Membangun Tradisi Literasi

0
252
Dokumen pribadi Hasnan Bachtiar

Oleh: Hasnan Bachtiar *)

KLIKMU.CO

Seorang sahabat karib meminta saya untuk menulis sebuah tema yang mewah: tradisi literasi. Persoalannya bukan apa, tapi diri saya sendiri sebenarnya belum terlalu mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud dengan tradisi literasi. Kecuali, sekadar mengira-ngira sepanjang bayangan yang ada di dalam pikiran saya.

Tradisi dan Kebudayaan

Tradisi literasi sebagai sebuah frasa terdiri atas dua kata, yakni tradisi dan literasi. Menurut para ilmuwan sosial, tradisi itu letaknya mengakar betul dengan masyarakat. Bahkan boleh disebut adalah masyarakat itu sendiri. Agak kabur memang jika menyebut ”tradisi” dengan pengertian yang demikian. Namun seorang sosiolog sejarah terkemuka, Armando Salvatore, saya ingat betul bahwa, secara lisan, ia menyebutkan, “Tradisi adalah dimensi sosiologis yang memiliki ruang lingkup lebih kecil, detail, dan bahkan subtil, jika membandingkannya dengan kebudayaan atau kultur.”

Barangkali, bahasa yang lebih mudah, tradisi itu “seperangkat argumen dan praktik-praktik yang bisa menjadikan agen sosial tertentu, melalui aksi komunikatif, mampu memastikan terbangunnya hubungan sosial, ikatan sosial dan perubahan-perubahan sosial.”

Kalau boleh diulang, jadi ada argumen, wacana, atau gagasan. Lalu, hal itu berjalan beriringan dengan praktik atau aktivitas sosial. Nah, keduanya dijalankan oleh agen sosial atau subjek-subjek, melalui aktivitas nalar intelektual dan percakapan yang memastikan bahwa satu sama lain saling memahami. Dalam aktivitas tersebut, berarti ada dimensi pendidikan, dengan makna yang lebih luas (membuat orang mengerti). Semua ini memiliki tujuan,  baik disadari maupun tidak, terjadi secara alamiah maupun direkayasa, secara individual maupun kolektif, yakni membangun hubungan sosial, ikatan, kekerabatan, persaudaraan, rekatan, kohesi sosial, dan perubahan-perubahan.

Tradisi sebagai dimensi sosial mikro di tengah masyarakat ini berjalan secara dinamis dalam kurun waktu tertentu di dalam hamparan sejarah (epoch). Kadang disetujui, atau sebaliknya. Bahkan, kadang pula perlu diperbaiki, direvisi, dan menjadi hal yang dianggap begitu penting di dalam kehidupan sehari-hari.

Tatkala dianggap penting, tradisi ini tentu memberikan kontribusi bagi terbangunnya dimensi sosial yang lebih luas (makro), yakni kebudayaan. Istilah “membudaya” adalah pencapaian tertentu dari berlakunya tradisi yang ditempa secara terus-menerus sehingga menghasilkan kondisi dan situasi sosial tertentu yang dianggap lebih baik, luhur, bijaksana, agung, dan seterusnya. Puncak dari pencapaian kebudayaan ini, pada saatnya nanti, disebut sebagai peradaban.

Jadi, dalam hal ini, yang dimaksud dengan “tradisi, budaya, dan peradaban” adalah sebuah rangkaian proses yang dinamis. Disebut bersifat dinamis, karena terus-menerus menjadi proses yang tidak pernah berhenti. Oleh karena itu, penafsiran tertentu mengenai masyarakat, sebenarnya tidak pernah final. Dengan kata lain, esensialisasi dengan cara menerka-nerka apa esensi di balik kejadian tertentu, dengan cara mentransendenkan makna, sebenarnya hanyalah aktivitas intelektual manusia yang sangat manusiawi. Artinya, bisa benar dalam kurun waktu tertentu dan juga bisa keliru.

Literasi dan Seni Memahami

Sementara itu, literasi adalah aktivitas manusia mengenal objek “yang literal” atau “yang terbaca” (maksudnya, yang terpahami atau berpotensi mengandung makna simbolik tertentu). Karena secara umum literasi ini berkaitan dengan aktivitas maknawi, atau seni memahami, maka tidak heran jika ahli makna-makna disebut “literati”. Dalam bahasa sehari-hari kita, literati adalah pembaca. Orang yang mampu membaca, secara tidak langsung, adalah orang yang mampu memahami sesuatu. Bahkan ada yang menyebut, seperti seorang sarjana filsafat, Fr. Budi Hardiman, memahami yang dimaksud bukan sekedar memahami secara sederhana (biasanya lazim dilafalkan, “mengerti”). Tapi, memahami dalam hal ini, adalah memahami yang makna-makna hakiki.

