Mencicip Kehangatan Toleransi di RS Muhammadiyah Yogyakarta

0
278
Logo Muhammadiyah (Foto: istimewa)
KLIKMU.CO- Diambil dari Rahma.id  senin (14/12). Menuju penghujung tahun 2020, ada begitu banyak cerita tentang intoleransi yang menyeruak dan menyiksa batin kita. Berita-berita tentang tindakan tak ramah terus bergaung di linimasa, seakan memang sudah separah itulah kondisi intoleran di negeri ini. Saya memiliki pengalaman berbeda, yang sangat hangat dan rasanya mendesak untuk saya bagikan melalui tulisan sederhana.

Pengalaman saya perihal hangatnya sikap toleran ini saya dapatkan dalam perjalanan saya sebagai ibu dari tiga anak. Bagi saya, memilih rumah sakit untuk bersalin adalah perkara yang susah-susah gampang. Sama seperti ibu pada umumnya, saya berusaha mendapatkan pelayanan yang baik dari rumah sakit yang saya percaya, khususnya untuk pengalaman melahirkan yang pertama. Sebagai calon orang tua baru, saya dan suami memilih berdasarkan anggaran, layanan yang dimiliki rumah sakit, reputasi rumah sakit dan dokter kandungan, lokasi, dan kriteria pendamping lain.

Sayangnya, meski sudah memilih rumah sakit terbaik, trauma persalinan ternyata tetap  terjadi. Setidaknya, inilah yang saya alami pada persalinan pertama saya pada tahun 2013. Pengalaman pertama yang kurang menyenangkan membuat saya harus mengulang proses seleksi rumah sakit untuk kehamilan kedua. Saya merasa kurang beruntung pada persalinan pertama saya, yang menimbulkan deretan pertanyaan kenapa dulu begini begitu, kenapa bayi saya akhirnya tidak satu ruangan, kenapa saya harus migrain selama 3 bulan pasca Sectio Caesarea, dan lain-lain.

Trauma saya, membuat saya bertekad untuk mendapatkan layanan yang benar-benar baik, bukan hanya sesuai brosur saja. Sama seperti saat menyeleksi rumah sakit untuk persalinan pertama, saya membuat kriteria tertentu saat memilih rumah sakit untuk persalinan kedua, pada tahun 2015. Saya memilih rumah sakit yang sangat pro ASI, mengizinkan IMD selepas operasi Sectio Caesarea dan berbiaya terjangkau bagi kami. Jika sebelumnya saya memasukkan unsur latar belakang agama untuk rumah sakit pilihan, kini tidak lagi. Soal agama saya coret dari daftar kriteria sebuah rumah sakit.

Baca Juga  Rahasia Al Fatihah dan Hikmahnya Menurut Imam Ghazali
Memilih RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta

Awalnya, saya memilih rumah sakit khusus ibu dan anak, namun atas saran dr. Sulistiari Retnowati, Spog., saya mempertimbangkan soal ketersediaan kantung darah untuk mengantisipasi kejadian terburuk berupa pendarahan. Atas saran beliau, pilihan saya akhirnya jatuh ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Yogyakarta.

Pada kunjungan saya yang pertama, saya ceritakan pada dokter Retno, betapa trauma saya pasca persalinan pertama belum kunjung hilang. Pada persalinan pertama, saya mengalami ketidakwajaran dan rasa kurang nyaman pada rumah sakit pilihan saya. Beliau memerhatikan betul dan mendengarkan keluhan saya, bahkan memberi catatan khusus di rekam medis saya tentang trauma saya, sehingga dokter anastesi yang kemudian menjadi rekan dokter kandungan saat operasi, memahami trauma saya.

Saat hari yang dijadwalkan tiba, dokter anastesi ini, pria, sudah sepuh masuk ke ruangan saya. Mengajak berdoa, memohon pada Allah supaya disembuhkan dari trauma. Saya katakan, “Saya Katolik, Dok.” Beliau dengan bijak menjawab, “Tidak apa-apa, mari kita berdoa. Mbak dengan cara Mbak, dan saya mendoakan dengan cara saya.” Ada haru yang menyesak dalam dada saya kala itu. Bukan hanya trauma saya yang sembuh, namun ucapan beliau sungguh membuat saya menjadi percaya sepenuhnya pada beliau dan tim yang akan melakukan tindakan bedah.

