Mengabdi Selama 36 Tahun, Perpisahan, Guru Ini Tak Henti-hentinya Minta Maaf

0
245
Ustadzah Tutik (dua dari kiri) menerima penghargaan dari kepala sekolah setelah mengabdi selama 36 tahun lebih. (mul/klikmu.co)

KLIKMU.CO – Ustadzah Puji Astuti memurnakan tugas mulianya sebagai guru SD Muhammadiyah 4 Pucang Surabaya (Mudipat) per akhir tahun pelajaran 2019/2020. Ustadzah Tutik, sapaan karibnya, telah mengabdi di Mudipat selama 36 tahun 8 bulan. Terhitung sejak 20 Oktober 1983 hingga 30 Juni 2020.

Banyak kenanangan manis yang diukir selama berjuang membesarkan Mudipat sejak masa awal-awal. Kondisi dulu tentu tak senyaman hari ini. Dulu fasilitas serbakurang, gedung sekolahnya masih cukup jelek, dan muridnya masih sedikit. Namun, lambat laun sekolah yang ikut dia rawat itu makin maju dan mapan.

Ustadzah Tutik juga pernah memutuskan hal paling dahsyat dalam hidupnya, dulu. Perempuan asli Jogja yang jebolan SPG itu mestinya lulus pendidikan SPG langsung menjadi PNS–sudah diplot oleh dinas terkait–yang ditempatkan di Sidoarjo. Namun, hatinya tertambat pada Muhammadiyah. Maka, sejak 20 Oktober 36 tahun lalu itu Ustadzah Tutik mengabdi di Mudipat.

Sabtu lalu (18/7/2020) Mudipat menggelar rapat dinas sekolah yang dirangkai dengan pisah kenang purnatugas guru. Yaitu, Ustadzah Tutik dan Ustadzah Anggi yang pindah ke Kalimantan.

Acara penuh haru dan menguras air mata. Memang tak ada perpisahan yang indah. Sesak yang ada. “Maafkan saya, maaf,” ucap Ustadzah Tutik selepas mengucap salam memulai pidato singkatnya. Hening suasana. Tak ada kata dan suara. Ustadzah Tutik terhenti dan repot dengan air matanya yang tak henti berderai di pipinya. Peserta rapat yang hadir pun ikut melelehkan air mata.

Perempuan kelahiran 2 Mei 1960 itu akhirnya mau melanjutkan kesan-pesannya selang beberapa waktu, sambil dipeluk oleh Ustadzah Lia, wakil kepala sekolah. Di sampingnya juga terus ikut menguatkannya, Ustadz Syaikhul, kepala sekolah, dan Ustadz Ainuzzaim, wakil kepala sekolah.

“Maafkan saya, teman-teman. Selama kita bersama mungkin ada sikap dan perkataan saya yang tidak nyaman di hati Panjenengan semua, maafkan.” Gemetat suaranya. Berteman juga dengan air mata. “Maafkan nggih. Terutama kepada bapak kepala sekolah. Maaf, Bapak,” Ustadzah Tutik menoleh ke Ustadz Syaikhul yang kemudian dibalas dengan anggukan takzim.

Ustadzah Tutik mengakhiri pidatonya lantas disambut tepuk tangan riuh dan pelukan dari beberapa kolega yang juga senior. Selanjutnya diserahkan piagam penghargaan, tali asih berupa gelang emas hasil urunan guru karyawan, dan terakhir diserahkan uang pesangon dari sekolah sebesar Rp 182 juta.

Selain Ustadzah Tutik, kemarin juga dilangsungkan perpisahan dengan Ustadzah Anggi Tri Prasetya Ningtyas SPd. Guru Bahasa Inggris kelahiran Sidoarjo, 16 Desember 1991, itu mengajukan resign karena akan pindah tugas ke Kalimantan mengikuti keluarganya. Ustadzah Anggi mengabdi di Mudipat sejak 1 Oktober 2014 hingga 30 Juni 2020 (5 tahun 9 bulan). (mul/achmad san)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here