Mengendalikan Sampah di Surabaya

0
163
Foto suasana bersih-bersih pantai kenjeran diambil dari dokumen pribadi SMP Negeri 16 Surabaya

KLIKMU.CO

Oleh: Tita Murtiyas Torini,S.Pd.M.Si*

Surabaya bebas plastik. Surabaya bebas bebas Sampah. Surabaya Bersih. Ini adalah pesan yang berusaha disampaikan Lembaga Swadaya Masyarakat Tunas Hijau dimana pada tahun 2018 ini tepatnya Minggu pagi (30/9) kembali melakukan Bersih-Bersih Pantai Jembatan Suramadu Surabaya.

Event tahunan yang melibatkan ribuan pelajar kota surabaya cukup membawa efektif untuk mengurangi penumpukkam sampah yang ada disekitar bibir panti suramadu.
Kegiatan yang diprakasai dan diselenggarakan oleh Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya, serta didukung oleh PT PP Properti – Grand Shamaya Surabaya, Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya dan Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur yang bersifat agenda ini tahunan semoga tidak berhenti pada satu titik lokasi saja namun bisa diperluas dan pelaksanaan tidak.1 tahun sekali bisa 3 kali dalam setahun

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B. Pandjaitan menyebutkan Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sampah plastik di laut terbesar ke-2 di dunia setelah China.

Setidaknya ada 2.400 ton sampah plastik yang terbuang ke laut setiap detik, 8 juta ton sampah plastik setiap tahun ke laut, dan bila tidak ada perubahan penanganan sampah, maka diperkirakan jumlah sampah plastik akan lebih banyak dari ikan pada tahun 2050.

“Saat ini kita belum menyadari dampak dari sampah plastik yang terbuang ke sungai dan sampai ke laut,” dikutip dari media online wartaekonomi.co.id letika beliau mengikuti Lokakarya Program Penataan Sungai Citarum di Bandung, Rabu (22/11/2017)

Berdasarkan hasil kajian bersama yang dilakukan pemerintah dengan Universitas Hasanuddin Makassar dan Universitas California Davis bahwa ikan di perairan Indonesia dan Amerika sudah mengandung mikro plastik dengan jumlah yang berbeda.

“Sampah plastik ini akan berubah menjadi mikro plastik, dan mikro plastik akan dikonsumsi oleh ikan, dan ikannya dikonsumsi oleh manusia,” ujar Luhut

Luhut menegaskan guna mendukung pengendalian sampah plastik, pemerintah telah melakukan sejumlah aksi penanganan sampah plastik dan implementasi pemanfaatan limbah dari plastik. Seperti pengangkatan sampah di Cakung Drain Cilincing, pembuatan aspal plastik-tar road, dan meninjau teknologi pengangkatan sampah plastik di perairan.

“Untuk itu, pertemuan ini kita laksanakan sebagai upaya untuk menyamakan persepsi tentang permasalahan dan tantangan yang kita hadapi bersama dalam mengendalikan sampah yang berasal dari sungai Citarum yang bermuara ke Laut Jawa, khususnya dalam melakukan penataan Sungai Citarum oleh semua pihak yang terkait, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan, tokoh masyarakat, komunitas lingkungan, budayawan, dan stakeholders secara umum,” ujar Menko Luhut

Menko Luhut menambahkan pihaknya sengaja mengundang para pimpinan perusahaan yang berlokasi di sepanjang DAS Citarum untuk meningkatkan komitmen dalam menjaga lingkungan serta melakukan perbaikan dalam pengelolaan buangan industri yang dihasilkan, terutama yang langsung dialirkan ke Sungai Citarum.

Menurutnya, Program Bestari untuk mengendalikan sampah di Sungai Citarum yang dilakukan Pemerintah Jawa Barat baru berhasil menangani sebagian sampah domestik. Namun limbah industri yang mencemari Sungai Citarum masih jauh dari yang diharapkan.

“Kami berharap komitmen dari industri yang belum memiliki IPAL untuk segera membangun secara mandiri maupun secara berkelompok, agar tidak menambah peliknya permasalahan dalam melakukan penataan Sungai Citarum,” pungkasnya.

Hal ini menurut penulis tidak jauh berbeda kondisinya dengan apa yang terjadi dikota pahlawan. Dimana sampah masih menjadi persoalan utama di kota-kota besar. Tak Terkecuali di Surabaya. Bahkan dalam sehari, Kota Pahlawan menghasilkan sampah plastik sebanyak 400 ton.

