Membaca Dekadensi Umat lewat Pemikiran Jamaluddin al-Afghani

0
212

Oleh: Muhammad Habib Muzaki *)

KLIKMU.CO

“Islam adalah agama yang sempurna. Dengan mengikuti ajaran Islam, kita akan meraih kebahagiaan di dunia maupun akhirat.” Setidaknya begitulah narasi yang sering kita dengar dari ustadz-ustadz di mimbar-mimbar masjid. Terkadang ada yang menambahkan dengan menyebut-nyebut kejayaan Islam yang dulu pernah menjadi kiblat peradaban. Namun sayangnya, semua itu terangkum dalam kata “dulu”.

Sudah bukan rahasia, ketika gerakan renaisans mewarnai masyarakat Eropa, atau sering disebut dunia Barat, kemajuan di segala bidang mereka capai. Hal itu seiring dengan dekadensi yang dialami umat Islam. Terlebih saat itu kekuatan Turki Utsmani mulai melemah. Hal ini dimanfaatkan oleh Barat untuk mengubah penjelajahan menjadi penjajahan. Dunia Timur yang mayoritasnya adalah umat Islam menjadi sasaran pemerasan sumber daya alam dan dehumanisasi secara besar-besaran. Sebelum revolusi dilakukan negeri-negeri Timur, umat Islam belum sepenuhnya menyadari bahaya laten kolonialisme dan imperialisme. Terkadang, mereka malah asyik dengan konflik internal seperti perbedaan mazhab.

*****

Di fase kemunduran Islam itu, ada menariknya mengetahui pemikiran Jamaluddin al-Afghani. Sebab, beliaulah yang pertama kali menyadari sepenuhnya dominasi Barat dan bahayanya. Tokoh yang disebut gerbang pemikiran Islam modern ini lahir di Asadabad, Kabul, Afghanistan, pada tahun 1839 dan wafat pada 1897 di Istanbul. Afghani memakai gelar Sayyid di namanya karena keluarganya masih keturunan Husein bin Ali. Masa kecilnya dan remajanya dihabiskan di Afghanistan. Ia mempelajari cabang ilmu keislaman, filsafat, dan eksakta di Universitas Kabul. Itu semua berlangsung sampai ia berusia 18 tahun. Ia kemudian pergi ke India selama setahun dan mendapatkan pendidikan yang lebih modern. Di sanalah ia juga pertama kali mendapatkan kesempatan untuk mendalami matematika dan sains. Pada tahun 1857 ia pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Ia telah memasuki dinas pemerintahan ketika berusia 20 tahun. Ketika tahun 1864, ia menjadi penasihatnya Syir Ali, penguasa Afghanistan saat itu. Selang beberapa tahun, ia diangkat menjadi perdana menteri. Karena gerak-geriknya senantiasa diawasi oleh kolonial Inggris, pada tahun 1869 ia meninggalkan Afghanistan. Ia kemudian menuju India, lalu menuju Mesir. Dari sinilah Afghani mulai terlibat dalam gerakan internasional anti-kolonialisme dan imperialisme. Di Mesir, tepatnya di Kairo, ia diundang Riyad Pasha, seorang politisi Mesir, untuk mengajar secara informal kepada para pemuda. Salah satunya ialah Muhammad Abduh yang nantinya sangat berpengaruh di Mesir. Ia juga pernah sempat mengunjungi Prancis dan Amerika. Hidupnya senantiasa berpindah-pindah tempat.

*****

Afghani mengkritik sikap mayoritas ulama yang cenderung kepada tidak mengizinkan adanya ijtihad. Kala itu, memang tidak ada ungkapan resmi bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Namun, dunia Islam menunjukkan tanda-tanda bahwa semangat ijtihad telah tertutup. Sebenarnya, tidak ada satupun nash Alquran maupun Hadits Nabi yang menutup pintu ijtihad. Maka, ia menyatakan bahwa jika seseorang memiliki kemampuan berbahasa Arab, memiliki pengetahuan tentang kehidupan generasi salaf, mengetahui nash, ijma’, qiyas, dan hadits, orang tersebut sudah dapat mengamati hukum-hukum Alquran dan berijtihad didalamnya. Syarat-syarat ini tidak seketat apa yang dikemukakan ulama di zaman dahulu.

Mengapa permasalahan ijtihad ini penting? Sebab, zaman senantiasa berubah. Maka, Islam juga harus dapat menerapkan prinsip nilai Alquran dengan cara yang baru untuk menjawab tantangan zaman. Umat Islam tidak dapat berpangku begitu saja kepada tafsiran yang lama. Baginya, umat Islam membutuhkan reformis seperti Martin Luther King dengan semangatnya mampu mewarnai kemajuan peradaban di Eropa.