Sungguh tak saya duga, suasana operasi berjalan lancar, suntik anastesi sama sekali tidak sakit. Diselingi senda gurau dari para tenaga kesehatan tentang keseharian mereka. Saya menangis saat bayi saya diberikan pada saya untuk IMD (Inisiasi Menyusui Dini) yang tidak saya alami pada persalinan pertama saya, sementara para dokter merapikan jahitan. Saya menangis haru tentunya, Sectio Caesarea yang sebelumnya tak semenyenangkan ini.

Baca Juga  Ayah, Boleh Minta Gendong?

Pasca operasi, saya dilatih untuk berjalan, diawali dengan senam ringan dari terapis. Bayi saya diperiksa oleh dokter H. Komaruddin, SpA yang kemudian menjadi dokter untuk anak-anak saya kala sakit pun saat imunisasi. Keramahan beliau, membuat anak-anak hapal sekali dengan beliau. Kadang saat periksa, yang sakit satu yang minta diperiksa semuanya.

Persalinan Anak Ketiga

Di tahun 2018, saya kembali lagi ke RS PKU Muhammadiyah, Yogyakarta. Operasi sesar lagi untuk anak ketiga. Kali ini dengan dokter anastesi yang berbeda, namun  suasana hangat dan ramah seperti yang saya alami di tahun 2015 tetap saya rasakan. Yang berbeda adalah baju untuk pasien saat operasi, sudah menggunakan baju muslim khusus, sehingga yang terbuka hanya di bagian yang akan dikenai tindakan saja. Dilengkapi jilbab untuk muslimah, sementara saya tidak dipakaikan jilbab meski menggunakan baju khusus yang sudah menjadi standard di rumah sakit tersebut.

Saya pikir, layanan baik ini hanya terjadi karena saya memilih kelas VVIP. Ternyata tidak. Saya pernah dirawat inap di RS PKU Muhammadiyah Gamping tahun 2016 karena gejala radang empedu. Saya mencoba dari kelas 2 hingga VVIP, karena masalah ketersediaan kamar. Perlakuan perawat, keramahan petugas cleaning service, sama saja. Tidak berbeda saat melayani di kelas 2 maupun di VVIP, dari segi keramahan dan teknis.  Saya pikir, standar layanan ini mungkin ada di setiap RS PKU Muhammadiyah.

Muhammadiyah dan Toleransi

Belakangan saya menyadari bahwa keberadaan Muhammadiyah sangat dekat dengan masyarakat. Tak hanya rumah sakitnya yang ada sampai pelosok, ruang pendidikan pun banyak dibangun oleh Muhammadiyah. Semoga sinar Muhammadiyah dapat selalu  menerangi dan membangun kehangatan toleransi di negara ini, seperti yang sudah saya rasakan sendiri.

Baca Juga  Buya Syafi’i Ma’arif, Dedikasi Tiada Henti Menyemai Kebudayaan dan Kemanusiaan untuk Negeri

Seperti saat saya duduk mengantre giliran periksa atau menunggu obat, saya sadari busana saya berbeda, saya tidak berkerudung. Namun selalu ada percakapan hangat dari sesama pasien pun tenaga kesehatan yang jelas busananya berbeda dari saya. Dalam pikiran saya terlintas, kata siapa toleransi mulai pupus?

Mungkin saat kita terlalu sering bermain di lingkungan homogen, kita berpikir bahwa toleransi mulai pupus. Sekali waktu, cobalah untuk berkunjung ke lingkungan yang berbeda busana dan atributnya, barangkali Anda akan merasakan pengalaman berharga seperti yang saya rasa, bukti nyata bahwa sekalipun ajaran agama ditegakkan, toleransi bisa hadir dalam percakapan-percakapan antar manusia.

*Butet Rs M adalah ibu dari tiga anak, tinggal di Bantul. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here