Mengasah Peka di Tengah Bencana

0
254
Pradana Boy ZTF

Oleh: Pradana Boy ZTF*)

KLIKMU.CO

Telepon saya berdering di suatu pagi. Saya menjawabnya. Di layar, tampak Emak saya di kampung halaman, ditemani dua adik saya yang tinggal bersamanya, juga beberapa cucu Emak yang berteriak riang di sekelilingnya. Di tengah keriangan itu muncul pertanyaan masygul. Emak meresahkan kehidupan saya dan keluarga di tengah wabah global ini. Saya menjawab, sampai saat ini, kami baik-baik saja. Alhamdulillah! Namun, jawaban itu tak melegakan hatinya. Dalam situasi ini, kata Emak, hidup di kota jauh lebih sulit daripada di desa. Hidup di desa jauh lebih nyaman, lantaran sebagian besar bahan makanan tidak dibeli. Semua tersedia di kebun.

Kekhawatiran Emak saya di atas adalah potret kecil dampak wabah global Covid-19 bagi masyarakat. Tak sedikit orang kehilangan pekerjaan, dan tentu saja pendapatan. Banyak pula yang tak tahu harus ke mana harus mencari nafkah, karena tempat mereka bekerja tak lagi kuasa membayar upah. Di tengah situasi ini, Ramadhan datang. Ramadhan menjanjikan harapan, agar dengan berkahnya, wabah global ini segera sirna. Ramadhan mengajarkan aneka pelajaran kehidupan. Salah satunya adalah pesan untuk tak hidup secara berlebihan. Maka, patutlah kita bertanya: di tengah suasana sulit ini, masihkah ada yang hidup secara berlebihan?

Tanya itu wajar adanya. Karena di samping menghadirkan momentum untuk peningkatan kualitas iman dan spiritual, bulan Ramadhan juga sering kali dibelokkan ke arah yang berlawanan. Secara sadar atau tidak. Ini terjadi karena Ramadhan bermakna banyak hal bagi banyak kalangan. Suatu hal yang tidak bisa dimungkiri adalah menguatnya gejala konsumerisme saat Ramadhan tiba. Pernyataan ini memang layak diperdebatkan, tetapi fenomena yang selama ini berkembang cenderung mengarahkan kepada kesimpulan tersebut.

Konsumerisme: Hasrat Berlebihan untuk Konsumsi

Sekilas, mungin tampak berlebihan jika dikatakan bahwa Ramadhan adalah sebuah momentum ketika konsumerisme mendapatkan media pelampiasannya. Sebagai sebuah istilah, konsumerisme memang sering kali bernada peyoratif, karena pada umumnya ia berhubungan dengan gaya hidup sesaat dan pemuasan hasrat duniawi. Juga, pada level tertentu; menjadi sarana bagi lahirnya kecemburuan sosial antarberbagai kelas dalam masyarakat. Tetapi, demikianlah keadaannya. Puasa bermaksud melatih manusia untuk merasakan hidup dalam kondisi kekurangan. Tetapi, justru pada bulan puasa, orang berlomba-lomba menghadirkan kemewahan dalam konsumsi. Demikian pula dengan pemenuhan kebutuhan tidak pokok. Aksesori Ramadhan dalam berbagai bentuknya seolah menjadi sesuatu yang tidak boleh dilepaskan dalam bulan suci ini. Inilah konsumerisme, sebuah hasrat berlebihan untuk melakukan konsumsi.

Sosiolog Iran Hossein Godazgar (2007) memiliki sebuah pemahaman yang menarik tentang konsumerisme. Ia mengembangkan pemahaman akan konsumerisme ini, dengan terlebih dahulu membincang tentang hakikat konsumsi. Konsumsi, dalam pandangan Godazgar, bisa dipahami dalam dua level definisi. Pertama, konsumsi bisa dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Pada aspek ini, konsumsi bisa dianggap sebagai sesuatu yang “alamiah” dan “sah”, meskipun ia berhubungan dengan persoalan-persoalan keduniaan. Sementara pada level kedua, konsumsi dapat diartikan sebagai pemanjaan keinginan dan hasrat melalui pemenuhan atas barang-barang dan jasa yang mewah dan tidak terlalu perlu.

Dalam pemahaman yang pertama, semua agama sama sekali tidak memberikan pelarangan terhadap konsumsi natural. Dan inilah salah satu makna paling mendasar puasa, melatih keseimbangan mental manusia untuk hanya memenuhi kebutuhan konsumsi dasar seperti ini. Tetapi, konsumsi dalam konteks yang kedua menimbulkan debat yang cukup serius di kalangan agama-agama, tak terkecuali Islam. Konsumerisme selalu mengambil beragam bentuk sejalan dengan perkembangan zaman yang dilalui. Meskipun demikian, tidak sedikit sosiolog yang menilai hal ini sebagai anak kandung modernisme sebagaimana diyakini oleh Turner dan Campbell.