Angka tersebut berdasarkan data Komunitas Nol Sampah Surabaya. Bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Nasional (HSPN), komunitas itu mengajak semua pihak untuk lebih perhatian terhadap lingkungan. Salah satu caranya dengan mengolah sampah plastik secara bijak.

Dalam pemaparan wawan some selaku koordinator Komunitas Nol Sampah Surabaya kepada Jawa Pos.Com pada tanggal 21 Februari 2018, menekankan pentingnya peran pemerintah dan produsen kemasan plastik sesuai dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Kemudian dipertegas dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Lebih lanjut wawan some menambahkan

“Di PP tersebut tertulis bahwa produsen harus memakai kemasan yang bisa didaur ulang. Nah, di peringatan HSPN ini kami ingin mengingatkan kembali tanggung jawab produsen. Termasuk juga pemerintah,” tukasnya

Komunitas Nol Sampah juga berupaya untuk membantu mewujudkan gerakan bebas sampah pada 2020. “Sebenarnya itu pencanangan dari pemerintah. Tapi jujur saja, tidak banyak yang dilakukan pemerintah,” lanjut pria yang akrab disapa Wawan Some.

Dari data yang dikantongi Komunitas Nol Sampah Surabaya, jumlah sampah plastik dari tahun ke tahun terus meningkat. Dari 67 juta ton sampah yang dihasilkan pendudukan Indonesia per tahun, 5,4 juta ton di antaranya adalah plastik.

Sumber sampah plastik beragam. Namun satu fakta menyebutkan sekitar 43,4% dari plastik di Indonesia dipergunakan sebagai kemasan. Fakta lain yang didapat adalah setiap orang di Indonesia membuang 700 kantong plastik per tahun. Satu fakta lagi, konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) terus meningkat 10 persen per tahun.

Indonesia berada di peringkat kedua setelah Tiongkok sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia. Jumlahnya sebanyak 3,2 juta ton. “Sampah plastik tersebut terbukti berdampak buruk bagi biota di laut. Di Pantai Timur Surabaya, ribuan anak mangrove yang kami tanam mati terlilit sampah plastik,” terang Wawan.

Wawan berharap kepada pemerintah dan produsen agar lebih peduli dengan pengolahan sampah plastik. Pemerintah harus segera membuat peraturan pelaksana yang tegas tentang pengurangan sampah plastik. “Pembatasan pemakaian tas kresek atau kantong plastik berbayar sebenarnya cukup efektif,” klaim Wawan.

Untuk produsen, Wawan meminta agar mereka harus bertanggung jawab atas kemasannya. Caranya dengan mengganti kemasan dengan bahan yang bisa didaur ulang. “Kami juga mengajak masyarakat untuk mengubah gaya hidup. Caranya, bawa tas yang bisa dipakai berulang kali, bawa botol minum sendiri, bawa tempat makan sendiri,” saran Wawan.

Maka dari itu ada beberapa hal yang kiranya perlu di lakukan agar semangat kegiatan seperti ini, senantiasa tertanam di jiwa para pelajar surabaya demi terwujudnya surabaya yang bersih,nyaman dan bebas sampah, antara lain:

Pertama. Ada Komitmen ( semisal dalam bentuk pakta integritas) yang dari seluruh stakeholder, warga dan pelaku usaha untuk turut serta proaktif menjaga dan mengendalikan sampah yang dihasilkan

Kedua. Tindak lanjut dalam bentuk punisment dan reward kepada stakeholder, warga dan pelaku usaha yang untuk turut serta proaktif menjaga dan mengendalikan sampah yang dihasilkan

Ketiga. Titik Area yang dibersihkan ditambah dan peserta Bersih bersih diperluas tidak hanya dari kalangan pelajar, namun juga mahasiswa

Keempat. setiap warga surabaya berhak dan berkewajiban untuk berperan serta dalam mengkontrol sampah yang dihasilkan melalui Rukun Tetangga ( RT) dan Rukun Warga ( RW)

Semoga ikhtiar kita ini mampu mewujudkan surabaya yang sehat dan bersih dari sampah.

*Guru di SMP Negeri 16 Surabaya dan pecinta lingkungan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here