Dalam merayakan seni memahami, bisa secara konvensional, dilakukan dengan cara membaca. Misalnya, membaca buku. Terkadang proses membaca dan memahami ini, letaknya dipertukarkan, karena merupakan suatu hal yang berkesinambungan secara simultan. Kalau kita renungkan, buku tentu tidak muncul dengan sendirinya. Artinya, hal itu diciptakan, ditulis dan ada penulisnya. Proses menulis, juga proses memahami dan mengomunikasikan pemahamannya tersebut. Cara berkomunikasi melalui medium literasi ini unik: kadang tulisan disajikan agar mampu dipahami pembaca, terkadang juga tidak. Justru hal-hal yang dianggap mengandung pesan penting, disembunyikan sedemikian rupa agar tidak mudah ditebak. Yang jelas, keduanya menuntut para pembaca untuk menikmatinya. Sampai di sini, membaca dan menulis adalah bagian dari kenikmatan.

Membaca bukanlah sekadar membaca. Demikian juga dengan menulis. Di antara keduanya, ada proses-proses sistemik: yakni berpikir, menalar, merenung, merefleksi, memprakirakan, menerjemahkan, dan hal-hal yang semacamnya dan seterusnya. Juga kadang-kadang, diperlukan komunikasi lisan untuk memperkaya, membangun, merekonstruksi, mengiritik, membermaknakan, mendekonstruksi, dan seterusnya. Ada diskusi, tukar pikiran, pinjam-meminjam konsep dan teori, saling berbagi kesenyapan intelektual dan lain sebagainya.

Di sinilah kiranya, kita patut bersyukur. Bahwa sesungguhnya literasi adalah pembeda, antara benda mati, makhluk yang tiada bernalar dan berakal budi, dan manusia seutuhnya. Karena kita manusia, kita memiliki keunggulan literasi. Kita mampu berpikir, merenung, berfilsafat, memahami, lalu membaca, menulis, dan berbagi. Literasi itu semacam “tafakkur di tikar syukur, menginsafi batas diri yang tersungkur, melenyapkan takabur yang serbakabur.” Maknanya, literasi adalah bukti bagi eksistensi manusia yang berakal budi.

Tradisi Literasi di Dalam Negeri

Bagaimana tradisi literasi ini di dalam negeri? Ada yang menyebut –secara tidak jelas, tanpa bukti-bukti yang kuat, kecuali angka-angka statistika yang tentu saja kurang akurat– bangsa Indonesia memiliki ranking literasi yang rendah. Dari sepuluh orang, hanya setengah orang yang membaca buku secara utuh. Maksudnya, hanya ada seorang saja yang gemar membaca, walau membaca buku pun tak pernah selesai.

Justru saya yakin orang Indonesia para pembaca sejati. Semuanya dibaca. Bukan hanya buku, tapi juga iklan-iklan, kenikmatan-kenikmatan, makna-makna hidup, dan seterusnya. Itulah mengapa sekarang ini, kalau kita periksa secara seksama di media sosial, orang-orang dewasa berlaku seperti anak-anak kecil, suka permainan-permainan yang mengasyikkan dan tentu lena adalah salah satu jenis kenikmatan. Sebaliknya, anak-anak kecil juga demikian, lebih suka berlaku, berpikir, berdandan, bertutur-kata, bersikap dan barangkali “memahami” seperti orang dewasa. Serba terbolak-balik, karena literasi yang terlampau jauh melampaui kehebatan cara bernalar di dunia ini. Sampai-sampai bahwa, tidak jelas batasnya antara orang yang benar-benar terpelajar, cendekia, intelektual (literati), dengan orang yang serba tuna pikiran, bodoh, dungu, goblok, atau yang semacamnya.

Karena literasi yang terlalu tinggi pula, sampai-sampai kita sulit sekali memahami cara berpikir dan berpicara orang sekolahan yang pernah mengenyam pendidikan tinggi. Doktor seperti kompor, profesor seperti kompresor, master seperti daster yang kedodoran, sementara yang sarjana, seperti bejana kosong melompong yang nyaring bunyinya. Lha wong ayat-ayat suci yang katanya firman Tuhan bisa dijadikan legitimasi caci maki, apalagi sekedar pernyataan-pernyataan iseng yang diketik oleh dua jempol melalui ponsel pintar (apanya yang pintar?).