Afghani juga memandang bahwa dalam menafsirkan Alquran, akal harus dimanfaatkan sepenuhnya. Corak pemikiran Afghani yang rasional ini juga berkat filsafat yang dipelajarinya. Semua itu ia padukan dengan ilmu keislaman sehingga ia memiliki ketajaman berpikir. Hal ini sangat memengaruhi banyak gagasannya. Semua itu ia tuangkan bersama muridnya, Muhammad Abduh, dengan menerbitkan sebuah majalah berbahasa Arab ketika keduanya berada di Prancis. Majalah itu bernama al-‘Urwatul Wutsqa yang memiliki arti “Tali yang Kukuh”. Kelak majalah ini berpengaruh di dunia Islam selanjutnya, tak terkecuali di Nusantara. Majalah tersebut memiliki tujuan untuk modernisasi dan reformasi atas umat Islam (Sudrajat, 2006: 42). Karena ide-idenya dianggap sangat mengancam bagi pihak kolonial, akhirnya setelah delapan bulan terbit, majalah ini dilarang diedarkan oleh pemerintah Barat.

Jelas pelarangan beredarnya majalah itu pertanda bahwa ada ketakutan atas kepentngan politik Barat di dunia Timur. Afghani memang lebih disebut sebagai pemikir politik ketimbang pembaharu pemikiran seputar permasalahan agama. Hal ini juga dinyatakan oleh beberapa orientalis seperti Ignaz Goldziher (Rusli, 2018: 5). Banyak perhatian yang ditujukan ke politik ketimbang bidang yang lain. Namun, hal yang tidak boleh dilupakan adalah pemikiran Afghani terkait politik ini disebabkan perhatian dan ide-idenya pembaruannya terkait kondisi umat Islam kala itu. Maka sebenarnya pantaslah sekiranya Afghani dianggap sebagai peletak dasar pembaruan Islam di zaman Modern yang sangat berpengaruh di dunia.

Afghani juga mengatakan bahwa Islam adalah agama dinamis yang mampu bertahan dengan perubahan zaman. Letak kemunduran Islam bukan pada agama Islam, melainkan pada umat Islam itu sendiri. Salah satu alasan mengapa umat Islam lemah adalah karena tidak berpegang pada ajaran murni. Islam sudah tercemar oleh banyak tahayul, bid’ah, dan khurafat. Ajaran Islam yang sebenarnya simpel dibuat rumit karena kemasukan semua ini. Hal ini semakin menjauhkan umat Islam dari kejernihan berpikir dan jauh dari Allah Swt. Ini semakin diperparah dengan adanya sikap taklid buta antar golongan Islam satu sama lain.

Selain itu, umat Islam kala itu juga mengalami kemunduran karena kurang mengimani qada’ dan qadar. Kondisi kemunduran ini dikaitkan membuat mereka terjebak dengan pemikiran fatalisme ala kaum Jabariyah. Fatalisme ini beranggapan bahwa seseorang terikat kepada nasib dan tidak dapat merubah kondisi apapun. Ini yang membuat umat Islam menjadi statis. Jadi, ketika dunia Timur dijajah oleh dunia Barat, mereka pasrah seraya mengatakan, “Sabar, ini sudah takdirnya.” Pola pikir seperti ini lah yang digelisahkan oleh Afghani.

*****

Keresahan Afghani agaknya memiliki kemiripan dengan apa yang dirumuskan oleh Friedrich Nietzsche, meskipun filsuf Jerman ini tidak mengkritisi umat Islam. Dengan lebih radikal, filsuf yang lahir lima tahun setelah Afghani itu merumuskan konsep mentalitas tuan dan mentalitas budak (Hardiman, 2004: 269). Mentalitas tuan adalah sikap superior. Ketika seseorang memiliki kuasa untuk menentukan nasibnya, ia akan mandiri menjalani kehidupan seuai keinginannya. Namun umat Islam kala itu bisa dikatakan menyandang metalitas budak. Suatu sikap inferior yang bercirikan penurut dan pasrah. Hal ini lalu melahirkan transvaluasi nilai. Ketika seseorang dalam kondisi tertindas, namun malah menganggap “baik” ketertindasannya itu

Akhirnya, paradigma “Sabar, ini ujian. Mereka boleh menguasai kita di dunia. Tapi kita akan menang di akhirat” diletakkan tidak pada tempatnya. Sehingga sifat pasrah yang asilnya adalah nilai moral yang buruk, lalu ditransvaluasi seakan itu baik dan tepat untuk dijadikan landasan untuk menyikapi keadaan. Cara berpikir semacam ini sebenarnya bentuk kelemahan ketika berhadapan dengan realita. Terlebih ucapan “kita akan menang di akhirat” adalah pelarian dan kepengecutan menghadapi superioritas Barat saat itu. Ini mirip dengan orang yang kalah, tapi malah mengatakan mengalah. Hal ini dilakukan agar terlihat menang namun hanya sebatas di angan-angan belaka.

