Membaca Problem Keluarga lewat Abraham Maslow

0
139
Abraham Maslow (Getty Images)

 

Oleh: Ghifari Fajar Anugerah*

KLIKMU.CO

Tujuan Allah menciptakan manusia di muka bumi ini ialah menjadi khalifah atau menjadi wali Zat yang Mahakuasa. Dalam Al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun, khilafah/khalifah diartikan “pengemban seluruh urusan umat sesuai dengan kehendak pandangan syariah dalam kemaslahatan-kemaslahatan mereka”. Bisa ditarik kesimpulan bahwa khilafah atau khalifah ialah pemimpin bagi seluruh umat baik islam maupun non-islam di bumi Allah ini.

Akan tetapi, apabila kita ingin menjalankan tujuan Allah atau syariah tersebut, apakah kita harus menjadi presiden, penguasa muka bumi, jihadis agar bisa mengkudeta pemerintahan tagut. Kemudian menjadi pemimpin yang berepedoman pada syariah atau melewati hiruk pikuk politik di dunia ini agar bisa menjadi pemimpin?

Tentu saja tidak harus seperti itu dalam hadis shahih Riwayat Al-Bukhari. Rasulullah bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.”

Berangkat dari redaksi hadis di atas, ketika ingin menjadi seorang pemimpin, kita tidak harus menjadi pribadi yang mempunyai power di masyarakat, atau mempunyai kekuatan politik yang besar. Menjadi pemimpin bisa dimulai dari diri sendiri, kemudian ke sirkel yang lebih besar lagi secara bertahap.

Berbicara pemimpin tidak lengkap rasanya kalau tidak membahas pemimpin dalam keluarga. Mengingat manusia, juga mempunyai hasrat biologis untuk disalurkan agar bisa mempunyai keturunan dan membentuk suatu kelompok sosial yang dinamakan keluarga.

Tentu dalam membangun keluarga yang harmonis tidaklah mudah. Apalagi pada era globalisasi ini, banyak sekali sistem, kebudayaan, dan adat di dalam keluarga yang berubah. Banyak sekali dinamika dalam membangun keluarga pada zaman ini dan tidak sedikit individu yang gagal membangun keluarga yang baik, harmonis, atau lain sebagainya. Maraknya kasus perceraian disebabkan oleh banyak faktor, ekonomi, KDRT, perselingkuhan, dan persoalan pelik lainnya dalam membangun keluarga.

Pada tahun 2021, dalam lingkup Kota Surabaya saja terjadi 3.487 kasus perceraian baik itu cerai talak maupun cerai gugat. Hal terebut disebabkan faktor ekonomi dan perselisihan pertengkaran.
Memandang fenomena ini, ada permasalahan mendasar yang menjadikan individu gagal dalam membangun keluarga. Yaitu kebutuhan mendasar yang belum sempat terpenuhi oleh setiap individu yang ada di keluarga.

Dalam hal ini, Abraham Maslow seorang ahli psikologi asal Amerika, membuat sebuah teori, yang dinamakan teori hierarki kebutuhan (hierarchy of needs). Dalam teori ini, Maslow mengklasifikasikan beberapa kebutuhan mendasar yang harus terpenuhi oleh setiap manusia. Tingkatan yang paling dasar adalah kebutuhan fisiologis.

Pada tahap ini manusia cenderung memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup secara fisik.
Kebutuhan-kebutuhan itu seperti kebutuhan akan makanan, minuman, tempat berteduh, seks, tidur dan oksigen. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis adalah potensi paling dasar dan agung untuk semua pemenuhan kebutuhan di atasnya. Kemudian, ada kebutuhan akan rasa lepas dari bahaya.

Setelah kebutuhan-kebutuhan fisiologis terpuaskan secukupnya, muncullah apa yang dinamakan Maslow sebagai kebutuhan-kebutuhan akan rasa lepas dari bahaya. Kebutuhan-kebutuhan akan rasa lepas dari bahaya ini di tengahnya adalah rasa lepas dari bahaya fisik, stabilitas, ketergantungan, perlindungan dan kebebasan dari daya-daya mengancam seperti perang, terorisme, penyakit, takut, cemas, bahaya, kerusuhan dan bencana dunia.

