi kemerdekaan.

Semangat heroik dikarenakan seluruh eleman masyarakat Surabaya mulai kaum muda, rakyat sipil, kaum santri-kyai, tentara terlibat dan bersatu bergandeng tangan menentang tentara Sekutu ( Inggris dan Belanda) yang ingin menduduki kembali negeri ini. Meski dengan peralatan seadanya (Bambu Runcing), namun gelora yang membara di dada rakyat Surabaya itulah yang mampu mengalahkan pihak sekutu dengan peralatan militer canggihnya.

Menurut hemat penulis berkat kerjasama, persatuan, keterlibatan semua elemen masyarakat Surabaya dan doa kepada Yang Maha Kuasa dan atas pertolangan Allah Swt akhirnya rakyat Surabaya bisa mengalahkan sekutu, bahkan Jendral tertinggi, Malaby meregang nyawa ditangan arek-arek Surabaya

Kita tidak bisa menampik, bahwa peristiwa 10 November itu adanya campur tangan Tuhan yang menyertai perang 10 November 1945. Maka tidak patut jika bangsa Indonesia melupakan sejarah. Pengorbanan para founding fathers terdahulu hendaknya terus diteladani dan diinternalisasikan perjuangan dalam setiap langkah anak muda. Tak berhenti sekedar seremonial memperingati 10 November untuk mengormati, menghargai dan mengenang jasa-jasa para pahlawan yang gugur tanpa mengambil spirit pengorbanan untuk bangsa.

Dalam konteks era milenial, seberapa jauh makna kepahlawanan bagi kaum muda Indonesia?

Menurut saya ada tiga makna yang dapat direfleksikan kaum muda indonesia dalam memperingati hari pahlawan. Pertama, nasionalisme, dalam arti perlawanan arek Surabaya merupakan bukti kecintaan terhadap tanah air,sehingga mereka rela berkorban jiwa dan raga demi mempertahankan kemerdekaan bangsanya tanpa pamrih. Sikap nasionalisme inilah menjadi benteng dalam pertahanan bangsa dari rongrongan dan infiltrasi ideologi dari luar.

Diakui atau tidak, fenomena saat ini benteng nasionalisme bangsa indonesia sedang diuji dengan maraknya infiltrasi ideologi-ideologi faham keagamaan atau politik lain (khilafah, liberalisme, radikalisme, dan komunisme) yang berusha menggeser ideologi Pancasila dan NKRI.

Maka dari refleksi hari Pahlawan ini menjadi momentum penting terutama kaum muda untuk kembali mengobarkan semangat dan nilai nasionalisme bangsa Indonesia yang sudah ditanamkqn oleh para pendahulu dengan tetap menjadikan Pancasila sebagai ideologi bangsa dan NKRI.

Kedua, bermakna merdeka. Artinya aksi heroisme oleh rakyat Surabaya demi mempertahankan kemerdekaan bangsanya sulit tumbuh jika tidak memiliki jiwa yang ingin merdeka. Sebab, jiwa merdeka memunculkan pemikiran dan aksi untuk menggapai kemerdekaan.Reflksi ini penting dimiliki oleh seluruh rakyat Indonesia terutama kaum muda, dengan begitu anak muda tidak mudah dikooptasi dan mudah menyerah apalagi inlander dihadapan bangsa lain.

Sejatinya, bangsa Indonesia adalah bangsa besar dan berdaulat dan berdikari. Dari jiwa merdeka inilah diharapkan tumbuh kecintaan terhadap bangsa sehingga tidak muda menjual harga diri bangsa hanya demi material sesaat.

Ketiga, bermakna persatuan bangsa. Artinya kemenangan yang didapatkan arek Surabaya dalam melawan penjajah Belanda mustahil kalau dilakukam secara individual, tidak bersatu. Akan tetapi, mencapai kemenangan dikarenakan adanya persatuan dari semua elemen masyarakat.

Jelang pesta demokrasi, sedikit banyak situasi kebangsaan kita saat ini sedang di uji tali persatuan bangsa. Masyarakat terpolarisasi hanya dikarenakan perbedaan sikap politik. Terlebih, masyarakat mudah terjebak dan terprovokasi dari media sosial yang menyebarkan berita hoax. Pendek kata, jika ada istilah bangsa “bersumbu pendek” yang muda meledak tidak bisa terelakkan.

Dalam sosiologis kemasyarakatan, saat ini eleman masyarakat mudah diadu domba antar kelompok karena isu-isu rasial yang tidak dapat dipertangungjawabkan.

Pada akhirnya, refleksi hari pahlawan ini kita berharap kepada semua rakyat indonesia terutama kaum muda harus menjadi garda terdepan untuk menjalin persatuan bangsa indonesia agar tidak muda dicerai berai bangsa lain.
Bersatu kita kuat bercerai kita runtuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here