Menapak Jejak Tetirah dan Dakwah Kiai Dahlan di Lereng Kaki Gunung Bromo

0
239
Dari kiri, Luqman Wahyudi, Badrie H Amrullah, dan Sarwo Edi di Tosari. (Foto oleh Bu Badrie/KLIKMU.CO)

KLIKMU.CO

Dilaporkan oleh Luqman Wahyudi

Sekretaris Majelis Tabligh PDM Kab. Pasuruan/guru ISMUBA SD Muga Pandaan

Pernahkah tebersit dalam pikiran kita bahwasanya Sang Kiai pernah tetirah dan dakwah di lereng kaki Gunung Bromo, tepatnya di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan Provinsi, Jawa Timur? Sekitar tahun 1922-1923 ternyata beliau tetirah ke Tosari bersama Nyai Ahmad Dahlan dan mendirikan mushala di sana. Beliau sekarang menjadi inspirator bagi warga Muhammadiyah di Tosari pada khususnya dan Indonesia pada umumnya, untuk mencintai dan menyebarluaskan ajaran Muhammadiyah.

***

Penelitian ini saya lakukan terhitung 3 tahun sejak 2017 lalu. Dan sampai saat ini saya sering berkunjung ke sana dalam rangka “Menapak Jejak Tetirah dan Dakwah KH Ahmad Dahlan di Lereng Kaki Gunung Bromo Tosari Pasuruan”. Sudah banyak yang kami temukan mengenai bukti-bukti kehadiran KH Ahmad Dahlan di Tosari. Kunjungan terakhir saya lakukan pada 3 September 2020.

Kehadiran beliau di Tosari, Pasuruan, dapat dilacak dari beberapa catatan dari penulis sejarah Muhammadiyah, yang mengisahkan tentang perjalanan dakwah KH Ahmad Dahlan hingga sampai ke Tosari, Pasuruan.

Tetirah KH Ahmad Dahlan di Tosari dan berdakwah sekaligus mendirikan mushala yang sekarang menjadi masjid di sana merupakan suatu hal yang menunjukkan bahwa Muhammadiyah hadir di Tosari sejak lama di tengah-tengah masyarakat yang multikultur dan ikut menjaga kemajemukan masyarakat Tosari bersama-sama elemen masyarakat yang lain.
Kedatangan KH Ahmad Dahlan ke Tosari dikisahkan dan dapat kita peroleh dari catatan yang ditulis oleh Haji Muhammad Syoedja’ yang disalin oleh H. Mu’tasimbillah al-Ghazi (Cucu Haji Muhammad Soedja’), mengisahkan bahwa sejak pertengahan tahun 1923, KH Ahmad Dahlan memang sering terganggu kesehatannya, sehingga pada hari beliau memimpin rapat tahunan 1922 terpaksa meninggalkan meja pimpinan dari rapat tersebut, menurut dokter dikarenakan menderita penyakit yang agak berat, sehingga diantar kondur (pulang) ke rumah dan tidak dapat kembali melanjutkan rapat-rapat tahunan tersebut. Sebab, beliau harus istirahat lebih dahulu sampai baik dan sehat kembali. Tetapi karena KH Ahmad Dahlan yang memang berjiwa besar dan semangatnya yang tak pernah kunjung padam, jangankan beliau sudah merasa sehat betul, sedang merasa ringan sedikit saja, lalu bergiat kembali dengan sekadar kekuatan yang ada (Mu’tasimbillah al-Ghazi: 163).

Pada masa itu memang Bahagian-Bahagian dari H.B Muhammadiyah tumbuh pesat. Umpamanya dalam bidang Bhg. PKO membangun Rumah Miskin, bidang Bhg. Yayasan sedang membangun Mushalla Aisyiyah, bidang Bhg. Sekolah sedang membangun HIS dan Kweekschool (Muallimat) yang kesemuanya itu diawasi oleh beliau. Selain itu, beliau tidak henti-hentinya menerima tamu di rumah, baik dari luar maupun dari dalam Muhammadiyah. Pada tanggal 13 Januari 1923, Rumah Miskin dibuka resmi oleh H.B. Muhammadiyah Bhg. PKO dengan dikunjungi utusan dari Rijkbestur KPA. Adipati Danudirjo R.T. Wiryokusumo, R.W. Dwijosewoyo, Dr. Ofrengga, Dr. R. Abdulkadir dan wakil-wakil perkumpulan di Yogyakarta yang diundang dan orang-orang yang terkemuka di Yogyakarta yang diundang. Tetapi KH Ahmad Dahlan tidak dapat hadir karena berhalangan sakit (Mu’tasimbillah al-Ghazi: 164). James L. Peacock dalam tulisannya tentang perjananan KH Ahmad Dahlan memurnikan ajaran Islam menceritakan, bahwa pada tahun 1922 hingga 1923, ketika usia beliau 50 tahun, kesehatan beliau sudah mulai terganggu (James L. Peacock: 43).

