Design Generasi Emas #2: Untuk Apa Belajar

0
131
Foto diambil dari Kompasiana.com

KLIKMU.CO

Oleh: Irnie Victorynie*

Nak, belajar yang rajin, ya, agar cita-citamu tercapai!
Nak, semangat dong belajarnya biar nanti jadi orang!

Demikianlah, dan puluhan kalimat lain yang serupa. Tentu seruan dan suruhan yang tidak asing lagi di telinga kita tersebut maksudnya baik. Di dalamnya ada nasihat dan motivasi orang tua untuk anaknya. Hampir setiap hari nasihat demikian diulang-ulang sebagai penegas bahwa anak harus selalu rajin belajar.

Pertanyannya, tepatkah kalimat tersebut? Kalau dicermati, nasihat tersebut belum tepat. Belajar bukan sebatas untuk meraih karier. Bukan pula hanya untuk menjadi orang terpandang secara status sosial. Bila belajar hanya dimaksudkan untuk mencapai profesi atau karier tertentu, boleh jadi proses belajar akan berhenti setelah tujuan itu tercapai. Itu berseberangan dengan salah satu asas dalam pendidikan, yaitu lifelong education (belajar sepanjang hayat).

Belajar itu sebuah proses yang dilakukan tanpa batas waktu. Belajar tidak berhenti hingga individu menjadi dewasa, tetapi tetap berlanjut sepanjang hidup. Belajar tidak hanya di lembaga formal. Misalnya, setelah lulus sekolah atau kuliah kemudian berhenti belajar. Namun, belajar harus terus dilakukan di setiap lingkungan kita berada, misalnya di rumah, di sekolah, dan di masyarakat.

Kini, belajar sepanjang hayat semakin tinggi urgensinya. Manusia harus belajar agar mampu menyesuaikan diri dalam lingkungan yang selalu berubah. Karenanya, berikan anak-anak motivasi belajar yang tepat sejak dini. Ucapkan nasihat dan motivasi untuk anak yang menyentuh kesadaran mereka tentang arti pentingnya belajar seumur hidup.

Beberapa tujuan dan target dari proses belajar yang harus dipertimbangkan, yaitu pertama, belajar untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Manusia perlu memiliki ilmu dalam kehidupannya. Ilmu ibarat cahaya. Jalan gelap menjadi terang. Ilmu menjadi pedoman bagi seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Bahkan, dalam zikir pagi yang setiap hari dibaca, terdapat doa agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Hadis dari Ibnu Majah No. 925, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima.” Dalam hal ini, ilmu pengetahuan diperoleh dari belajar.

Kedua, belajar untuk menumbuhkembangkan potensi manusia. Setiap anak yang lahir telah dikaruniai potensi untuk menjadi dirinya sendiri dan berbeda dari yang lain. Inilah yang disebut dengan sifat individualitas. Karena adanya individualitas, setiap orang mempunyai kebiasaan, cita-cita, minat, semangat, dan kecakapan yang berbeda-beda. Semua itu bisa distimulasi dan dikembangkan melalui belajar. Jadi, belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti penambahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, kecakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu-individu yang belajar.

Ketiga, belajar agar menjadi manusia yang bermanfaat. Setelah ilmu pengetahuan didapat, kemudian potensi diri berkembang dengan pesat, lalu jadilah manusia yang menebar manfaat. Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter seorang Muslim. Sering kita mendengar sabda Rasulullah “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”. Karenanya, tidak menjadi masalah anak-anak menjadi siapa pun di kemudian hari. Biarkan mereka tumbuh berkembang sesuai dengan sifat individualitas masing-masing.

Yang terpenting adalah mereka berpikir untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Misalnya, anak kita menjadi guru. Dia akan berusaha mengoptimalkan diri untuk kemanfaatan, baik kepada sekolah, peserta didik, orang tua/wali, dan masyarakat sekitar sekolah, sehingga dia akan menjadi guru yang luar biasa. Memiliki tanggung jawab, komitmen, dan dedikasi yang tinggi. Pada profesi lain juga sama. Pribadi pembelajar akan senantiasa mencari peluang agar bisa bermanfaat bagi orang lain sesuai kadar kemampuan dan bidang yang digeluti.

Akhirnya, kembali pada seruan di awal tulisan, sebaiknya redaksi nasihat dilengkapi menjadi, “Nak, belajar yang rajin, ya, agar kelak menjadi manusia yang berilmu dan bermanfaat bagi sesama!”

*Mahasiswa PhD International Islamic University Malaysia (IIUM),
Anggota Pimpinan Cabang Istimewa Aisyiyah (PCIA) Malaysia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here