Menentukan Sebuah Pilihan (Ulama) Dalam Perpolitikan Kebangsaan

0
147

KLIKMU.CO

Oleh: Dr. Mahsun Jayadi, M.Ag.
Ketua PDM Kota Surabaya

Secara etimologis, ulama adalah bentuk jamak al-ulama yang diartikan sebagai orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan. Secara harfiah berasal dari bahasa arab ‘alima yang berarti mengetahui.

Perubahan kaidah tashrif arab menjadi kata Ālim ismul fail kata untuk menunjukkan si pelaku atau orang yang mengetahui. Secara tekstual ulama jika mengacu pada kata Ālim dan jika ditashrif, maka akan ditemukan 823 kali penyebutan.

Kendati demikian, kita juga bisa menemukan makna sejenis meski menggunakan kosa kata yang berbeda seperti: al-aql, al-fikr, al-nazhr, al-basyar, al-tadabbur, al-‘itibar dan al-dzikr.

Dalam surat Ali Imran, ayat 3 disebutkan Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman dan berilmu pada derajat lebih tinggi

“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” Begitu “anggun” nya seorang dengan predikat ulama, bahwa mereka adalah makhluq yang memiliki aqidah yang mantap, integritas yang tinggi, muru’ah, dan terhindar dari berbagai kepentingan duniawi sesaat.

Disitulah letak seorang ulama menjadi rujukan bagi ummat. Tak pelak, pejabat dan rakyat datang meminta fatwa dan tuntunan hidup, bukan sebaliknya ulama yang mendatangi pejabat untuk mendapatkan “syai’un” atau sesuatu.

Imam Ghozali membagi typology ulama menjadi tiga, pertama, “mus’ida nafsihi wa mus’ida ghoirih”, tipe itu hakekatnya menyelamatkan dirinya juga menyelamatkan orang lain.

Lebih jauh, ulama yang selalu mengajak umat meraih keselamatan dunia dan akhirat, lahir dan batin, ucapannya serasi dengan perilakunya, patut diteladani, tidak mencla-mencle, dan tidak punya interest apapun kecuali agama. Tipe semacam inilah yang disebut ‘al-ulama warotsatul anbiya’i’ yakni, pewarits para Nabi.

Kedua, “muhlika nafsihi wa mus’ida ghoirih”. Dalam arti, bisa bermanfaat atau menyelamatkan orang lain akan tetapi mencelakakan dirinya sendiri. Maksudnya, ulama yang kelihatannya secara lahir menyeru kepada kebaikan dan orang lain menta’atinya, sedangkan dirinya sendiri sangat tendensius, materialistis, hitungan untung rugi.

Ketiga, “muhlika nafsihi wa muhlika ghoirih”. Tipe ini amat berbahaya sebab mencelakakan dirinya sendiri dan juga mencelakakan orang lain. Yang mana secara keilmuan ulama ini tidak memenuhi standar ulama. Juga dakwah yang mereka lakukan hanyalah untuk meraih keuntungan duniawi, pola hidup hedonis. Atau fokus amaliahnya hanya kepentingan duniawi saja.

Dalam konteks ini, menurut saya menjadi problem besar bagi kaum muslimin ketika harus memilih dan menentukan pilihan terhadap “ulama” dalam dunia perpolitikan dewasa ini.

Sebab semakin sulit menentukan profil ulama yang sesungguhnya. Hal ini disebabkan hari-hari politik seperti sekarang ini seringnya ambiguitas kegiatan yang bernuansa “pencitraan” sehingga apa yang diderivasi oleh imam al-Ghozali menjadi sangat relevan dalam konteks Kekinian.
Wallohu a’lamu bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here