***

Menjelang Rapat Tahunan 1923, Hoofd Bestuur (HB–sekarang Pimpinan Pusat) Muhammadiyah yang khusus membicarakan kondisi kesehatan Kiai Dahlan. Hasilnya, pendiri Muhammadiyah ini diminta untuk istirahat (tetirah) keluar daerah agar bersungguh-sungguh istirahat dengan tenang, tidak terganggu dan terdesak urusan organisasi Muhammadiyah maupun lainnya. Pilihan Kiai Dahlan, yang ternyata juga berdasarkan saran tim dokter adalah Pasuruan, daerah sekitar lereng Gunung Bromo. Diantar oleh sedikitnya dua orang dari anggota H.B. Muhammadiyah yang ditentukan, Fachruddin dan M. Abdullah, Kiai Dahlan dan Nyai Walidah pun berangkat ke lokasi yang dituju. Menurut Sjoedja’, tempat yang dituju itu hanya disebutkan dengan “Gunung Tretes, bawah Karesidenan Malang Jawa Timur”, tanpa tambahan keterangan apa pun. Namun, dari sumber sejarah dan keterangan para sesepuh Tosari dan tokoh masyarakat Tosari, tetirah Kiai Dahlan itu ternyata ada di daerah Tosari, yang sama-sama masuk wilayah Kabupaten Pasuruan.

Setelah selesai persiapan perlengkapannya, KH Ahmad Dahlan menentukan hari dan jam keberangkatan dari Yogyakarta diantar oleh sedikitnya dua orang dari anggota H.B. Muhammadiyah yang ditunjuk. Sesudah mendapat tempat yang baik di Tretes, KH Ahmad Dahlan pun merasa nyaman. Sesudah dua malam, para pengantar itu sama minta izin pulang ke Yogyakarta. Menurut laporan dari dua orang pengantar tersebut, KH. Ahmad Dahlan sudah tenteram tenang hati mustarih, karena sudah mendapatkan pelayanan yang baik dan cakap. Sepulangnya dua orang pengantar, mumpung ada kesempatan, KH Ahmad Dahlan lantas menyingsingkan bajunya bertabligh kepada penghuni Tretes sambil membina surau sampai berdiri tegak untuk berjamaah lima waktu. Walaupun sesungguhnya sakitnya tidak mengurang malah bertambah. Itulah salah satu kelebihan yang dimiliki KH Ahmad Dahlan dan yang membedakan dengan yang lain (Mu’tasimbillah al-Ghazi: 166).

Sudah hampir dua bulan KH Ahmad Dahlan dalam tetirahnya dan hari rapat tahunan 1923 hampir tiba waktunya, tetapi beliau masih ayem tenteram belum dijemput oleh dua orang anggota H.B. Muhammadiyah ke Tretes. Setibanya dua orang penjemput dari Yogyakarta di Tretes, terlihat KH Ahmad Dahlan tampak tidak tambah sehat, malah tambah berat. Badan tambah kurus dan kakinya bertambah bengkak. Hanya cahanya roman wajahnya kelihatan gembira dan berseri-seri dan senyum karena hatinya merasa puas, bahwa usahanya selama tetirah, yaitu bertabligh dan mendirikan surau untuk menegakkan shalat berjamaah lima waktu. Beliau tidak menjadikan kesehatan jasmaninya yang terganggu sebagai rintangan yang menghalangi tugas, rasa tanggung jawab akan sesuatu kewajiban yang harus ditunaikannya
(Mu’tasimbillah al-Ghazi: 167).