Kebutuhan akan rasa lepas dari bahaya berlainan dari kebutuhan fisiologis karena kebutuhan ini tidak dapat terpenuhi secara total. Manusia tidak pernah dapat dijaga sepenuhnya dari ancaman-ancaman meteor, kebakaran, banjir atau perilaku berbahaya orang lain. Bila kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa lepas dari bahaya telah terpenuhi, karenanya muncullah kebutuhan akan cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki-dimiliki.

Kebutuhan-kebutuhan ini meliputi desakan untuk berteman, hasrat memiliki pasangan dan keturunan, kebutuhan untuk dekat pada keluarga dan kebutuhan antarpribadi seperti kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta. Untuk Maslow, cinta menyangkut suatu hubungan sehat dan penuh kasih mesra selang dua orang, termasuk sikap saling percaya.

Sering kali cinta dibuat menjadi rusak bila salah satu pihak merasa takut bila kelemahan-kelemahan serta kesalahan-kesalahannya. Maslow juga mengatakan bahwa kebutuhan akan cinta meliputi cinta yang memberi dan cinta yang menerima. Kita harus memahami cinta, harus mampu mengajarkannya, membikinnya, dan meramalkannya. Bila tidak, dunia akan hanyut ke dalam gelombang permusuhan dan kebencian.

Setelah kebutuhan dicintai dan dimiliki tercukupi, manusia akan lepas untuk mengejar kebutuhan akan penghargaan. Maslow menemukan bahwa setiap orang yang memiliki dua kategori mengenai kebutuhan penghargaan, yaitu kebutuhan yang lebih rendah dan lebih tinggi.

Kebutuhan yang rendah adalah kebutuhan untuk menghormati orang lain, kebutuhan akan status, ketenaran, kemuliaan, pengakuan, perhatian, reputasi, apresiasi, martabat, bahkan dominasi. Kebutuhan yang tinggi adalah kebutuhan akan harga diri termasuk perasaan, keyakinan, kompetensi, prestasi, penguasaan, kemandirian dan kebebasan. Sekali manusia dapat memenuhi kebutuhan untuk dihargai, mereka sudah siap untuk memasuki gerbang aktualisasi diri, kebutuhan paling tinggi yang ditemukan Maslow.

Tingkatan terakhir dari kebutuhan dasar Maslow adalah aktualisasi diri. Kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang tidak melibatkan keseimbangan, tapi melibatkan hasrat yang terus menerus untuk memenuhi potensi.

Maslow melukiskan kebutuhan ini sebagai hasrat untuk makin dibuat menjadi diri sepenuh kemampuannya sendiri, dibuat menjadi apa saja menurut kemampuannya. Dari teori yang dibuat dan di jabarkan oleh Maslow, kita sudah bisa membuat analisis dan hipotesa. Bahwa, faktor-faktor kasus perceraian yang ada di Kota Surabaya terjadi karena kurangnya pemenuhan kebutuhan dasar oleh setiap individu yang ada di keluarga. Contohnya, kasus perceraian di sebabkan faktor ekonomi.

Dalam teori yang telah di paparkan, kebutuhan ekonomi, seks, sandang, pangan, dan papan adalah hal mendasar yang di butuhkan setiap manusia. Sedangkan dalam faktor yang menyebabkan perceraian, para pihak yang bercerai tidak bisa memenuhi kebutuhan itu. Kemudian dalam kasus pertengkaran, perselisihan, atau KDRT. Dalam hal ini, individu yang melakukan kekerasan tidak memenuhi kebutuhan tingkat yang kedua yakni rasa akan rasa lepas dari bahaya.

Dari sini kita bisa belajar bahwasanya ketika kita ingin membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Selain harus mengikuti pedoman syariah, untuk berkeluarga. Kebutuhan-kebutuhan yang sangat mendasar pun penting untuk membangun keluarga yang harmonis bagi masing-masing individu dan juga menurunkan angka perceraian. (AS)

*Kader IMM UINSA Sunan Ampel Surabaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here