Literasi Kaum Muslim

Bagaimana dengan kebanyakan kaum Muslim? Proses terbangunnya tradisi literasi ini, tidak mengenal agama. Semuanya akan dilibas habis, entah itu Islam, Katolik, Protestan, Ortodoks, Yahudi, Zoroaster, Hindu, Buddha, Konghucu, Singh, Kejawen, Sunda Wiwitan dan berjuta-juta lainnya. Karena pencapaian kualitas literasi tertentu, maka orang memiliki kesempatan untuk memlintar-mlintir agama, demi kepentingan “literasi” (pemahaman akan hidup) tertentu. Itulah, makanya, kita perlu mengakui bahwa sebenarnya, ada pencapaian literasi yang ketinggian. Entah gara-garanya dari mana, tapi kali ini bersifat massif menyebar ke seluruh pelosok negeri. Di Palestina, orang bertengkar tidak selesai-selesai. Demikian juga di tanah Arab, antara Iran yang Shiah dan Arab Saudi yang Sunni. Lha sesama Sunni saja masih suka ribut, apalagi yang jelas-jelas berbeda antara pecinta agama dan pembenci agama (keduanya, sama-sama mengklaim paling memahami agama). Itu juga karena proses literasi: “membaca, memahami, berpikir, merenung, menginsyafi diri” dengan hasil dan makna yang berbeda-beda dan maksud yang berbeda-beda.

Jadi, kalau misalnya, ada pemeringkatan atau pe-ranking-an kualitas pendidikan di dunia, baik itu berdasarkan pemerataannya, maupun kualitasnya, jangan ragu-ragu untuk mempersoalkannya, bahkan menyangsikannya. Indonesia disebut memiliki universitas yang bahkan menyentuh ranking 100 dunia saja tidak mampu. Atau, nilai matematika siswa-siswi di Republik kita yang tercinta, termasuk dalam peringkat terbawah. Atau, orang-orang yang putus sekolah, tidak mampu membaca atau buta aksara, atau mereka yang hanya lulusan sekolah dasar, dan seterusnya, mencapai derajat persentase yang besar, di atas angka 30% misalnya.

Apa makna itu semua jika dibandingkan dengan para profesor yang berpuluh tahun mempelajari ilmu tertentu, lalu dalam lingkungan literatinya menginisiasi perampokan sumber daya negeri-negeri lain? Mana kira-kira, yang lebih “literati” antara manusia bijak di pegunungan, yang hidup seadanya dan nerimo ing pandum, dengan mereka yang serba seolah-olah menggenggam kekuasaan dunia, karena merasa memiliki dan gemar mengancam akan menggunakan teknologi canggih dan senjata pemusnah massal yang paling mutakhir?

Maksud saya, kita harus mencoba memahami istilah “tradisi literasi” dengan penghayatan yang lebih reflektif, ketimbang hanya mengamati aktivitas konvensional “membaca, meneliti, menulis dan seterusnya”.

Selama saya tinggal di negeri yang luhur-makmur, digdaya-berbudaya dan serba beradab, sebenarnya tidak jauh beda dengan apa yang saya lihat di tanah air. Tampak ada jenjang-jarak yang jauh berbeda antara yang maju dan mundur, tapi sekali lagi, sebenarnya sama saja. Agama seperti Islam misalnya, kalau di rumah kita dimanfaatkan untuk kepentingan remeh-temeh kekuasaan dan pengumpulan harta, di sini dipaksa “dipandang” dan dipropagandakan sebagai ancaman yang mampu merontokkan tembok keamanan negara (national security). Pasca momen 11 September, ada semacam kesengajaan yang berlebihan dan tentu saja sangat memuakkan mengenai “pengamanan” atau “sekuritisasi” atau Islam harus dijaga oleh para satpam agar tidak mencederai kemanusiaan. Ini cara berpikir “literasi” macam apa yang ditawarkan oleh negara yang katanya sedemikian maju?

Itulah saya ingin mengatakan bahwa, saya pikir, para pembaca yang “menikmati” tulisan ini akan memahami maksudnya, termasuk memilah-milih mana yang dianggap benar dan keliru, baik dan buruk, indah dan tidak indah, serta harus berbuat apa dan bagaimana, yang dimulai dari mana.

Sebagai ikhtitam dari tulisan yang khas berserak ini, saya ingin mengatakan bahwa, tradisi literasi yang mampu membangun masyarakat yang berbudaya dan membangkitkan peradaban, itu sesungguhnya dimulai dari kedua mata kita, kedua telinga kita, akal budi kita, lalu turun ke hati nurani kita, renungkan betul setiap huruf yang dijahit dan terjahit, setiap kata yang cetak, setiap kalimat yang tertata, setiap paragraf yang tersusun berurutan membangun halaman, sub-bahasan, bab-bahasan dan akhirnya judul sebuah karya: anak rohani.

Literasi yang baik akan hidup, menghidupi, dan menghidupkan. Sementara literasi yang kurang baik harus diusahakan agar menjadi baik, menumbuhkan pohon kesadaran dan insaf jiwa yang sejati, yang rimbun, subur, dan berakar kokoh, serta berbuah penerangan, pencerahan, dan kebijaksanaan. Sekian.

*) Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang, pendiri the Reading Group for Social Transformation (RGST)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here