Setelah dua orang penjemput beristirahat sebentar dan memberitahukan perkabaran di Yogyakarta, sambil bersiap turundari Tretes menuju Malang. Menginap satu malam dan pagi harinya berangkat dengan kereta pagi menuju Yogyakarta. Pukul 5 sore tiba di Stasiun Tugu, terus pulang menuju rumah dengan selamat tidak kurang satu apa pun.
Setibanya di rumah, keluarga di rumah merasa terkejut melihat KH Ahmad Dahlan tampak badannya lebih kurus dan kakinya bengkak, tetapi roman wajahnya kelihatan gembira dan cahaya wajahnya berseri-seri agak mengurangkan kesedihan hati para keluarga. Beliau pulang dari petirahan Tretes karena ingin memberikan wasiat dan amanat kepada rapat tahunan Muhammadiyah 1923 sebagai pembukaan rapat itu, karena merasa bertanggung jawab sebagai Ketua Umum H.B. Muhammadiyah (Mu’tasimbillah al-Ghazi: 168).

***

Berikut cerita dari beberapa tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh Muhammadiyah di Tosari Pasuruan.

1). Cerita dari Mbah Dono

Mbah Dono adalah saksi sejarah tentang tetirah dan dakwah KH Ahmad Dahlan di Tosari. Beliau adalah salah satu murid dari KH Ahmad Dahlan saat berdakwah di Tosari.

Menurut cerita dari Mbah Dono yang diwawancarai oleh Bapak Imam Soeladji sewaktu menjabat sebagai sekretaris PDM yang diketuai oleh Bapak Mirin sekitar tahun 1995. Menjelaskan bahwa perbedaan tanggal kedatangan KH Ahmad Dahlan ke Tosari menurut catatan Soedja’ tanggal 13 Januari 1923 dan menurut tim UMM tanggal 29 November 1922, sebenarnya sangat bisa dimaklumi. Karena, sebelum KH Ahmad Dahlan dianjurkan tim dokter untuk bertetirah, beliau sudah terbiasa mengunjungi Tosari untuk berdakwah. Rata-rata dakwah yang dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Dalam sebulan, beliau datang sekali, terkadang dua bulan sekali, dan paling lama tiga bulan sekali. Ketika KH Ahmad Dahlan datang ke Tosari menginap di rumah kepala desa yang bernama Pak Arispani. Artinya, bisa jadi, saran tetirah dari tim dokter itu memang sengaja direncanakan Kiai Dahlan untuk lebih intens dalam membina masyarakat setempat. Apalagi, Tosari yang dijadikan tempat tetirah itu merupakan usulan dari Kiai Dahlan yang disetujui oleh tim dokter.

Bapak Imam Soeladji menambahkan bahwa dari cerita yang berkembang di masyarakat setempat, setelah kunjungan 29 November 1922 itu, Kiai Dahlan memang berkunjung sekali lagi dalam keadaan kurang sehat. Saat terakhir datang, beliau dalam keadaan sakit. Dan tidak lama berselang sudah tidak lagi datang ke Tosari.

Mbah Dono menceritakan bahwa Kiai Dahlan adalah tokoh yang karismatis yang bisa membimbing murid-muridnya untuk bisa mengaji, termasuk Mbah Dono. Beliau menceritakan kedatangan Kiai Dahlan ke Tosari dari Yogyakarta naik kereta api sampai di Banyuwangi, kemudian naik kereta api ke Pasuruan. Dari Pasuruan naik cikar (kendaraan yang ditarik dengan Sapi) menuju Tosari. Bisa kita bayangkan jarak yang sangat jauh dari Pasuruan menuju Tosari di tempuh dengan naik cikar. Begitu gigih perjuangan Kiai Dahlan untuk menyebarkan agama Islam.

Ketika ke Tosari beliau membawa barang-barang dagangan berupa kain batik, seperti yang dilakukan beliau di Yogyakarta. Di Tosari beliau melihat kemungkaran-kemungkaran yang ada di Tosari, yaitu berdirinya hotel-hotel milik Belanda yang dijadikan tempat mesum. Dari sinilah awal mula tekad Kiai Dahlan untuk bisa merdakwah amar ma’ruf nahi munkar di Tosari.

Apa pun itu, yang jelas, saat bertetirah di Tosari Pasuruan itu, Kiai Dahlan justru berdakwah dan membuat mushala. Sampai sekarang mushala itu masih ada, bahkan kini berubah menjadi masjid bernama Al-Hikmah Al-Hidayah. Masyarakat setempat lebih akrab menyebut tempat beribadah ini dengan masjid Kiai Dahlan daripada nama aslinya. Meskipun, kini di salah satu dindingnya terpasang sebuah gambar bola bumi dengan bintang sembilan.