Meskipun Nietzsche dan Afghani bersebrangan secara ontologis. Tapi agaknya dalam memandang kemunduran manusia, mereka sepakat bahwa keadaan tertindas tidak boleh dipandang sebagai hal yang boleh diterima begitu saja. Paradigma inilah yang dibutuhkan agar memperoleh kemajuan. Kadang secara tak sadar, kita hanya membanggakan kejayaan Islam di masa lalu. Namun tidak mau mencari tahu sebab Islam dapat berjaya. Bahan tidak mencari akar masalah agar tidak jatuh ke lubang yang sama. Menyatakan kemunduran adalah takdir dan tidak mau merubahnya bersebrangan dengan rukun Iman keenam: beriman kepada qada’ dan qadar. Padahal sikap mengimani yang benar adalah alasan mengapa umat Islam menjadi bangsa yang maju dan pemberani di masa lalu.

Afghani juga pernah mengkritik pemikir Barat yang mengatakan bahwa kemunduran Islam akibat konsep qada’ dan qadar ini. Ia mengatakan bahwa Barat amat salah paham dan kurang cermat ketika mengatakan konsep ini sebagai determinisme. Sudah jelas bahwa Islam menekankan usaha dapat menyebabkan suatu perubahan. Allah berfirman di dalam Alquran surah ar-Rad ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” Afghani yakin bahwa umat Islam dapat berubah jika dapat kembali ke ajaran agama yang murni dan mengimani qada’ dan qadar secara benar. Ini menginspirasi Afghani yang menginginkan dan menyerukan sebuah reformasi dengan upaya pembaruan agama.

Kembali kepada sumber yang murni ini pun menjadi semboyan gerakan pembaruan yang dilakukannya. Bagi Afghani, selain mengemabalikan pemahaman akidah Islam sebenarnya mudah jika kembali kepada Alquran dan Hadits Nabi. Jika kaum Wahabi mematok tema purifikasi Islam, Afghani tidak mau berhenti disitu. Ia meletakkan pemurnian akidah ini dalam rangka revitalisasi Islam dengan menyandingkan semangat mengejar ketertinggalan umat Islam di segala bidang. Afghani memandang bahwa kita harus mau mengambil dan mencontoh barat dalam bidang sains dan teknologi tanpa kehilangan ajaran Islam yang asli. Senada dengan Imam Ghazali yang meletakkan ilmu-ilmu dunia –atau yang saat ini kita sebut ilmu pengetauan modern- sebagai fardhu khifayah. Artinya, kedudukan ilmu dunia penting untuk menunjang kehidupan di dalam masyarakat.

*****

Agaknya ilmu dunia ini yang sering dilupakan untuk dikejar. Karena sampai hari ini pun, masih ada yang mengajak untuk mendalami ilmu-ilmu agama secara sepihak. Ilmu agama dan ilmu dunia seakan menjadi dikotomi yang tak bisa dipadukan. Hal ini secara tersirat mungkin ada di spanduk yang bertuliskan, “Jangan risau jika anakmu tidak ada di deretan juara kelas atau olimpiade. Risaulah saat anakmu tak ada di deretan shaff sholat berjamaah.” Narasi ini juga pernah dikritik oleh Filolog Indonesia, Menachem Ali melalui salah satu postingannya di akun Instagram. Filolog asal Indonesia itu meyertakan sebuah buku karangan Chase F. Robinson berjudul Islamic Civilization in Thirty Lives: The First 1,000 Years (2016). Bukankah kemajuan peradaban Islam di masa lalu juga didukung dengan majunya ilmu pengetahuan?