Konsumerisme Bertentangan dengan Islam

Di sisi lain, Ernest Gellner (1992: 72–85), menyebut bahwa budaya konsumerisme dicirikan oleh bentuk yang relatif. Kenyataan ini, menurut Gellner, bertentangan dengan gerakan Islam yang sederhana, kuat, membumi, dan membangun. Godazgar menengarai bahwa Muslim yang taat akan menemukan dirinya bertentangan dengan situasi yang berusaha mendegradasi kualitas imannya dengan mereduksinya ke dalam satu-satunya satu sistem makna yang benar, padahal sesungguhnya ada banyak sistem makna yang mungkin sama benarnya (Gellner, 1992: 85). Dalam situasi ketika terjadi pertarungan antara identitas antara nilai-nilai dasar Islam dengan agresivitas modernisme itu, Akbar S Ahmed meramalkan (1991: 230): ‘‘Masyarakat Islam tidak akan dengan mudah jatuh ke dalam pola-pola global yang sedang tumbuh bermunculan.”

Gaya hidup seperti ini, dalam bentuk budaya massa global, telah juga menjangkit negara-negara Islam dan negara-negara berkembang di belahan dunia lainnya. Tetapi, Brian Turner menyaksikan (1994: 90–92), reaksi dunia Islam terhadap gejala ini cenderung tidak sama dengan reaksi belahan dunia lain. Dalam pandangannya, meskipun Islam merasa telah nyaman dengan kelahiran konsumerisme sebagai hasil dari dari kapitalisme awal dan perkembangan budaya kapitalis di paruh pertama abad ke-20, Islam ternyata melakukan perlawanan atas perkembangan lanjut kapitalisme yang diiringi dengan rasionalisasi konsumerisme pada pertengahan abad ini. Gaya hidup Islami dengan segala karakternya yang khas tidak sejalan dengan gaya hidup Barat, sebuah dunia yang menjadi ciri utama konsumerisme. Kondisi inilah yang kemudian ditafsirkan oleh para pemimpin Islam sebagai bentuk baru penjajahan (penjajahan budaya internal) dan kelanjutan westernisasi sekaligus penetrasi simbolik (Turner, 1994: 91).

Konteks Indonesia

Tetapi, tidak selamanya prediksi Akbar Ahmed itu menampakkan kebenaran, jika konteks Indonesia dianalisis. Di Indonesia, tidak hanya terlarut dalam pola-pola global itu, umat Islam juga bahkan secara tidak disadari memainkan pola-pola global itu untuk pemuasan hasrat konsumeris mereka. Televisi sebagai contoh. Pada bulan Ramadhan mereka memang menghadirkan program-program yang sekilas tampak memberikan penghormatan kepada bulan suci ini. Tetapi, program-program yang lebih dominan justru berpotensi menjauhkan umat Islam dari pemenuhan hasrat konsumsi spiritual. Di sini, dengan nyata motivasi-motivasi kapitalistik mendominasi pada program-program semacam ini dan bukan bukan motivasi spiritual.

Kondisi ini kemudian mengantarkan pada sebuah persimpangan. Ramadhan yang seharusnya menghadirkan proses pengayaan spiritual dan intektual justru banyak didominasi oleh balutan-balutan kapitalisme materialistik yang semakin berpotensi menjauhkan manusia dari agama. Kekosongan dan kekurangan adalah sebuah perasaan terindah yang harus dirasakan oleh orang-orang yang sedang berpuasa.

Jalaluddin Rumi dalam sebuah puisinya mengibaratkan kekosongan perut dengan suara seruling yang nyaring. Kata Rumi, seruling akan berbunyi nyaring, manakala ia bersih dan kosong dari segala kotoran yang menyumbatnya. Jika ia tersumbat, tidaklah mungkin seruling mampu menghadirkan suara indah dan merdu yang melenakan. Demikianlah ibarat manusia. Perut yang kosong akan menghasilkan pikiran yang jernih dan jiwa yang peka terhadap situasi sosial yang terjadi di masyarakat. Dengan puasa, secara fisik orang akan melemah; tetapi orang yang berpuasa akan mengalami pengayaan secara batin, spiritual, dan intelektual.

Sayangnya, karena bulan puasa justru menjadi media paling tepat bagi pemuasan konsumerisme raga dan jiwa manusia, maka makna-makna substansial dan intrinsik yang semestinya tergapai melalui Ramadhan tidak tergapai. Sehingga dari tahun ke tahun, Ramadhan selalu tampak sebagai ritual masif yang secara masif pula mengalami pengikisan makna. Maka, jika Ramadhan pun tak mampu menahan laju nafsu dunia, bencana global yang kini melanda harus dihadirkan sebagai penumbuh rasa peka. (*)

*) Dosen Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here