Menurut Mbah Sidiq Pada zaman kolonial Belanda telah berdiri hotel besar, yaitu Grand Hotel, Bromo Hotel dan Karya Hotel. Grand Hotel yang sekarang menjadi pasar Tosari bersebelahan dengan masjid yang dahulunya mushala peninggalan Ahmad Dahlan dikenal dengan sebutan Masjid Kiai Dahlan itu (yang sekarang bernama Masjid Al-Hikmah Al-Hidayah). Sebelum menjadi mushala dahulunya adalah rumah Bapak Masrub yang awalnya ditempati shalat berjamaah oleh Kiai Ahmad Dahlan.

Sejarah Masjid peninggalan KH. Ahmad Dahlan di Tosari diceritakan oleh Bapak Sarwo Edi Wibowo selaku tokoh masyarakat desa Mororejo Kecamatan Tosari dari mbah beliau yang bernama Pak Lindu yang dulu menjadi murid Kiai Dahlan saat tetirah di Tosari. Diceritakan bahwa mushala Kiai Dahlan diubah menjadi Masjid Al-Hikmah Al-Hidayah oleh tokoh NU dari Trenggalek Bapak Abi Khusno (1982). Awal kedatangan KH Ahmad Dahlan ke Tosari adalah di desa Kandangan Kulon sekarang bernama (Kandang Sari), kemudian beliau membangun mushala di Tosari yang dahulu hanya beratapkan daun ilalang. Dahulu sampai sekarang orang-orang menyebutnya mushala Pak Dahlan. Mushala itu digunakan oleh KH Ahmad Dahlan shalat berjamaah lima waktu. Ketika dipakai tempat Jumatan, yang mengumandangkan azan adalah Pak Dono dan yang khotbah adalah Pak Dahlan.

Masjid Al-Hikmah Al-Hidayah yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan Masjid Kiai Dahlan terletak di Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, di pinggir jalan sebelah selatan Pasar Tosari.
Data yang saya temukan tentang kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Al-Hikmah Al-Hidayah yaitu pelaksanaan shalat berjamah lima waktu. Masjid Al-Hikmah Al-Hidayah kini dikelola oleh Ormas NU semenjak Bapak Abi Khusno (1982) dari Trenggalek mengubah Mushala KH. Ahmad Dahlan menjadi masjid sekarang iniz yaitu Masjid Al-Hikmah Al-Hidayah.

Ketika saya melakukan observasi, sengaja ingin melaksanakan shalat Jumat di masjid tersebut, tetapi setelah menunggu lama dan akhirnya mendapatkan informasi dari masyarakat bahwa masjid tersebut tidak lagi menyelenggarakan shalat Jumat. Di desa Tosari masyarakat Tosari seluruhnya berjumatan di Masjid Besar Al-Mujahidin Tosari yang didirikan oleh Yayasan Muslim Pancasila.

Mushala Kiai Dahlan sekarang jadi Masjid Al Hikmah Al Hidayah. (Luqman/KLIKMU.CO)

2). Cerita dari Mbah Sidiq

Mbah Sidiq adalah sesepuh Kecamatan Tosari (Di usianya yang sudah 90 tahun Mbah Sidiq dengan dialek bahasa Indonesia diselingi bahasa Jawa menceritakan tentang sejarah agama-agama yang dipeluk Suku Tengger). Dari wawancara yang saya lakukan dengan Mbah Sidiq di kediamannya pada hari Selasa, 11 Juli 2017, menjelaskan bahwa sebelum Hindu menjadi agama mayoritas terlebih dahulu masyarakat Suku Tengger memeluk agama Buddha Gautama. Baru sekitar tahun 60-an Hindu datang dan berkembang pesat yang dibawa oleh orang Bali bernama Mulyo Baroto. Tetapi sebelum semuanya itu sebenarnya Islam sudah tampak pada masa kolonial Belanda. Sejak kedatangan Kiai Ahmad Dahlan di Tosari Islam mulai ada yang membina, yang sebelumnya hanya ada karyawan-karyawan hotel dari berbagai daerah yang memeluk Islam tetapi tidak ada yang menampakkannya bahkan tidak berani mengaku Islam karena takut akan Belanda. Barulah ada pembinaan ketika datang Kiai Ahmad Dahlan.