Memang ada upaya oleh kerajaan Turki Utsmani dan Mesir yang mengirimkan pelajar-pelajarnya ke Eropa. Namun banyak yang kehilangan pijakan akidah Islamiyah sepulangnya. Dalam hal ini Afghani mengkritik model pembaruan yang hanya berorientasi kepada peniruan model arsitektur, model pakaian, dan makanan asing maupun mengadopsi konsep-konsep ideologi barat tanpa tahu tujuan akhir mempelajari itu semua (Rusli, 2018: 20). Hal ini berlainan dengan peradaban Islam terdahulu yang maju karena berani mengadopsi ilmu-ilmu dari peradaban lain -semisal Ilmu kedokteran, ilmu hitung, maupun filsafatnya Plato dan Ariestoteles- tanpa kehilangan akidah yang murni. Ada juga umat Islam kala itu menutup diri dengan kemajuan modernitas. Padahal, menutup diri darinya malah menciptakan suatu kemunduran.

Maka, Afghani sangat memuji Jepang yang menjadi negara maju berkat keberanian menimba pengetahuan dari peradaban barat yang lebih maju. Banyak cendekiawan dikirim untuk mempelajari kemajuan sains dan teknologi. Afghani juga pernah menyeru bangsa Arab tentang agenda Industrialisasi sebagaimana yang dilakukan Jepang (Hanafi, 2015: 327). Disamping itu, mereka menaruh perhatian kepada ilmu yang berkaitan dengan pemerintahan berbasis sistem perwakilan. Hal terakhir inilah yang menurut Afghani, merupakan faktor utama yang membantu mempercepat proses kemajuan bangsa Jepang. Yaitu adanya kecenderungan Kaisar mereka yang mengedepankan musyawarah serta tidak otoriter dalam memerintah. Bagi Afghani, kepemimpinan secara diktator seperti yang diterapkan di negeri-negeri Timur lah yang telah memperlemah mereka.

Kelemahan dunia Islam juga akibat keretakan besar di internalnya. Bukan hanya pada orang awam saja, melainkan ulamanya juga. Ia mengatakan bahwa ulama Turki tidak kenal lagi kepada ulama Hijaz. Ulama India tidak mempunyai hubungan dengan ulama Afghanistan. Terlebih intervensi Barat terhadap politik di Timur Tengah semakin memecah umat Islam. Kondis ini ini diperparah oleh penguasa dan pejabat Muslim yang korup karena takut kehilangan duniawinya dan mereka pun menjadi boneka imperialismenya Barat. Kondisi ini bukan hanya terjadi di Arab saja, namun wilayah umat Islam yang lainnya seperti Asia Tenggara juga mengalami nasib yang serupa. Sistem persatuan umat Islam memudar, berganti dengan ideologi Nasionalisme.

*****

Afghani menekankan kepada kebutuhan pragmatis yaitu aliasni politik. Hal ini lah yang membuat Afghani menyadari bahwa sudah saatnya umat Islam bersatu dalam sebuah bentuk solidaritas. Ide besarnya ini dikenal dengan Pan-Islamisme. Afghani ingin ada persatuan dunia Islam, khususnya dunia Arab untuk melawan kolonialisme Barat. Ia yakin bahwa bangsa Barat tidak lebih kuat dari dunia Islam andai saja mereka bersatu. Afghani yakin bahwa nasionalisme dan Pan-Islamisme dapat saling melengkapi dalam aspek-aspek pembebasannya (Latif, 2012: 127). Selain itu, unsur musyawarah sangat Afghani tekankan daripada model pemerintahan yang otoriter. Ia pun tak keberatan dengan demokrasi.

Afghani memang telah mendalami dunia politik adalah upaya melihat lebih jauh akar kemunduran umat Islam. Ia menyadari adanya penetrasi Barat ke jantung umat Islam dalam rangka memecah tali persaudaraan umat Islam agar wilayah-wilayahnya dapat dikuasai. Maka, Islam harus bangkit secara politik agar tidak terus menerus dijajah oleh Barat. Pan-Islamisme ini sangat mendapat reaksi yang besar baik untuk umat Islam sesudahnya maupun pihak kolonialisme Barat. (*)

Referensi
Hanafi, Hassan. 2015. Studi Filsafat 1 Pembacaan Atas Tradisi Islam Kontemporer. Dialihbahasakan oleh Miftah Faqih. Yogyakarta: LKiS.
Hardiman, F. Budi. 2004. Filsafat Modern Dari Machiavelli sampai Nietzsche. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Latif, Yudi. 2012. Inteligensia Muslim dan Kuasa. Jakarta: Democracy.
Rusli, Ris’an. 2018. Pemikiran Teologi Islam Modern. Depok: Kencana,.
Sudrajat, A. Suryana. 2006. Menyongsong Angin dengan Badai. Jakarta: Erlangga.

*)Mahasiswa Jurusan Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here