Pada zaman kolonial Belanda telah berdiri hotel besar yaitu Grand Hotel, Bromo Hotel dan Karya Hotel. Grand Hotel yang sekarang menjadi pasar Tosari bersebelahan dengan masjid yang dahulumya mushala peninggalan Ahmad Dahlan dikenal dengan sebutan Masjid Kiai Dahlan itu (yang sekarang bernama Masjid Al-Hikmah Al-Hidayah). Sebelum menjadi mushala dahulunya adalah rumah dari Bapak Masrub yang awalnya ditempati shalat berjamaah oleh Kiai Ahmad Dahlan.

Mengenang pengajian yang dilakukan Kiai Ahmad Dahlan ketika Mbah Sidiq masih kecil, teringat bagaimana Kiai Dahlan mengajarkan Islam. Beliau adalah penyabar, telaten, dan sangat memperhatikan muridnya ketika mau mengaji. Saya (Mbah Sidiq, Red) juga teringat akan kedermawanan Nyai Ahmad Dahlan, yang sering membikinkan makanan (ketan) kepada orang-orang dan murid-muridnya. Pada waktu itu awalnya di laksanakan shalat Jumat di Tosari dan sebagai imam dan khatib adalah KH Ahmad Dahlan, yang diikuti oleh jamaah tidak lebih dari 20 orang.

Banyak peninggalan yang ada di Masjid Kiai Dahlan itu (yang sekarang bernama Masjid Al-Hikmah Al-Hidayah). Mbah Sidiq pernah menyimpan al-Qur’an dalam ukuran besar tapi sekarang entah ke mana. Bahkan bisa dikatakan beduk (alat penanda shalat) yang ada di masjid itu adalah beduk yang tertua di Tosari.

Dari catatan-catatan para ahli sejarah yang menulis tentang perjuangan KH Ahmad Dahlan semasa hidupnya dan dari cerita-cerita tokoh masyarakat Tengger Tosari dapat ditarik benang merah bahwa KH Ahmad Dahlan memang hadir dan tetirah sekaligus berdakwah di Tosari Pasuruan Jawa Timur.
Kehadiran beliau menjadi inspirasi bagi perkembangan Muhammadiyah di cabang Tosari yang sekarang dikomandani oleh Ketua PCM Tosari Bapak Anshori (68 tahun) dan beberapa tokoh Muhammadiyah di sana, termasuk Bapak Sarwo Edi Wibowo (56 tahun).

Muahammadiyah Cabang Tosari resmi berdiri pada tahun 2014 semasa Drs Imam Suladji sebagai ketua PDM Kab. Pasuruan. Dan Alhamdulillah sampai sekarang pengurus tersebut masih aktif berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Pasuruan Nomor: 062/KEP/III.0/D/2016 tentang Penetapan Ketua dan anggota Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kecamatan Tosari Periode 2015-2020.

Untuk menambah kecintaan kita kepada Muhammadiyah dan menjadikan KH Ahmad Dahlan sebagai inspirator bagi kita semua, saya sertakan juga pengantar yang ditulis oleh guru saya, Drs Nur Cholis Huda MSi (wakil ketua PWM Jatim dan penulis buku best seller):
Orang besar selalu memberi inspirasi. Pengalaman hidupnya menjadi guru yang terbaik bagi generasi berikutnya. Langkahnya telah mengikuti perjalanan sejarah. Dan dari sejarah kita bisa banyak belajar tentang kearifan. Karena itu membaca sejarah selalu mengasyikkan.

KH Ahmad Dahlan adalah orang besar. Beliau telah memberi banyak kepada negeri ini. Pemikirannya, gagasannya, dan semangat hidupnya menjadi sumber inspirasi yang sangat berharga. Ketika beliau sehat banyak sekali yang telah beliau lakukan. Dan ketika sakit beliau tidak mau berhenti. Terus dan terus berjuang memberi pencerahan. Gagasan dan idenya seakan meluap-luap dalam jiwanya yang harus diwujudkan dalam kenyataan.

Mudah-mudahan tulisan tentang tetirah dan dakwah KH Ahmad Dahlan di Kaki Lereng Gunung Bromo Tosari Pasuruan ini bisa bermanfaat bagi perkembangan Muhammadiyah di Tosari Pasuruan khususnya dan Muhammadiyah di tanah air pada umumnya, sehingga bisa memajukan Indonesia dan mencerahkan semesta. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here